After Married

After Married
HANYA KAU PUJAAN HATIKU



Ahirnya masakan yang dimasak oleh Fadhil telah matang. Dua potong roti bakar plus salad buah segar sudah tertata rapi diatas nampan. Lalu ia pun segera membuat dua gelas jus stroberi kesukaan Nisa.


Setelah semuanya siap, ia pun bergegas untuk naik ke lantai atas, tempat dimana ia dan istrinya tidur. Saat ia sampai di kamar itu, ternyata Nisa masih belum selesai mandi. Suara gemericik air masih terdengar di kamar itu.


Satu nampan berisi makanan itu ia taruh di atas nakas. Lalu ia menuju walk in closed untuk memilihkan baju untuk istrinya itu.


.


.


Sementara itu Zein sedang menikmati sarapan paginya di halaman belakang. Di tempat itu ia bisa memandang sebuah taman bermain kecil yang ada ayunan serta beberapa bunga yang pernah ditanam Nisa. Lambat laun, beberapa ingatannya tentang Nisa sudah berhasil kembali.


Tetapi ia tak membaginya pada siapapun. Zein menyimpan erat memorinya itu. Tetapi tak dapat ia pungkiri ada sedikit rasa cemburu yang menghinggapinya ketika semalam, secara langsung Fadhil memberikan perhatiannya secara terang-terangan di depannya.


Ada sedikit rasa sesak ketika melihat hal itu secara langsung. Beberapa memory saat awal-awal pernikahan dengan Nisa kembali menyeruak di dalam kepalanya.


Kenangan saat mereka berada di Paris, kenangan saat moment-moment morning sickness yang dialami Nisa. Hingga masih banyak lagi kenangan yang tiba-tiba muncul.


Tetapi kini ia hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Satu hal yang masih bisa ia miliki adalah putra kandungnya, Zi. Beberapa waktu Zi meminta untuk tinggal bersamanya, tetapi Nisa belum mengijinkan karena Zi masih ulangan semester.


Sehingga ia tidak boleh pergi sampai waktu ambil raport tiba. Baru sesudah itu ia boleh tinggal bersama Zein.


>>FLASH BACK ON


"Assalamu'alaikum papa Zein?"


"Wa'alaikumsalam sayang, hai apakabar junior papa?"


"Alhamdulillah baik pa, pa Zi kangen papa..." cicit Zi di seberang sana.


"Kalau kangen ya tinggal bilang sama papa, nanti papa jemput."


"Tapi mama belum kasih ijin ke Zi, pa?"


"Kenapa?"


"Karena sepuluh hari ini, Zi masih ada ulangan semester ganjil."


"Oh, begitu, berarti mama ingin kamu fokus belajar dulu sayang, nanti masa liburan kamu boleh main dan tinggal di rumah papa sepuas kamu."


"Beneran pa?"


"Iya dong sayang, mana mungkin papa bohong sama kamu."


"Yeay, alhamdulillah... makasih papa, Zi sayang banget sama papa Zein."


"Miss you my boy."


Lalu setelah beberapa waktu, ahirnya sambungan telepon mereka terhenti. Sehingga Zein kembali fokus pada pekerjaannya.


>>FLASH BACK OFF


Terkadang hanya dengan mengingat hal-hal sepele tadi, Zein sudah merasakan hal yang luar biasa membanggakan untuknya. Apalagi jika impiannya bisa kembali terwujud pasti ia akan lebih bahagia saat itu.


Meski pada kenyataannya hanyalah Zi yang mungkin akan tinggal bersamanya, tetapi hal itu tak menyurutkan rasa kebahagiaannya.


"Tunggu papa kesana sayang, papa pasti akan datang untuk menjemput kamu," ucapnya dalam hati.


.


.


Sementara itu di rumah Nisa.


Setelah tiga puluh menit kemudian, ahirnya Nisa sudah keluar dari kamar mandi. Kini dirinya sudah bersiap untuk berganti pakaian di walk in closed.


Tetapi ternyata Fadhil bersembunyi di balik pintu dan mengagetkan Nisa.


"Baa ..."


"Astaghfirullah mas, ngagetin aja sih," ucap Nisa sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang.


"Ngapain mas kesini?"


"Ya buat nyiapin ini," ucapnya sambil menunjukkan sebuah baju dress panjang motif daun.


"Wah, bagus banget pilihan mas."


"Tentu dong, suami kamu gitu loh."


"Ya udah, terimakasih mas, permisi Nisa mau ganti pakaian dulu. Mas mandi dulu gih," usir Nisa secara halus pada suaminya itu.


"Iya sayang ni juga mau mandi, oh ya.. tungguin mas ya.. emmmuuaaachhh ..."


Setelah berhasil mencuri sebuah ciuman dari istrinya itu ia pun segera berlari ke kamar mandi.


Sedangkan Nisa semakin geleng-geleng pada tingkah suaminya tersebut.


.


.


...🌹Bersambung🌹...