After Married

After Married
KEJUTAN



"Ternyata kondisimu sangat memprihatinkan Nisa?" ucap dokter Richard setelah memeriksa Nisa.


"Apa..." ucap Fadhil sembari mencengkeram kerah baju dokter Richard.


"Sabar Bro, denger dulu kata-kataku." Ucapnya menahan tawa karena melihat respon dari suami Nisa.


"Mas, sabar, biarin dia bicara dulu."


Fadhil pun melepaskan cengkeramannya dari leher dokter Richard. Dan dia mulai menjelaskan maksud dari perkataannya barusan.


Dokter Richard pun merapikan bajunya lalu mulai menjelaskan dengan menahan senyumannya.


"Ternyata sikapnya lebih parah dari Zein." Batinnya.


"Begini, kayaknya istri kamu sedang berbadan dua."


"Apa itu berbadan dua?" tanya Fadhil kebingungan.


Nisa mengisyaratkan agar dokter Richard diam dan membiarkan dirinya yang menjelaskan pada suaminya sendiri. Karena Nisa lebih tau sifat sang suami yang sangat protektif.


"Mas liat aku deh..." Pinta Nisa dengan manja.


Sedangkan dokter Richard pura-pura untuk tak melihat interaksi pasangan pengantin baru itu. Ia menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel.


Fadhil pun mendekati Nisa dan duduk disebelahnya. Nisa lalu menggenggam tangan suaminya dan berbisik, " Itu artinya aku hamil mas." Ucapnya dengan berbinar dan sorot mata penuh kebahagiaan.


Fadhil menoleh tak percaya, antara senang dan terharu bercampur aduk menjadi satu. Dengan segera ia memeluk Nisa. Ia pun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat itu. Rasanya sangat luar biasa dan sangat menyenangkan.


Ia pun menoleh pada dokter Richard, "Kamu engga bohong kan dokter Richard?"


Dokter Richard memandang Fadhil dan Nisa secara bergantian. Dan ia pun mengangguk tanda ia membenarkan perkataan Nisa.


"Untuk memastikannya kamu nanti datang saja ke dokter OBGYN di rumah sakit tempatku bertugas, untuk memastikan keadaannya oke? karena ini bukan bidangku aku tidak berani menyimpulkan terlebih dulu."


"Oke." Jawab Fadhil.


"Baiklah, terimakasih ya dokter." Ucap Nisa.


"Sama-sama."


"Kalau tidak ada urusan lagi, aku permisi dulu ya." Pamitnya pada Nisa dan Fadhil.


"Terimakasih dokter, maaf mengganggu jam kerjamu." Ucap Nisa ramah sambil tersenyum.


"Sama-sama Nisa."


"Salam buat istrimu tercinta."


"Iya, terimaksih Nisa."


Lalu dokter Richard pun permisi dan keluar dari kamar Nisa. Ia pun segera meninggalkan kediaman Nisa dan Fadhil untuk kembali bertugas di rumah sakitnya.


Sedangkan Nisa langsung mendapat pelototan tajam dari suaminya sesudah dokter Richard keluar dari kamarnya. Tapi Nisa acuh dan hanya membalasnya dengan kedipan mata ke arah suaminya.


Sebenarnya ia ingin marah pada Nisa, tetapi ia lebih meredam egonya karena hari ini merupakan hari bersejarah baginya.


Fadhil pun mendekati Nisa.


"Sayang ... terimakasih untuk kado terindahnya ini." Ucap Fadhil dengan manja sembari memeluk tubuh istrinya tersebut.


Nisa menikmati pelukan dan belaian lembut tangan suaminya tetapi itu tidak berlangsung lama. Sesaat kemudian perut Nisa kembali terasa mual. Ia pun ingin muntah saat itu juga. Dan benar saja sesaat kemudian ia sudah berlari ke kamar mandi.


Fadhil panik dan ingin mengejar tapi ia pun juga bingung dan masih duduk di atas tempat tidur. Kemudian terdengar suara istrinya muntah-muntah.


Hoek ... hoek ... hoek ...


Fadhil pun ikutan panik saat itu juga. Dan tanpa ia sadari ia pun menyusul istrinya untuk pergi ke kamar mandi.


"Kamu tidak apa-apakah sayang? mana yang sakit?" tanyanya saat sampai disisi Nisa.


"Mas jangan mendekat please... aku mual mencium kamu ... hmm... hoek... hoek ..."


Fadhil makin bingung dengan tingkah Nisa.


"Ada apa denganmu sayang, biasanya aku mendekat kamu tidak apa-apa." Ucapnya sambil sedikit menjauh.


Karena Fadhil sadar ada sang jabang bayi di dalam perut istrinya, ia pun memilih untuk memanggil assisten rumah tangganya untuk membantu istrinya.


"Mbok ... mbok ... tolong kesini sebentar." Panggilnya pada assisten rumah tangganya.


Karena mendengar panggilan tuannya, ia pun segera naik ke lantai dua dan segara masuk ke kamar Nisa.


"Ada apa den?" tanyanya panik.


"Kesini mbok, tolong bantu Nisa ke tempat tidur." Pinta Fadhil.


"Anu ... itu mbok, dia kalau deket aku pasti mual lagi nanti."


"Loh memangnya nyonya kenapa?"


"Sudah mbok, ga usah aku bisa sendiri." Tolak Nisa yang semakin pusing mendengar perdebatan suami dan assisten rumah tangganya itu.


Tetapi Fadhil tetap memberi kode agar Mbok Ijah tetap membantu istrinya. Untungnya Mbok Ijah paham dan segera membantu memapah Nisa menuju tempat tidur.


"Sini Nyonya, biar saya bantu. Pasti sangat lemas sekali rasanya."


Ahirnya Mbok Ijah paham dengan kondisi Nisa, kemungkinan istri majikannya itu sedang hamil, terbukti baru saja memanggil seorang dokter untuk datang ke rumah. Apalagi sedari pagi dia sudah muntah-muntah terus.


Lalu ia pun memapah istri majikannya itu dengan perlahan. Sedangkan Fadhil masih diam memaku dari depan pintu kamar mandi mengawasi istrinya dari kejauhan.


Setelah sampai di tempat tidur, Fadhil meminta satu lagi pada Mbok Ijah.


"Mbok sekalian minta tolong siapin air teh hangat ya mbok sama cemilan kesukaan Nisa."


"Baik den, kalau begitu saya permisi dulu."


Setelah kepergian Mbok Ijah, Fadhil belum berani mendekati Nisa.


"Kenapa kamu diam disitu mas? ga mau dekat akukah?"


"Hah... emang kamu udah 'ga mual lagi sayang dekat aku?" tanya Fadhil dengan rasa was-was.


Ia begitu takut menyakiti istri dan calon anaknya itu. Nisa tersenyum dan menggeleng.


"Kayaknya sudah engga mas, kesini dong ..." pintanya.


"Alhamdulillah..." ucapnya senang sembari mengelus-elus dadanya.


Dengan perlahan Fadhil pun mulai mendekati Nisa, dan naasnya baru lima langkah Nisa sudah merasa mual lagi.


"Stop..." ucap Nisa mengisyaratkan agar suaminya tidak jadi mendekatinya.


Perkataan Nisa barusan sontak mengubah raut wajah Fadhil yang semula bahagia menjadi murung kembali. Dan seketika itu Fadhil mempunyai ide. Ia pun mengambil masker dari dalam laci meja rias Nisa.


Nisa pun tersenyum melihat tingkah Fadhil barusan. Fadhil pun berinisiatif untuk memberikan masker itu pada Nisa agar ia bisa mendekati istrinya tersebut.


Kebetulan Mbok Ijah sudah sampai di kamar Fadhil kembali. Ia pun dihadang Fadhil di depan pintu kamar.


"Ada apa den?" tanya Mbok Ijah kaget.


"Tolong kasih ke Nisa, agar aku bisa mendekat istri dan calon anakku mbok."


"Alhamdulillah ahirnya rumah ini sebentar lagi akan diwarnai dengan kehadiran anak den Fadhil dan Nisa. Alhamdulillah." Ucap Mbok Ijah dalam hatinya.


"Kok bengong mbok?" tanya Fadhil yang melihat assiten rumah tangganya terdiam.


"Ga apa-apa den, saya turut bahagia mendengarnya, sini biar saya kasihkan nyonya." Ucap Mbok Ijah turut berbahagia.


Lalu Mbok Ijah pun mendekati Nisa dan menyerahkan segelas teh hangat dan cemilan berserta masker pemberian dari Fadhil.


"Mbok turut berbahagia nyonya.."


"Terimakasih mbok."


...~Bersambung~...


.


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...