After Married

After Married
SUASANA BARU DI KANTOR



Sesudahnya ia pun menuju kamarnya untuk beristirahat. Ia pun tak memberi tahu assisten pribadinya tentang hal yang terjadi barusan. Karena hari memang sudah sangat larut dan ia pun sudah sangat lelah. Tidak butuh waktu yang lama, 10 menit kemudian ia sudah tertidur.


πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ


Keesokan harinya.


Kring ... kring ... kring ...


Bunyi alarm pagi sudah membangunkan sang pemilik rumah. Ia pun segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lupa sesudah mandi ia sudah mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah sholat subuh. Sesudah itu ia pun segera berganti pakaian kerja lengkap.


"Sip, perfect!" ucapnya sesudah merapikan dasinya di cermin.


Dan Fadhil pun segera turun ke lantai satu dan disana sudah assisten Yo yang menunggunya untuk sarapan pagi.


"Pagi kak? bagaimana tidurmu?" sapa Yo.


"Alhamdulillah nyenyak, bagaimana denganmu?"


"Alhamdulillah sama, he he he ..."


Dan tanpa mengobrol panjang ahirnya mereka pun segera menyelesaikan sarapan mereka dan menuju kantor.


Assisten Yo sudah terbiasa menjadi sopir pribadi Fadhil sekaligus tangan kanannya. Pagi ini mereka juga ada rapat, jadi mereka berangkat lebih pagi.


...***...


πŸƒSementara itu di RS Internasional


"Ayah? kenapa aku ada disini?"


"Entahlah ada orang baik yang menolongmu semalam, tapi tak ada jejak yang ia tinggalkan."


"Sudahlah, kalau kamu sudah merasa baikan, nanti sore kita pulang!" imbuhnya kembali.


"Terimakasih ayah," ucapnya senang.


"Jangan senang terlebih dahulu, ada hal yang harus kamu lakukan saat ini, segeralah pulih dan kota akan segera pulang."


"Ba-baik ayah."


Lalu sang ayah pun segera meninggalkan kamar putrinya. Sedangkan sang putri kembali cemberut dan cenderung menggerutu.


"Dasar, ayah sama sekali tak berubah. Benar kata bibi, aku memang tidak ada harganya dimata ayah."


Sedangkan di balik pintu, sang ayah masih berdiri disitu. Mendengarkan setiap ucapan sang anak.


"Kamu tidak tau, ayah sangat menyayangimu melebihi apapun."


Setitik air mata pun jatuh luruh dikedua pipi orangtua itu. Tak lupa sebelum pergi ia sudah menghapus air matanya tersebut. Dan ia pun segera meninggalkan kamar rawat putrinya.


Dibelakang orang tua itu, sang assisten dengan setia mengikutinya.


"Tuan, pagi ini ada rapat dengan perusahan D'Corp kita tidak boleh terlambat, karena CEO yang baru tidak suka bila ada rekan bisnisnya yang terlambat dalam agenda rapat kerja mereka."


"Baiklah, kita langsung menuju perusahaan D'Corp, untuk putriku kamu urus saja nanti setelah rapat."


"Baik tuan."


Lalu kedua orang itu segera menuju perusahaan D'Corp.


...***...


πŸƒDi tempat lain.


"Hallo, selamat pagi," ucap Nisa.


"Pagi Nisa? ini aku, apa kamu sudah dalam perjalanan ke kantor?" tanya Fadhil.


"Sudah, kenapa?" tanyanya kembali sambil menyetir.


"Aku akan menjemputmu di lobby." Ucapnya senang.


"Ti-tidak usah kak."


"Ayolah, aku tak mau kamu tersesat disini."


"Baiklah kak, terserah kakak saja."


Lalu ia pun menaruh kembali Hp-nya di laci dashboard.


Sementara itu di perusahaan D'Corp, tepatnya di ruangan CEO.


Fadhil pun menoleh pada Yo sesaat sesudah ia menaruh HP-nya.


"Bagaimana penampilanku Yo?"


"Perfect kak."


"Ok, aku akan turun ke lobby untuk menjemput Nisa."


"Apa itu tidak akan apa-apa? apa tidak sebaiknya aku saja yang menjemput kak Nisa?"


"Memang kenapa?"


"Huft, kakak itu lupa ingatan ya? kakak seorang CEO sekarang, masa lupa?"


"Lalu apa masalahnya?" tanya Fadhil bingung.


"Tentu saja bermasalah kak, masa seorang CEO menjemput wanitanya di lobby? seharusnya ia menunggunya di ruangan rapat saja atau lebih baik di ruangan ini." Terang Yo panjang lebar pada atasannya.


"Terserah deh, lakukan apa yang menurutmu terbaik."


"Iya bawel."


Begitulah terkadang sikap Fadhil dan Yo sering mengingatkan satu sama lain dalam bersikap, apalagi Fadhil yang notabene masih baru menjadi CEO, sering menjadi incaran teman-teman bisnisnya untuk mencari celah kekurangan yang ada pada diri Fadhil.


Oleh karena itu, Yo yang sdah cukup lumayan pengetahuan sering menjaga sikap kakaknya tersebut, terutama sikap tegas seorang CEO.


...***...


Ting.


Assisten Yo sudah menunggu Nisa di lobby kantor sejak sepuluh menit yang lalu. Dan kini muncullah Nisa didepan Yo.


"Pagi kak, silahkan ikut saya ke ruangan dapat diatas."


"Pagi Yo, terimakasih."


Lalu mereka berjalan beriringan menuju ruangan rapat dilantai lima belas. Di dalam lift mereka sempat berbicang-bincang. Lalu sesudah sampai di ruangan rapat, ia pun dipersilahkan untuk masuk kesana. Dan assisten Yo kembali ke ruangan CEO untuk menjemput Fadhil.


Di dalam ruangan Fadhil, ia sudah mengamati gerak-gerik Nisa sedari sejak berada di lobby sampai ke ruangan rapat. Ia mengamati setiap inci mulai dari wajah Nisa sampai penampilannya pagi itu. Entah kenapa rasa yang pernah ada dalam diri Fadhil kembali menyeruak dan semakin dalam.


Tok


Tok


Tok


"Permisi kak."


"Masuk Yo."


"Bagaimana penampilan Nisa?" tanya Fadhil antusias.


"Ga usah pura-pura deh kak, kan kakak sudah melihat melalui rekaman CCTV."


"Ha ha ha ... tentu saja, tapi aku kan hanya ingin tau saja pendapatmu? apa salah?"


"Jelas saja salah, masih nanya."


Dan sesudah itu mereka pun segera menuju ruangan rapat. Di ruang rapat semua anggota pemegang saham dan petinggi perusahaan sudah datang. Dan para kepala tender pun mulai mempresentasikan proyek mereka satu persatu


Empat puluh lima menit kemudian rapat selesai. Dan semua berjalan lancar. Lalu Nisa pun diajak Fadhil menuju ruangannya. Tepatnya ruangan CEO.


"Selamat datang Nisa," ucapnya pada Nisa setelah sampai di ruangannya.


"Terimakasih kak."


"Mau minum apa?"


"Teh saja kak."


Lalu ia pun segera menelpon bagian dapur untuk mengantarkan minuman pesanan Nisa. Dan mereka pun kembali mengobrol sambil sesekali bercanda untuk mengurangi kecanggungan mereka.


"Oh ya, bagaimana kalau weekend ini kita aja Zi jalan-jalan ke pantai?"


"Boleh kak, asal tidak mengganggu kakak aku tidak keberatan kok."


"Oke tapi aku ajak Yo, biar dia sekalian refreshing kasihan kalau dia kebanyakan pekerjaan kantor, bisa stress dia."


"Ha ha ha ... kakak bisa saja." Ucap Nisa sambil terkekeh.


"Tentu kamu tau sendiri sikap dia kan?"


"I-iya kakak, Nisa nurut kok."


"Nah gitu dong, betewe jangan panggil kak kalau dikantor, panggil mas saja gimana?"


"Duh, uda kebiasaan si, terus mau gimana lagi?"


"Ya dibiasakan dong."


"Aku usahakan, dan tentu saja kalau aku tidak lupa ya?" canda Nisa pada Fadhil.


Justru sikap Nisa yang tetap apa adanya inilah yang selalu dirindukan dan membuatnya istimewa dihati Fadhil.


BERSAMBUNG~


.


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAKπŸ™πŸ˜Š...