After Married

After Married
KEJUJURAN



Sheril memang sengaja pergi ke kantor Yo beberapa waktu yang lalu untuk menemuinya, sayangnya anak buahnya memberi tau kalau dia belum datang. Niat awalnya ia ingin bertanya sesuatu, tapi sayangnya belum sempat mereka bertemu, sekretarisnya menelpon dan menyuruhnya untuk pulang.


"Seandainya saja tadi bisa ketemu dia, pasti rasa penasaranku gak akan kayak gini," batinnya.


Ia pun meraih berkas-berkas miliknya lalu menuju ruang meeting. Siang ini memang ada jadwal meeting dengan klien-kliennya, dan entah kenapa mereka minta perubahan jadwal. Hingga ia pun dihubungi sekretarisnya untuk segera kembali ke kantor.


.


.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Permisi Tuan dan Nyonya, maaf sehabis ini saya ada tamu, jadi bolehkah Aaron kembali pada kalian?" ucap Yoshua dengan memelas.


"Ha ha ha, terimakasih uncle Yo, kamu baik sekali sih," canda Fadhil sengaja menirukan suara anak kecil.


Untung saja usia Aaron sudah lebih dari tiga bulan, jadi ia sudah tidak terlalu rewel jika diajak bepergian.


Nisa pun bangkit dari tempat duduknya.


"Makasih ya uncle Yo, semoga kebaikan uncle membawa berkah dan urusan pekerjaannya menjadi lancar."


"Aamiin, makasih Kak Nisa, hanya kakak aja yang sayang sama aku, gak kaya dia nih, baik kalau ada maunya aja," sindir Yo pada Fadhil.


"Asem, gini-gini aku atasan kamu di kantor loh, mau aku cabut nih ijin cutinya?"


Karena gemas akan tingkah laku suaminya, Nisa pun mencubit gemas pinggang suaminya itu.


"Aawwhhh, sakit sayang, ampun..." rintihnya.


Yo hanya menahan tawa akan kejadian tersebut. Ia takut tertawa lepas saat itu. Maklum saja, kakaknya lagi mode sensi. Bisa-bisa salah tindakan ijin cutinya bisa-bisa dicabut.


"Kenapa lihat-lihat!" gertak Fadhil melotot tajam pada Yo.


Daripada kena semprot ia pun memilih untuk pergi.


"Maaf kak, aku gak ingin ganggu kemesraan kalian, aku ijin pamit, papayo Aaron ganteng."


Belum sampai lima menit, Yo sudah lari tunggang langgang. Sedangkan Nisa hanya bisa geleng-geleng saja.


"Sayang, lepasin dong, panas nih pinggangnya."


Ternyata tangan Nisa masih betah nempel di tubuh Fadhil, hingga sang empu masih meringis karena cubitan Nisa belum selesai.


"Eh, maaf sayang, khilaf...wkwkwk"


GREPP!!


Tak mau membuang kesempatan, Fadhil segera mendekap erat tubuh istrinya itu.


"Hmm, mulai nakal ya sekarang?"


"Gak mas, maaf ih, tadi kan khilaf, jadi ya gitu."


"Kayaknya ada yang minta di hukum nih," seru Fadhil yang mulai nakal.


Apalagi salah satu tangannya sudah mematikan tombol kamera di ruangannya dan mengunci pintu ruangannya secara otomatis.


"Hmm, gak mas, beneran aku khilaf, aku minta maaf ya."


"Iya aku maafin, tapi kamu harus menerima hukuman dariku dulu dong!"


Tangan Nisa berusaha menahan tubuh suaminya yang semakin menempel. Belum lagi sorot matanya yang sudah berganti mode-mode ON gitu.


"Hmm, kenapa kamu ketakutan sih?"


"Habis mas nyeremin."


Bahkan tubuh Nisa sudah mentok ke sofa di sudut ruangan itu. Untung saja Aaron masih terlelap di stroller bayi. Jadi Fadhil masih leluasa menghukum istri kesayangannya itu.


Apalagi hembusan nafas suaminya sudah menggelitik di telinga Nisa. Hingga entah sejak kapan mereka sudah bertukar saliva.


"Hmm, mas, udah ih, ini kantor," cicit Nisa.


"Biarin, salah siapa pagi-pagi bikin aku marah."


"Mas yang duluan, bukan aku."


"Gak ngurus, pokoe kamu harus kena hukuman."


Nisa pun memukul-mukul dada suaminya, tapi yang namanya Fadhil emang suka jahil. Hingga ia pun tak memberi ampun pada istrinya itu.


.


.


Sementara itu, Kenzo sedang berada di ruangan Zivanna.


"Ken, bisa kamu jelaskan apa yang sedang terjadi sekarang?"


"Bisa sayang, apapun permintaanmu akan aku kabulkan saat ini."


Jack hanya bergumam di pojokan, "Dasar bucin mah bucin."


"Sebelum kita mengobrol lebih dalam, bisakah asistenmu kau suruh menunggu di luar."


"Oh tentu bisa sayang, sebentar ya."


Kenzo mulai mendekati Jack. Ia pun membisikkan sesuatu hingga lelaki berkepala plontos itu mengangguk senang.


"Nona Zivanna saya pamit dulu, yang sabar ya menghadapi boss saya," ucap Jack sebelum berpamitan.


Lalu dengan segera Jack sudah keluar dari ruangan Zivanna. Entah kemana dia pergi, tetapi di ruangan itu kini hanya menyisakan dua orang saja, yaitu Zivanna dan Kenzo.


"Hmm, asistenmu sudah pergi, bisakah kau menceritakan semuanya kepadaku."


"Bisa sayang," ucapnya bersemangat.


Lalu tanpa menunggu lama, keduanya terlihat pembicaraan serius.


Zivanna hanya geleng-geleng mendengar semua alasan yang diberikan calon suaminya itu. Ternyata sebesar itu cinta untuk dirinya. Ia tak menyangka jika di usianya yang sudah matang ini, ia bisa menemukan orang sebaik Kenzo.


Ada sebuah kebahagiaan yang terpancar dari wajah Zivanna saat itu. Begitupun sebaliknya, Kenzo juga sudah lega setelah ia menceritakan segalanya pada calon istrinya itu.


"Terimakasih Ken, aku tak pernah menyangka pengorbananmu sebesar ini padaku."


"Jangan bilang begitu sayang, kalau bukan karena dirimu, mungkin aku tidak akan bisa berada di hadapanmu sekarang."


Entah sejak kapan tangan mereka bertaut. Bahkan di pelupuk mata Zivanna sudah mulai berembun. Mungkin sebentar lagi air matanya akan beranak sungai. Tetapi saat ini ia masih menahannya.


"Maafkan aku yang sudah salah sangka terhadapmu Ken," ucap Zivanna lirih.


"Tak mengapa sayang, yang terpenting kesalah pahaman ini sudah selesai bukan?"


"Jadi bolehkah aku memasuki kehidupanmu dan menjalin kisah cinta yang abadi denganmu?"


Zivanna mengubah pandangannya. Kini keduanya saling menatap dalam. Mencari kejujuran di dalam hati mereka masing-masing.


Apakah Zivanna bisa menerima kesungguhan hati dari seorang Kenzo? Kita simak di eps selanjutnya ya...


Oh ya, author punya rekomen novel buat kalian, siapa tau suka.. mampir yuk.



Sebuah kisah cinta manis dari seorang gadis pengidap kanker otak yang bertemu dengan lelaki dingin yang arogan. Jangan lupa mampir ya🙏