
Sudah banyak rencana yang ia susun ketika nanti mereka sudah sampai di negara itu. Semoga tidak ada halangan saat mereka berbulan madu kali ini. Semoga saja, Aamiin.
...***...
Sementara itu Zi sudah sampai di sekolahnya, ia pun berpamitan pada Yo dan segera masuk ke kelasnya. Setelah melihat Yo masuk ke dalam kelas, ia pun segera berlalu dari sekolah Zi menuju kantornya.
Di kelas Zi.
"Morning Zi ..." sapa Sharen pada idolanya yang sudah datang.
"Morning ..." jawab Zi ketus.
Tapi seberapa ketus dan cuek sikap Zi pada Sharen tidak akan mengubah rasa ketertarikan Sharen padanya. Sejak pertemuan pertama dengannya, ia sudah menaruh hati pada Zi.
Sedangkan Zi sangat tidak nyaman dengan sikap Sharen yang terlalu berlebihan padanya. Zi tidak mau cinta-cintaan sebelum waktunya.
Apalagi sikap Sharen terlalu kentara untuk memancing perhatian dari Zi. Mungkin sikap centilnya menurun dari tantenya yang selalu mengejar Daddynya.
Ya sebelum menikah dengan ibunya, Zi sudah tau sepak terjang tante Sharen yang selalu menggoda Daddy-nya dari pamannya Yo. Jadi ia sedikit paham tentang sikap Sharen yang seperti itu.
"Hmm, tumben dia balas sapaanku, apakah dia mulai mengakui kehadiranku," batin Sharen dengan berbunga-bunga.
Di lain sisi, Zi kembali fokus pada buku baru yang dibelinya kemarin. Zi mulai membuka buku tersebut dan mulai membacanya. Daripada disuruh ngobrol yang tidak jelas, lebih baik ia membaca buku, setidaknya ia bisa mendapatkan ilmu baru dari sana.
...***...
Pagi itu Sheril sudah bersiap-siap untuk mengunjugi kekasihnya, siapa lagi kalau bukan Fadhil. Kemarin ia sudah pulang dari luar negeri, dan rencananya hari ini ia mau memberikan oleh-oleh yang spesial pada Fadhil.
Dengan baju sexy seperti biasanya dan lipstik merah menyala, ia pun bersiap menuju kantor Fadhil. Dari arah lain Yo pun dalam perjalanan ke kantornya.
Mulai hari ini ia akan menghandle dua perusahaan besar, karena kedua pemimpin perusahaan tersebut sedang berbulan madu. Jadi untuk repot-repotnya dialah yang menanggungnya.
Pagi itu ia sedikit terburu-buru masuk kantor. Dengan langkah cepat ia pun segera naik ke lantai tertinggi di perusahaan tersebut. Lantai dimana ia dan para petinggi perusahan memimpin perusahaan.
Dari sisi lain, Sheril pun sudah sampai di perusahaan tersebut. Dengan senyum merekah ia pun mulai menapaki satu persatu lantai perusahaan D'Corp.
Sesampainya disana, para karyawan pun menyapanya dengan ramah. Sheril makin bahagia dengan situasi ini. Ia pun makin bersemangat untuk menemui kekasihnya tersebut.
Ting ... bunyi lift yang menunjukkan ia telah sampai di lantai dimana kekasihnya berada. Ia pun segera menuju ruangan Fadhil.
Tanpa mengetuk ataupun permisi ia masuk ke ruangan itu. Dengan manja ia pun memberi salam pada orang yang duduk di kursi Fadhil.
"Pagi sayang, aku sudah pulang ..." ucapnya.
Kursi pun diputar, bukannya menampilkan kekasihnya tetapi malah yang duduk disana adalah musuh bebuyutannya.
"Ka-kau ... " ucap Sheril terbata dan kaget.
"Iya, ini aku ... kenapa?"
"K-kenapa kamu duduk disitu?"
"Ya karena aku memang sedang duduk disini, lalu apa salahku?"
"T-tapi kan itu kursi Kak Fadhil..."
"I-iya lalu?"
"Harusnya kamu duduk di ruanganmu bukan?"
"Bukan! kenapa? ga suka? sana protes kalau berani..."
"Haiz ... dasar bebek sawah, awas saja kau ..." bentaknya.
"Ga takut wek.. wek .. wek ..."
"Haiz ... cepat katakan dimana kak Fadhil sekarang!" ucapnya mulai sewot tidak karuan.
"Kamu bertanya padaku?" ucapnya enteng.
Sheril yang sudah sewot mulai menjejak-jejakkan kakinya di lantai.
"Cepat katakan atau ..."
"Atau apa sih? kamu ga lihat kerjaanku lagi banyak, kalau ga ada urusan sana pergi!"
Dalam hati Yo sangat senang mendapatkan hiburan pagi-pagi seperti ini. Lagi pula Sheril tidak tau kalau Fadhil sudah menikah. Setelah tau kenyataannya nanti entahlah apa yang akan terjadi. Begitulah kira-kira isi kepala Yo pagi itu.
"Ayolah kak Fadhil kemana?" rengek Sheril pada Yo.
"Kak Fadhil sedang honeymoon."
"A-apa ..." ucap Sheril tidak percaya.
"Maksud kamu bicara begitu apa? buat menakut-nakuti aku ya? dih kagak ngaruh banget ya."
"Dasar wanita tidak tau diri, makanya kalau liburan jangan kelamaan, akibatnya tu otak masih ketinggalan kan di negeri sono!"
"Haiz, bawa-bawa otak segala, emangnya gue oon apa?"
"Kalau ga oon apaan ulet bulu? dudul?"
Sheril makin menjejak-jejakkan kakinya di lantai, ucapan Yo bukannya mengobati rasa paniknya tetapi malah membuatnya semakin jengkel pagi itu. Ia pun duduk di sofa diruangan kerja Fadhil.
Di raihnya minuman botol air mineral yang sudah tersedia disana untuk meredakan rasa kering di tenggorokan. Akibat berdebat pagi-pagi, ia pun kehausan.
"Dasar wanita aneh, kagak ada sopan santunnya dikit." Batin Yo.
Sheril yang merasa diperhatikan sejak tadi pun melengos pada Yo. Ditatapnya assisten Fadhil tersebut dengan tatapan setajam silet. Tapi yang namanya Yo acuh pada ulet bulu macam Sheril.
Karena merasa tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya tadi, ia pun berinisiatif untuk menghubungi no Fadhil. Tapi naasnya sejak tadi ia sudah mulai menghubunginya tapi nomornya di luar jangkauan sejak tadi.
"Kemana saja sih Kak Fadhil ini, pagi-pagi no-nya sudah 'ga aktif," gerutu Sheril yang masih bisa didengar oleh Yo.
Yo masih tersenyum dari balik tumpukan-tumpukan laporan kerja yang menumpuk di meja Fadhil. Karena menghubungi Fadhil semakin membuatnya jengkel, ia pun berniat pergi dari ruangan Fadhil.
Ia pun bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan Fadhil.
"Mau kemana ulet bulu?"
"Nama gue Sheril bukan ulet bulu, paham! ucap Sheril sesaat sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan itu.
"Iye, tapi yang pasti lu mau kemana?" tanya Yo seakan belum puas membuat mood Sheril menjadi buruk.
"Mau kemana bukan urusan elu kali, kepo amat jadi orang." Ucapnya angkuh.
"Kalau mau pergi, jangan lupa bawa hadiah lo balik dulu, lagian orangnya juga lama perginya, ga guna juga ni hadiah lama-lama di meja gue."
"Sapa tau besok basi kan? bisa dibuang office boy gue lah." Ucap Yo sengaja memancing agar Sheril kembali ke mejanya.
"Haiz dasar bebek sawah sialan, lu kira oleh-oleh gue makanan apa? pake bawa-bawa basi segala." Ucap Sheril tidak terima.
Ia pun berbalik ke meja Fadhil. Dan tentu saja Yo senang akan hal itu. Dengan langkah memburu, Sheril meraih paper bag yang berisi hadiah buat Fadhil.
"Daripada parfum mahal ini buat elu, mending gue bawa balik dan nunggu Kak Fadhil pulang!" ucapnya sembari melotot pada Yo.
Yo malah menahan senyumnya di depan Sheril, tentu saja Sheril makin marah akan hal itu. Pagi itu Yo sukses membuat mood hati Sheril hancur.
...~Bersambung~...
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...