
Nisa pun membiarkan kenangan bersama mendiang suaminya pergi perlahan tapi pasti, tergeser oleh cinta dan kasih sayang dari Fadhil. Lagi pula kini ada Aaron sebagai pelengkap di dalam rumah tangganya bersama Fadhil.
Ia pun tak mau membebani suaminya dengan masa lalunya bersama Zein. Sayangnya baru beberapa langkah menuju ruang CEO, Zein melangkah di depan mereka.
"Kamu gak apa-apa sayang?"
Nisa menggeleng.
"Ya udah ayo masuk," ajaknya.
Fadhil melihat genangan air mata di pelupuk kedua mata Nisa. Ia pun menjadi salah tingkah, apakah semua perlakuan itu menyakiti hati istrinya? Di tengah kegundahan hatinya, ia pun memberanikan bertanya pada istrinya.
"Sayang, kenapa kamu menangis?"
Nisa pun terhenyak, ia kaget dengan pertanyaan suaminya barusan, apakah Fadhil melihatnya melamun? ataukah melihatnya menangis?
"Hah, aku enggak menangis kok!" ucap Nisa panik sambil mengusap kedua matanya.
"Kalau kamu tidak menangis kenapa sampai ada buliran air mata yang jatuh di kedua pipimu sayang..." Ucap Fadhil sembari menghapus jejak air mata yang entah sejak kapan keluar dari mata indah Nisa.
Nisa sendiri sampai tidak sadar akan kejadian tersebut. Apakah ini efek karena bahagia, atau ini efek karena tadi sempat terlintas memory bersama Zein? Apalagi ia baru saja lewat di hadapannya.
Sebenarnya hal ini sangat menyakitkan untuknya, tetapi semoga saja ia bisa melewatinya dengan bahagia.
Batin Nisa terus bertanya-tanya, tapi ia juga berusaha untuk menetralkan suasana hatinya.
Ia tidak mungkin membiarkan Fadhil melihat gurat kesedihan diwajahnya. Ia pun mencoba menghangatkan kembali suasana siang itu.
"Mas, terimakasih ya sudah membuat mengizinkan aku datang kesini. Aku sangat bahagia banget hari ini." Ucap Nisa sembari menggenggam jari Fadhil.
"Aku mencintaimu Nisa, apapun akan aku lakukan asal kamu bahagia, aku sangat mencintaimu, I Love You Forever..." Ucap Fadhil sembari mencium punggung tangan Nisa berkali-kali.
Membuat sang empunya merona karena tingkah romantis yang dilakukan suaminya tersebut.
"Jika aku terlambat datang padamu, aku pastikan akan aku lulis cerita indah tentang perjalanan cinta kita berdua. Bagaimana kita menghadapi semua ini tanpa saling menyakiti kembali."
...⚜⚜⚜...
...Dalam diam, di dalam keheningan sang penunjuk waktu ...
...Kedua bola mata itu bertemu...
...Mengisyaratkan betapa besarnya cinta mereka saat ini...
...Membuat siapa saja yang melihatnya iri...
...Nisa, semburat merah di kedua pipimu semakin menambah indah ayumu...
...Bak cakrawala jingga yang menghiasi langit di sore hari...
...Kecantikanmu alami...
...Semakin membuatku jatuh cinta semakin dalam padamu...
...Biarkan aku menjadi pelabuhan cinta terahirmu...
...Biarkan aku menjadi pemilik seutuhnya hatimu...
...Jadilah bidadari surgaku untuk selamanya...
...Raihlah tanganku selalu...
...Agar aku bisa selalu menuntun setiap langkahmu...
...Berjalanlah berdampingan bersamaku...
...Agar aku tetap tegar dikala badai menerjang nanti...
...Aku tau mungkin diriku tak seperti dirinya...
...Aku tau aku bukan sosok yang kamu cari...
...Tapi ijinkan aku menjagamu dan anak-anak kita nanti...
...Menjaga keutuhan cinta kasih kita...
...I love you Anisa Faiha...
...Fadhil...
.
.
Meski ia bukan seorang pujangga, tetapi apa yang ia lalukan hanyalah untuk kebahagian Nisa dan keluarga kecilnya.
Semoga apapun halangan dan rintangan ke depannya nanti, kita bisa menghadapinya dengan sekuat jiwa raga dan sepenuh jiwa.
"Masuk yuk," ajaknya pada istrinya.
"Iya mas, terima kasih banyak."
"Sama-sama sayang."
.
.
...🌹Bersambung🌹...