
Tampilan Zi saat itu pun terlihat rapi dan elegan. Ia memakai setelan jas seusai usianya, tetapi tetapi tetap berkesan formal. Selama pesta pernikahan Zi didampingi assisten Yo disisinya.
Pesta pernikahan hari itu berlangsung meriah dan penuh suka cita. Fadhil benar-benar bersyukur dengan pernikahan impiannya. Wanita pujaan hatinya kini telah resmi menjadi istrinya.
Semua yang hadir pun turut mendoakan untuk kebahagiaan untuk kedua mempelai. Setiap momen yang terjadi hari itu telah diabadikan dan akan terus menjadi momen terindah untuk Nisa, Zi dan Fadhil. Alhamdulillah serangkaian acara yang terjadi hari itu berjalan aman dan lancar.
...***...
Pesta resepsi hari itu berahir pukul sebelas malam. Setelah acara selesai, maka seluruh anggota keluarga beristirahat dan kembali ke rumah masing-masing.
Kedua orangtua Nisa, Fadhil dan mertua Nisa semuanya menginap di rumah Nisa. Sementara waktu mereka masih di rumah itu, karena jarak tempat resepsi dengan kediaman Nisa yang paling dekat.
...***...
Malam itu, kecanggungan pun terjadi dikamar pengantin. Kamar yang sudah dihias sedemikian rupa bukannya memberikan kehangatan malah semakin membuat kedua pengantin terdiam membisu.
Fadhil yang sebelum menikah selalu hangat dan romantis, mendadak terdiam dan dingin. Bukannya rasa cinta dan sayang untuk Nisa telah hilang. Tapi ia tak tau harus melakukan apa setelah Nisa menjadi istrinya.
Begitupun dengan Nisa, Fadhil yang masih ia anggap teman almarhum suaminya kini telah menjadi suaminya. Ia juga bingung bagaimana malam ini harus bersikap.
Nisa masih duduk didepan meja rias, sembari membuka bagian belakang gaunnya. Ia sedikit kesulitan untuk membukanya. Terlihat sedari tadi ia sibuk disana, tanpa bisa melepas retsleting gaunnya itu.
Dengan langkahnya, Fadhil pun mendekati Nisa. ia pun meminta ijin sebelum membantu Nisa. Ia takut tak bisa menahan diri ketika melihat tubuh Nisa. Meskipun sekarang Nisa sudah menjadi istrinya, tetapi ia tau di dalam hati Nisa masih mencintai mantan suaminya.
"Mm, sayang aku bantu buka ya?"
"I-iya mas."
Krekk sreettttttt ....
Ahirnya gaun Nisa pun bisa terbuka dan memudahkannya untuk berganti baju. Ia pun berdiri dan mencoba melepas gaunnya di depan Fadhil.
Gleg ... gleg ... gleg ...
Begitulah bunyi saat Fadhil berusaha menelan salivanya. Bagaimana tidak, kini ia bisa melihat tubuh Nisa, punggung dan tubuhnya benar-benar putih bersih, mulus. Ia benar-benar menjaga tubuhnya selama ini.
Meskipun tubuh Nisa masih dibalut pakaian dalam, tapi ia tidak pernah melihat tubuh istrinya sejauh ini. Sembari menahan hasratnya, Fadhil menutupi tubuh Nisa dengan mantel mandi.
"Kamu mandi dulu sayang, pasti hari ini kamu capek banget." Ucap Fadhil pada istrinya tersebut.
"Ia mas, makasih."
Lalu Nisa pun melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri terlebih dulu. Sedangkan Fadhil memungut gaun Nisa dan merapikannya di sudut kamar.
Sembari menunggu istrinya, ia pun melepas jas dan pakaiannya menggantinya dengan kaos oblong dan celana pendek.
Hawa panas yang tiba-tiba menerpanya ia hilangkan dengan meneguk air dingin dari kulkas yang berada di kamarnya.
Memang ini kamar Nisa, ia juga baru dua kali memasukinya. Dulu saat ia membantu memindahkan Zi saat ketiduran di kamar Nisa. Dan kali ini saat Nisa sudah resmi menjadi istrinya.
Ia belum hafal betul dengan kamar Nisa, tapi ia tau kalau ini kamar Nisa dan Zein jadi ia tidak mungkin melakukan malam pertama dengan Nisa di kamar ini.
Tentunya ia akan melakukannya di tempat spesial nanti, tempat yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari sebelum ia melamar Nisa.
Ceklek
Pintu kamar mandi Nisa terbuka, ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan suaminya. Tapi ia tak menemukan suaminya, hanya pintu ke arah balkon yang terbuka, mungkin suaminya sedang berada disana.
Nisa pun menyisir rambutnya yang masih basah dan merapikan pakaiannya. Lalu ia pun menyusul suaminya yang mungkin berada di balkon kamarnya.
Dan benar saja, ia melihat suaminya memandang langit sembari meminum sebuah minuman. Tunggu dulu, Nisa kaget saat melihat suaminya meneguk minuman jamu yang biasa ia minum saat ia datang bulan.
Ia lupa memindahkan minuman tersebut dari kulkas di kamarnya. Karena memang minuman tersebut ia siapkan di kamarnya karena memudahkannya saat kemarin ia datang bulan.
Memang saat datang bulan, kadang Nisa sering kram perut oleh karena itu ia meminimalisirnya dengan meminum jamu. Dan jamu itu ia taruh di kamarnya.
"Mas ..." sapanya saat ia berada disamping Fadhil.
"Astaghfirullah yang, bikin kaget aja," ucapnya sembari memegang dadanya, tapi naas minumannya terjatuh ke bawah.
"Tuh liat sampai minumanku terjatuh yang, tanggung jawab gih!" gerutu Fadhil saat itu
Fadhil pun menoleh ke arah Nisa yang tersenyum manis padanya. Ia pun jadi kikuk, karena saat itu ia bisa sedekat ini dengan Nisa. Apalagi Nisa terus tersenyum padanya.
Nisa masih menahan tawanya lalu bertanya pada suaminya.
"Mas, enak ya minumannnya?"
"Enak sayang, makanya aku betah meminumnya."
"Tapi itu jamu lo mas, buat aku."
"Hah, jamu apa? masa sih? kok enak gitu, emang jamu jaman sekarang bisa seenak itu kah?" tanyanya semakin penasaran.
"Ha ha ha, namanya juga jamu buat orang datang bulan, ya ga pait mas."
Gleg ... ia menelan salivanya dengan susah.
"Maaf ya sayang, aku ga tau."
"Ga apa-apa mas, lagian stoknya juga masih banyak kan?"
"Iya."
"Ya sudah sekarang mas mandi aja dulu, nanti aku siapkan teh hangat untuk mas."
Fadhil pun mengangguk dan meninggalkan Nisa menuju kamar mandi. Nisa hanya geleng-geleng melihat suaminya tersebut.
Karena hal itu, malam itu pun ia kembali mengingat almarhum suaminya. Karena jamu-jamu itu adalah bentuk kasih sayang suaminya saat mereka memulai kehidupan rumah tangganya dulu.
Zein yang tidak tega ketika melihat Nisa sering kram perut saat haid, membuat Zein memikirkan cara agar bisa membantu meringankan beban istrinya tersebut. Ia sampai mencari tau informasi kesana kemari dan ahirnya menemukan jamu itu cocok buat Nisa.
Lalu ia pun memesannya dari temannya yang membuat sendiri jamu itu. Ramuannya sebenernya simple, hanya parutan kunir dicampur sedikit madu. Tapi rasanya memang sudah pas. Bau langu dari kunir sudah tidak ada, hanya tinggal warna dan hasiatnya saja yang tersisa.
Sejak saat itu sampai sekarang, kalau sedang datang bulan Nisa akan mengkonsumsinya sehari satu kali. Dan alhamdulillah ia tidak pernah merasakan kram perut lagi.
...***...
Setelah mengingat masa lalunya, ia pun kembali ke dapur untuk membuat teh hangat untuk dirinya dan suaminya. Ya malam itu seluruh penghuni rumah sudah tertidur kecuali kedua pasangan pengantin tersebut.
...~Bersambung~...
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...