
Karena ruang perawatan Nisa sempit, dan hanya diperbolehkan 2 orang saja untuk menjaga Nisa. Maka anggota keluarga yg lain pun segera pulang ke rumah.
Dan kini tinggallah 4 orang diruang perawatan Nisa. Kedua orangtua Nisa, Fadhil dan juga Dokter Richard.
"Ini sudah malam nak, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat," ucap Ayah Nisa pada Fadhil.
"Tak apa-apa om, kalau tante sama om mau istirahat biar saya yg menjaga Nisa. Ini sudah kewajiban saya dan amanat dari almarhum." Ucap Fadhil mantap.
Ayah Nisa pun mengajak Fadhil keluar ruangan dan hanya menyisakan Ibu Nisa didalam. Di luar ruangan ayah mengajak Fadhil untuk mengobrol. Obrolan tentang laki-laki dewasa sekaligus makan malam.
Di tengah suasana kantin rumah sakit.
"Nak, maaf jika bapak berasumsi terlalu cepat padamu. Apakah kamu mencintai putri bapak?"
"Uhuk, Fadhil pun tersedak minuman yg sedang ia minum."
Ia begitu kaget dengan pertanyaan ayah Nisa yg datang tiba-tiba, pasalnya mereka saat ini sedang di kantin rumah sakit. Tapi ia sadar cepet atau lambat semua orang akan tau tentang hal itu.
"Maaf, bapak terlalu tergesa-gesa ya menanyaimu hal tadi, ha ... ha ... ha, maafkan bapak."
"Hmmm, tidak apa-apa pak."
"Kamu tau sendiri sekarang bapak dan ibu sudah tidak muda lagi, kakak Nisa sudah memiliki kehidupan sendiri dengan keluarganya, lalu siapa yg akan menjaga Nisa. Sedangkan kamu melihat sendiri, ia begitu rapuh semenjak ditinggal suaminya. Padahal ada baby Zi yg masih membutuhkan kasih sayangnya."
Tak terasa ada sedikit air mata yg keluar dari pelupuk mata Ayah Nisa, saat mengucapkan hal itu pada Fadhil. Fadhil yg mengetahui hal itu merasa tak tega melihat orang tua Nisa bersedih seperti ini. Ia sadar betul posisi Nisa saat ini, karena ia juga seorang anak yg masih memiliki orang tua.
Ia juga gak akan bisa melihat kedua orangtuanya bersedih. Apalagi sampai saat ini ia belum bisa memenuhi keinginan mereka untuk memiliki menantu di usianya yg sudah matang ini. Tapi ia juga tak bisa egois untuk cepat-cepat menyatakan perasaannya pada Nisa. Apalagi ia belum habis masa idahnya.
"Lalu apa yg bisa saya bantu pak?"
"Bapak hanya minta bantuan kamu untuk menjaga Nisa selama bapak pulang, karena kemungkinan ibunya akan tinggal beberapa waktu disini sampai Nisa pulih."
"InsyaAllah pak, akan saya usahakan."
"Aku tau kamu orang baik nak, dan bapak yakin kamu bisa menjaga Nisa. Bukankah kamu juga atasan Nisa dikantornya?"
"I ... iya pak. Semoga saya bisa memenuhi amanah dari bapak."
"Kalau begitu aku percayakan Nisa kepadamu."
"Baik pak."
"Kalau begitu, bapak kesana dulu, siapa tau pesanan buat ibu sudah siap."
"Iya pak, silahkan."
Sesudah kepergian Ayah Nisa, Fadhil mulai memikirkan ucapan Ayah Nisa tersebut. Mungkin dengan begini kedekatan mereka akan lebih terjalin kembali. Lagi pula Nisa membutuhkan sesorang yg bisa menyembuhkan kondisi psikisnya.
Dan setelah ia selesai acara makannya, ia pun kembali menyusul ayah Nisa kedalam kamar perawatan Nisa. Di tengah perjalanan ia pun bertemu dengan dokter Richard.
"Hai bro, darimana?"
"Menemani ayah Nisa barusan sekalian mengisi cacing dalam perut bro."
"Ckckck ... ternyata kau bisa lapar juga."
"Tentulah, aku juga manusia bukan patung."
"Apa itu?"
"Nisa mengalami dehidrasi akut dan tekanan batin, aku takut dia semakin terpuruk kedalam imajinasinya sendiri dan tak akan pernah kembali lagi. Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Pulihkan kondisi Nisa dengan cintamu."
Mata Fadhil terbelalak tak percaya akan omongan Richard barusan, bagaimana ia bisa tau kalau ida sebenarnya mencintai Nisa. Tapi ia pun tak mau gegabah untuk mengakui perasaannya pada Richard.
"Maksud kamu?"
"Maksudku hanya kamu yg bisa mencintai Nisa. Andaikan aku belum bertunangan maka aku pun mau memiliki istri seperti Nisa."
Lalu tiba-tiba dari arah belakang ada sosok wanita cantik yg datang tiba-tiba dan menjewer daun telinga Richard.
"Aauwww ... sakit tau!" Ucap Richard yg tersulut emosinya karena ada yg menjewer daun telinganya.
Ia pun menoleh, dan seketika tersenyum manis pada wanita cantik itu.
"Apa kamu tadi bilang? mau menjadikan Nisa istrimu?" Tanya wanita cantik itu.
"Engga begitu baby, aku cuma bilang andaikan dan buktinya aku malah meminta dia yg menjadi suami Nisa kelak." Ucap Dokter Richard kemudian menunjuk ke arah Fadhil.
"Benar begitu?" Tanya wanita cantik bernada sinis ke arah Fadhil.
"Hmm, ya begitulah." Ucap Fadhil sedikit acuh.
"Tu kan baby denger sendiri, sekarang lepas dong jewerannya sakit tau, please ya, sebelum para partnerku melihat hal ini."
"Ok, aku percaya kamu sekali lagi saja, kalau kamu ingkar tau sendiri akibatnya." Ucapnya ketus.
Dan ahirnya mereka pun berpisah, Fadhil kembali menuju ruang perawatan Nisa, sedangkan dokter Richard dan tunangannya sudah pergi entah kemana.
Sesampainya di ruangan Nisa.
Ceklek
"Ga ada orang? kemana bapak dan ibu?" gumam Fadhil di tengah kesepiannya.
Ia pun mendekati Nisa, disentuhnya wajah Nisa dari dekat, dan dipandangilah ia sesaat.
"Andai kamu menerima cintaku dulu, mungkin hal seperti ini tak akan terjadi padamu Nisa, aku bahkan masih berjuang untukmu sampai saat ini. Cintaku bahkan masih sama seperti yg dulu." Ucapnya sembari menangis.
Nisa adalah wanita kedua dalam hidup Fadhil, wanita yg mampu mencuri perhatiannya sejak awal bertemu. Wanita yg mampu menyembuhkan segala luka masa lalunya. Tapi beberapa tahun lalu saat ia mendengar kabar Nisa akan menikah. Dunia seakan runtuh didepan matanya.
Cintanya belum terbalas, tapi takdir begitu kejam padanya. Sampai ia pun terpuruk dan mencoba bangkit dan disinilah kini ia berdiri, di dekat orang yg sangat ia cintai. Tapi tak pernah sedikitpun membalas rasa cintanya.
Masa lalunya mungkin adalah benang kusut yg belum terurai dan hampir putus, tapi kini takdir mereka mulai terurai semenjak kecelakaan yg menimpa Zein satu tahun yg lalu. Dan ketika baby Zi lahir ke dunia.
Kini harapan baru seolah berhembus dan membuka jalan untuk dirinya masuk. Meski nantinya dia akan menelan pil kekecewaan untuk kedua kalinya. Tapi ia akan tetap berusaha, ia tak akan mungkin membiarkan baby Zi dan Nisa hidup susah, ia akan berdiri disamping mereka sampai mereka mau menerima kehadirannya sebagai bagian dari keluarga kecil mereka.
"Nisa, ijinkan aku berjuang bersamamu, ijinkan aku menjadi bagian dari hidupmu, ijinkanlah aku menua bersamamu, Nisa ... aku sungguh mencintaimu."
Dibalik mata tertutup Nisa, Nisa sayup-sayup masih bisa mendengar suara dari Fadhil. Meskipun Nisa belum pulih kesadarannya, tapi ia bisa mendengar suara Fadhil dengan jelas. Ia juga masih enggan membuka kedua matanya, karena ia tau, kini tak ada lagi suaminya disisinya dan hatinya masih belum bisa menerima musibah kali ini.