
............................
Ia pun melewatkan jam sarapannya dan segera menuju kantor. Karena memang pagi ini ada rapat penting di kantornya. Ini juga menyangkut reputasinya dalam bekerja. Karena selama ini ia telah berdedikasi penuh untuk perusahaan tempat ia bernaung.
Kalau proyek kali ini berhasil ia ambil alih, tentu saja kenaikan pangkat akan didapatkannya. Satu tahun ini Fadhil sudah bekerja keras demi menjadi orang yg sukses. Alasan terbesarnya adalah membuat orangtuanya bangga dan dapat menemukan Nisa-Nisa yg lain.
⚘ Nisa pov -
Setelah bayinya diambil suster dan dibawa ke ruangan bayi, dan Fadhil pun pergi entah kemana, sekarang dia benar-benar kesepian. Baru pertama kali melahirkan tapi seperti ini rasanya.
Saat ia berjuang antara hidup dan mati, tak ada orang yg dicintainya menemaninya. Bahkan yg menemaninya saat itu adalah orang-orang asing yg tidak sebegitu dekat dengannya.
Sebulir air mata pun jatuh tanpa permisi di kedua pipi Nisa. Ingin rasanya ia mengulang kembali saat-saat indah bersama suaminya, Zein.
Tapi saat ini, suaminya sedang terbaring lemah di salah satu sudut rumah sakit ini. Ia pun bingung bagaimana nanti ia menceritakan semuanya pada keluarga besarnya. Terutama pada keluarga Zein. Kalaupun ia harus jujur, semua hal ini hanya akan ia ceritakan pada ibu dan keluarganya sendiri.
Semua beban pikiran kini menghimpit Nisa. Ia sungguh bingung saat itu. Padahal orang habis melahirkan harus segera istirahat untuk mengembalikan kondisi tubuhnya. Tapi tidak dengan Nisa. Ia masih terjaga beberapa waktu, sampai suster masuk ke ruangan itu, dan meminta izin untuk memandikan Nisa. Namun Nisa menolak, ia mengatakan bahwa ia bisa sendiri.
Saat ia dan suster masih berdebat, dokter Richard datang.
Ceklek
"Dokter ?" ucap Nisa dan suster secara bersamaan.
"Hmm...." jawab dokter singkat.
"Maaf dokter, Ibu Nisa tidak mau saya bantu untuk membersihkan diri." Ucap suster itu terang-terangan.
"Bu ... bukan begitu dok, tapi aku bisa melakukannya sendiri." Bantah Nisa.
"Nis, aku mohon kamu menurut padaku kali ini. Aku ini dokter ... Nisa, sekaligus sahabat suami kamu, aku tau mana yg terbaik untuk pasien dalam tahap pemulihannya." Terang dokter Richard.
Nisa hanya tertunduk, ia paham akan apa yg dimaksud oleh dokter Richard. Hal yg sama pasti akan dilakukan suaminya jika ia berada di posisi yg sama dengan dokter Richard.
"Kalau kamu keberatan ia membantu saat mandi, biarkan dia menyiapkan segalanya dan memastikan kamu tidak apa-apa Nisa."
"Melahirkan adalah sebuah proses alami dan perjuangan hidup dan mati. Pasti membutuhkan tenaga yg extra. Maka dari itu air hangat akan membantu pemulihanmu, percayalah padaku."
"Karena aku yg menyuruh suster ini untuk menjagamu selama keluargamu belum datang."
Nisa mendongakkan wajahnya untuk melihat dokter Richard. Memang benar saat ini dirinya merasakan lelah yg amat sangat, ia butuh mandi dan istirahat. Maka tanpa berdebat lebih panjang lagi, ia pun menyetujui saran dokter Richard.
Suster dan dokter Richard pun akhirnya tersenyum lega. Suster pun segera menyiapkan segala keperluan Nisa di dalam kamar mandi. Sedangkan dokter Richard meminta ijin untuk meninggalkan Nisa sebentar untuk mengecek kondisi Zein.
Nisa pun menyetujuinya dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Setelah semua siap, dengan dibantu suster ia pun segera mandi.
Di tempat lain, dokter Richard segera memberi tahu kabar itu pada keluarga Zein.
⚘ Keluarga Zein
Kring
Kring
Kring
Bunyi telpon rumah pagi itu sudah memecah ketenangan di dalam rumah Zein.
"Assalamu'alaikum, hallo." Ucap adik Zein yg kebetulan ada di dekat telpon rumah.
Saat ia sedang menyapu, tiba-tiba telpon rumahnya berbunyi. Lalu ia pun segera mengangkat telpon.
"Wa'alaikumsalam, maaf apa benar ini keluarga Muhammad Zein?" tanya dokter Richard.
"Saya dokter Richard, teman sekaligus dokter yg pernah merawat Zein tahun lalu."
"Oh iya."
"Begini, saat ini Zein dan istrinya sedang dalam perawatan di Rumah Sakit Internasional tempat saya berkerja."
"Si ... siapa yg sakit?"
"Zein dan Nisa, Zein kemarin sore mengalami kecelakaan dijalan tol di kota J. Sedangkan Nisa baru saja dini hari melahirkan."
"Lalu, bagaimana keadaannya?"
"Biar saya jelaskan detailnya ... bla ... bla ... bla ..." dokter Richard pun menjelaskan semua kronologi padanya. Dan Adik Zein hanya bisa mangut-manggut mendengarkan penjelasan tersebut.
Setelah itu dokter Richard pun mengakhiri telponnya. Sedangkan Adik Zein segera memberi tahu ayah dan ibunya. Lalu tak lupa ia memberi kabar keluarga Nisa.
Setelah semuanya berunding, ahirnya diputuskan orangtua Nisa dan Zein akan berangkat bersama menuju kota J pagi itu juga. Meski tanpa persiapan, tapi ibu Nisa tak lupa membawa semua barang yg pernah Nisa minta.
Perjalanan panjang mereka tempuh hampir 12 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kakak Nisa yg menyetir mobilnya untuk mengantarkan kedua orang tuanya beserta ayah dan ibu Zein.
Sepanjang perjalanan hanya dipenuhi kesunyian, karena seisi mobil semuanya dalam keadaan panik sekaligus bingung. Bagaimana kejadiannya sampai bisa seperti ini. Hanya kakak Nisa yg masih bisa berfikir jernih saat itu.
Mereka pun hanya beristirahat untuk beribadah dan makan. Setelah mereka sampai di kota itu, mereka langsung menuju Rumah Sakit Internasional.
Dengan langkah terburu-buru semuanya menuju kamar Nisa. Hal pertama yg mereka pikirkan adalah Nisa dan bayinya. Sementara itu di dalam ruangan Nisa, ia sedang diperiksa oleh dokter Weny dan perawat. Chek berkala untuk ibu dan bayi sesudah proses persalinan.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter Denny masih menemani Nisa dan menanyakan apa ada keluhan pasca persalinan. Dan untungnya karena Nisa melakukan persalinan normal maka tidak ada keluhan dan bahkan ia sudah berangsur pulih.
Saat masih berbincang-bincang, tiba-tiba pintu kamar Nisa terbuka.
Ceklek
"Asaalamu'alaikum." Ucap ibu dan seluruh keluarga yg datang.
"Ibuuuu ..." Ucap Nisa, tak terasa air matanya keluar tanpa permisi.
Ibu dan anak itu pun saling berpelukan untuk melepas kerinduan yg telah tercipta. Lalu Nisa pun berjabat tangan dengan seluruh anggota keluarganya yg telah hadir.
"Bagaimana keadaanmu nak?" Tanya ibunya.
"Alhamdulillah sudah mendingan bu!" Jawab Nisa.
"Dimana cucuku sekarang?" Tanya ibu mertuanya.
"Sebentar saya ambilkan bayinya dan saya antarkan kemari ya bu." Jawab susternya.
Nisa pun mengangguk. Lalu mereka pun mengobrol sebentar, dan dokter Nisa pun segera pamit.
Sementara beberapa saat kemudian, suster sudah membawa bayi laki-laki tersebut ke dalam ruang perawatan Nisa. Tangis haru biru terjadi seketika saat cucu mereka hadir di dalam ruangan itu. Seorang bayi mungil dengan kulit putih bersih dan mata bulat, rambut yg tak begitu lebat sedang menatap dengan lembut.
~Bersambung~
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya..
Like, komen dan segala bentuk GIFT dari kalian sangat berarti bagiku.. biar aku juga semangat menulis 🙏😊