After Married

After Married
IRONI KEHIDUPAN



Semburat jingga telah melukiskan keindahannya di ufuk barat. Arak-arakan awan menambah lukisan senja sore kala itu, terlihat semakin indah dan berkesan bagi setiap insan yang memandangnya.


Cahaya jingga-nya bahkan telah mengintip dari balik tirai ruang kerja Sheril. Membuat sang empunya menyadari jika saat ini sudah saatnya untuk beristirahat dan kembali ke rumah.


Sang penunjuk waktu telah berada di angka dua dan enam. Mungkin saja sebentar lagi adzan maghrib akan segera berkumandang.


Sheril segera merapikan meja kerjanya sebelum ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Beberapa karyawannya bahkan sudah lebih dulu pulang darinya.


Beberapa ruang yang ia lewati hanya tertinggal beberapa karyawan yang masih lembur. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu menunduk hormat.


Hingga sampailah ia di tempat parkir. Mobil merah kesayangannya pun telah menunggunya. Setelah semuanya ready , ia pun melajukan mobilnya menuju rumah.


.


.


Sementara itu, di apartemen Kenzo.


"Sir the food is ready."


(Tuan, sudah siap makanannya)


"Bring it here."


(Bawa kesini....)


"Oh yes sir, when are we going back to Los Angeles?"


(Oh ya Tuan, kapan kita balik ke LA?)


"As soon as possible, if Zivanna has accepted my marriage proposal."


(Secepatnya, jika Zivanna sudah menerima lamaran pernikahan dariku)


Jack hanya menghembuskan nafasnya secara kasar lalu pergi meninggalkan tuannya yang sedang bucin parah.


Sementara itu, Zivanna masih asyik dengan pekerjaan kantor yang ia bawa pulang ke rumah.


Tok ... tok ... tok ...


"Zi ... ini papa ..."


Zivanna dengan segera merapikan berkas-berkas di depannya.


"Masuk pa..."


Ceklek...


"Masih banyak kerjaannya?"


"Masih pa, besok pagi Zi harus presentasi proyek dengan perusahaan dari LA bukan?"


"Iya, tapi kamu jangan lupa makan, biar makanannya bibik antar kesini saja ya?"


"Eh, gak usah deh, biar aku kesana saja."


Lalu Zivanna segera menggandeng lengan ayahnya menuju ruang makan. Beberapa hari ini mereka memang jarang makan bersama karena kesibukan Zivanna.


Ayahnya yang sudah mempercayakan dirinya untuk mengelola perusahaan lebih suka memonitor hal tersebut dari rumah. Lagi pula tubuhnya yang renta harus banyak beristirahat.


Beruntung Zivanna sudah lebih bertanggungjawab, sehingga ia bisa sedikit lebih tenang jika sewaktu-waktu ia dipanggil sang pemilik kehidupan.


.


.


Sementara itu Kenzo sedang menyusun dan memeriksa kembali berkas yang akan ia bawa besok saat meeting bersama Zivanna. Ia tersenyum ketika membayangkan bahwa besok mereka akan bertemu dalam bidang bisnis.


"Aku harap esok kau tak akan melemparkan map ke wajahku nanti jika kita bertemu," doa Kenzo dalam hati.


Maklum saja, jiwa bar-bar kekasihnya itu selalu muncul ketika mereka bertemu. Memang jika ia dengan orang lain akan terlihat sopan dan manis, tetapi ketika bertemu dengannya entah kenapa ia selalu apa adanya. Tetapi hal itulah yang membuat Kenzo makin jatuh cinta padanya.


Niat hati ingin mengingatkan bosnya perihal janjinya dengan temannya, tetapi ia tak berani masuk ke ruangan itu.


Apalagi ia hanya seorang bawahan, yang hanya menjalankan apa yang diperintahkan bos-nya tanpa bisa membantahnya sedikitpun. Karena terlalu sibuk dengan berkas-berkasnya ia pun lupa bahwa ia ada janji dengan Sheril.


Sedangkan Sheril sudah rela membatalkan janjinya bersama kekasihnya. Kini ia pun hanya bisa geleng-geleng ketika si bule tengil itu mengerjainya sekali lagi.


"Dasar Kenzo gi**, beraninya ngerjain gue untuk kedua kalinya!"


"Untung saja ia belum memesan apapun di restaurant itu."


Lalu ia pun segera beranjak menuju apartement kekasihnya. Daripada menunggu si bule gi** lebih baik ia merefresh pikirannya dengan berbagi cerita dengan kekasihnya.


KRING ... KRING ...


"Hallo sayang, bisa kita ketemu sekarang?"


"Loh, katanya kamu gak jadi kesini sayang?" ucap lelaki itu sambil menyingkirkan tangan seorang wanita panggilan dari tubuhnya.


"Hmm, si bule kamp*** itu ngerjain aku lagi sayang, aku bete!"


"Ya sudah, kamu dimana? biar aku menjemputmu."


"Hmm, aku bawa mobil kok, paling lima belas menit lagi aku sampai ke apartement kamu."


"Ha-ah!!" ucapnya panik.


"Oke, kalau begitu nanti kita masak bareng lagi yuk sayang, aku kangen masakan kamu."


"Di kulkas persediaan bahan makanan aman ga?"


"Bentar, kayaknya kosong deh, kamu belanja dulu gak apa-apa kan?"


"Hmm, oke aku mampir supermarket sebentar ya."


"Oke, makasih sayang, love you..."


"Love you too sayang."


Lalu di perempatan depan, Sheril memutar kemudinya untuk menuju supermarket terdekat.


Sementara itu di apartemen Leo. Wanita panggilan tadi pun diusir olehnya. Tak lupa ia pun memberikan bayaran yang sepadan untuknya.


"Untung kamu menelpon terlebih dulu sayang, kalau enggak bisa ketauan... wkwkwk..." gumam Leo sambil merapikan tempat tidurnya.


Beberapa bulan lalu, Leo sudah berubah. Ia bukan Leo seperti yang Sheril kenal dulu.


Hal ini terjadi akibat ia dijebak temannya saat mabuk, ia pun kini menjadi pecandu se* bebas. Tetapi ia bisa menyembunyikan hal itu dari Sheril, apalahi ia benar-benar mencintai gadis itu.


Karena tak mau kehilangan Sheril, ia pun bermain cantik di belakangnya.


Ia pun selalu mencari waktu yang tepat untuk menyalurkan hasratnya pada gadis-gadis panggilan, sehingga ia akan bebas berganti pada wanita mana yang ia suka.


Sebenarnya ia ingin kembali ke jalan yang benar, hanya saja entah kenapa gelora di dalam hatinya tidak bisa padam jika hanya menyalurkannya pada sabun di kamar mandi.


Semoga saja ia segera sembuh, karena bagaimanapun Sheril adalah wanita yang baik-baik saat ini.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


.


.


...Jangan lupa Like, komen dan favorit ya kak..terimakasih 🙏...