
Sembari menunggu istrinya menyusui, ada telepon dari Yo. Ia memberi kabar kalau keluarga Fadhil dan Nisa sudah sampai di kota ini. Fadhil pun menyuruh mereka untuk menunggu di rumahnya. Kebetulan beberapa kamar sudah dibersihkan ketika ibunya tadi menelpon kalau mereka sudah berangkat dari desa.
Saat ia pulang ke rumah tadi malam, ia juga memberi tau kalau beberapa kamar dipersiapkan semaksimal mungkin. Karena keluarga besarnya sudah mau datang. Beberapa pelayan langsung merapikan rumah untuk keluarga besar majikannya. Bahkan Fadhil membawa beberapa pelayan dari rumah sang istri.
Beruntungnya ia tidak langsung ke rumah Nisa. Kalau tidak pasti ia akan bertemu dengan Fajar dan Zein. Beberapa pelayan juga sudah diberi tau oleh Mang Dede agar merahasiakan keberadaan mereka. Tentu saja semuanya menurut padanya karena sebelumya Nisa sudah memberikan perintah langsung pada mereka lewat sambungan telepon.
...⚜⚜⚜...
Di rumah Fadhil.
“Pak aku pengen segera bertemu mantuku boleh?”
“Sebentar to Bu, kita bersih-bersih dulu, masa iya mau ketemu cucu pertama kok kusem kucel, nanti bisa-bisa cucu kita sawanen.”
“Oalah iya juga ya Pak, ya sudah ibu mau bersih-bersih dulu.”
“Hu um.”
Sedangkan Zi yang baru saja bangun tidur kaget ada nenek dan kakeknya.
“Assalamu’alaikum nek, kek ...” sapanya pada kedua orangtua Fadhil.
“Wa’alaikumsalam sayang.”
Ketiga orang itu ahirnya saling berpelukan satu sama lain untuk melepas kerinduan mereka.
“Baru bangun ya sayang?” ucapnya lembut sambil membelai rambut Zi yang sudah beranjak anak-anak.
“Iya nek, nenek kakek baru saja datangkah?”
“Iya sayang.”
“Ya sudah kamu juga siap-siap untuk sekolah dulu ya, nenek sama kakek juga mau bersih-bersih dulu.”
“Iya nek.”
Lalu mereka sama-sama menyelesaikan aktivitas paginya, baru sesudahnya mereka berkumpul di meja makan. Baru saja mereka mau menyantap sarapan pagi mereka, kedua orangtua Nisa baru saja sampai di pelataran rumah.
“Sepertinya besan baru datang Pak.”
“Sepertinya begitu Bu.”
“Ya sudah ibu liat dulu ke depan.”
“Iya.”
Lalu Ibu Fadhil berjalan ke arah depan, dibukanya pintu utama itu lalu muncullah besan mereka. Senyum merekah terbit di bibir mereka. Setelah mengucap salam, mereka lalu diajak untuk sarapan bersama.
Mobil yang mengantar mereka juga sudah terparkir. Lalu sang driver menunggu di samping rumah. Pelayan yang berada di rumah itu memberikan sarapan padanya dan tempat beristirahat sementara disebuah gazebo yang berada di samping rumah.
Padahal Fadhil sudah menyiapkan segalanya termasuk kamar tidur untuk sang driver dari pihak keluarganya ataupun keluarga Nisa.
...
Setelah sarapan, Zi berpamitan pada kedua pasang nenek dan kakeknya itu untuk berangkat sekolah. Kepala pelayan sudah menelpon Fadhil agar segera pulang. Tetapi karena ia tidak bisa meninggalkan istrinya, lebih tepatnya ia takut terjadi apa-apa pada istri dan anaknya.
Lagipula baru beberapa jam yang tadi, istrinya baru saja melahirkan.
Di rumah Fadhil, kedua pasang nenek dan kakek itu bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit untuk menjemput Nisa dan bayinya. Beberapa waktu yang lalu, Fadhil memberitahukan kalau nanti sore Nisa dan bayinya sudah bisa dibawa pulang.
Alhamdulillah bayi Nisa sangatlah sehat apalagi kondisi Nisa sudah cukup pulih dan sehat. Jadi ibu dan bayi sudah bisa dibawa pulang segera.
Tetapi sebenarnya ia sangat ingin cepat pulang karena Nisa membenci bau obat-obatan dari rumah sakit. Lagipula rumah sakit tidak terlalu nyaman seperti di rumah sendiri.
Kehebohan pun terjadi ketika keluarga besar itu berkumpul. Semuanya sangat bahagia dan antusias menyambut kedatangan keluarga baru. Apalagi mata Aaron yang hitam pekat dan wajahnya yang bulat dengan pipi gembul semakin membuat gemas siapa saja yang melihatnya.
"Mirip siapa kamu bocah ganteng?"
"Ya mirip ayah ibunya to Bu-ne."
"Hush diem, lawong bayinya lo anteng-anteng wae kok pean sek ribut to Pak."
"Halah.. sakarepmu pak."
Lalu terjadilah gelak tawa di ruangan Nisa karena polah tingkah kedua orangtua Fadhil. Bahasa jawa kental yang mereka gunakan terkadang terdengar menghibur mereka. Beruntungnya meskipun mereka sudah lama tinggal di ibu kota, tetapi mereka masih bisa menggunakan bahasa daerah mereka.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Australi...
"Apa kamu serius dengan orang Indonesia itu?" tanya ayah Alexa.
"Tentu saja ayah? kenapa?"
"Ayah hanya ingin memastikan agar kamu tidak salah memilih pasangan hidup."
"Terimakasih ayah untuk kepercayaannya."
"Sama-sama sayangku."
Ia pun membelai lembut kepala putri satu-satunya itu. Bagaimanapun kebahagiaan sang putri haruslah terjamin. Terlebih dia putri satu-satunya, karena bagi seorang ayah, seorang anak perempuan bagaikan berlian yang harus dijaga dan tak boleh tergores sedikitpun.
Tanggung jawab yang besar selalu berada di pundak seorang ayah jika ia memiliki seorang putri.
...⚜⚜⚜...
Salah satu peran ayah menurut Islam untuk anak perempuan adalah menjadi panutan yang memiliki kasih sayang. Ayah dan ibu memang memiliki peran penting masing-masih dalam tumbuh kembang anak-anaknya.
Bila ayah menunjukkan dunia, ibu akan memberikan cara bagaimana untuk hidup di dunia. Jika ibu tampil dengan sosok lembut, ayah biasanya akan tampak memiliki karakter yang bijaksana dan penyayang.
Dalam Islam, ayah memiliki peran khusus untuk anak perempuan. Di sinilah perlu kedekatan spiritual, emosi, dan juga fisik dengan seorang ayah.
Idealnya, ayah selalu dekat dengan anak perempuan sehingga anak merasa aman, nyaman, dan bisa berkomunikasi dengan harmonis. Seorang gadis akan terarah kehidupan akhirat dan dunianya ketika ayahnya selalu dekat hatinya.
Hal yang terpenting yang harus diperhatikan ayah terhadap putrinya adalah memenuhi kebutuhan emosionalnya dengan cara mencurahkan kasih sayang dan perhatian, agar dirinya tidak merasa kebutuhan yang satu ini tidak terpenuhi.
Ini menjadi unsur utama dalam mendidik anak, terutama anak perempuan, karena sensitivitas dan sentimental memang sudah menjadi tabiat anak perempuan.
Seorang ayah juga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk corak dan warna anak di masa depan. Anak perempuan yang terbiasa dekat dan akrab dengan ayahnya, insyaa Allah ia akan mudah diarahkan ayahnya, memiliki rasa percaya dan kepribadian positif, tidak mudah stres/frustrasi, bertanggung jawab dan optimis.
Ayah Alexa memang bukan seorang muslim, tetapi ia begitu mencintai budaya dan tradisi muslim. Ia juga merasa beruntung ketika putrinya menemukan jodohnya orang muslim.
Semoga saja putrinya akan mendapati kebahagiaan dunia dan ahirat nanti. Aamiin.
.
.
Semoga saja Yo dan Alexa benar-benar berjodoh sehingga mereka bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah .. aamiin.
Bantu doa ya readers kesayangan Fany 😘.. Assalamu'alaikum