
Kenzo yang penasaran ahirnya menepikan mobilnya di dekat pos satpam. Ia pun keluar dari mobilnya hanya sekedar untuk menanyakan keberadaan putri pemilik perusahaan tersebut. Siapa lagi kalau bukan Zivanna. Sayangnya keterangan darinya membuat rasa kecewa yang ia rasakan semakin dalam.
Lalu bermodal nekad, ia pun meminta alamat rumah Zivanna pada satpam tersebut. Karena alasan yang diberikan Kenzo cukup masuk akal, ia pun dengan mudah mendapatkan alamat tersebut darinya.
Setelah mendapat secercah harapan, ia langsung memacu mobilnya menuju rumah pujaan hati. Tak lupa ia mampir ke sebuah toko bunga untuk membeli beberapa bunga kesukaan sang pujaan hati.
Kling ... suara lonceng pemilik toko berbunyi nyaring.
"Selamat datang di Flower Garden, ada yang bisa saya bantu ..." ucap salah satu pegawainya ramah.
"Excuse me can you help me to prepare a bouquet of lilies?"
"Waduh, kok ya pembelinya bule Inggris," keluh pegawai itu.
Lili pun berbalik badan sambil mengumpat kesal.
"Siapa yang nyuruh saat pelajaran bahasa Inggris kamu malah tidur, Lili ... Lili ... sekarang makan tu batu!" Sambil mengomel ia pun menonyor kepalanya sendiri.
Tentu saja hal itu membuat Kenzo menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal itu secara spontan.
"What's wrong with you miss?"
"I'm no what-what..." ucap Lili spontan.
"Ajur jum .. ajoorrrr ..." batin Lili.
Maklum saja ia hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama, sehingga ketika ia bertemu dengan pembeli yang bule-bule seketika ia akan kikuk dan hanya bisa memamerkan barisan giginya saja.
Dari arah kejauhan pemilik toko terkekeh geli melihat interaksi salah satu pegawainya itu. Sebenarnya ia paham dengan kesulitan yang dihadapi Lili tetapi ia membiarkannya karena ia sedang memberikan pelajaran padanya agar ia mau belajar lagi.
Sudah cukup lama, pemilik toko itu berniat membantu Lili untuk kembali menempuh pendidikan yang sempat terputus. Tetapi ia tetap saja menolak dengan berbagai alasan. Sampai ahirnya ia pun jengah setiap kali harus mengingatkan dan meminta hal itu.
Karena merasa kasihan pada mereka, Sandra ahirnya mendekati mereka.
"Excuse me sir is there anything I can help you with?"
"Introduce me sandra flower shop owner."
"Ah yes miss, I'm in need of a bouquet of lilies, can you help me."
"Ok, please sit down for a while, let me prepare your order."
Ahirnya senyum Kenzo pun terbit tatkala ia mendapat angin segar dari pemilik toko tersebut. Sambil menunggu pesanannya siap, Kenzo pun mau berbincang-bincang dengan pegawai toko tersebut agar ia tidak bosan. Tapi sayangnya belum sempat ia membuka mulut, ia sudah lari ngibrit mendekati pemilik toko.
"Kenapa lari-lari Lili, apakah ada yang mengganggumu?" tanya Sandra basa basi.
"Bu-bukan Bu, tetapi saya takut diajak ngobrol sama tu Bule."
"Wkwkwkwk, memangnya kenapa, bukannya bule-nya ganteng?"
"Ganteng sih ganteng, sayangnya aku ga bisa bahasa Inggris Bu, huw-waaaaa ...."
"Cup-cup .... bayi segede gaban jangan nangis.. ntar eyelinernya bleber loh..."
"Ha-ah ? masa iya sih Bu?"
Dengan kepolosan hakiki yang dimiliki Lili ia pun merogoh saku celananya untuk menggambil kaca. Dilihatnya wajahnya dengan seksama, nyatanya hal yang diutarakan majikannya hanya bohong
"Lah mana Bu, ga ada yang mbleber Bu, nih baik-baik aja riasannya."
Sandra hanya tersenyum sambil menyiapkan buket bunga untuk Kenzo.
FLASH BACK ON>>>
Lili memang rajin berlatih memakai make-up beberapa hari ini. Dengan telaten ia belajar hal itu dari majikannya langsung. Untung Sandra baik hati. Wanita berhijab itu memang baik hati. Banyak kebaikan yang telah ia berikan untuk Lili, gadis yatim piatu yang ia ketemukan di jalan beberapa bulan lalu.
Berkat kebaikan hatinya, kini Lili tak perlu terlinta-lunta di jalanan. Setiap harinya ia selalu membantu Sandra mengurusi toko bunganya.
FLASH BACK OFF>>>
Setelah buket bunga yang ia siapkan sudah jadi, ia pun memberikannya pada Kenzo.
"Excuse me sir, the flower bouquet is ready."
"Very beautiful lady, thank you very much, how much should I pay for it?"
"One bouquet of flowers is worth one hundred and fifty thousand sir."
Lalu Kenzo membayar tagihan buket bunganya lalu pergi meninggalkan toko tersebut. Dengan perasaan bahagia ia pun melajukan mobilnya kembali menuju rumah Zivanna.
.
.
Bersambung