After Married

After Married
JANJI KETEMUAN



"Terimakasih untuk rasa cinta yang telah kamu berikan untukku Ken."


Zivanna tak mengira kalau dirinya kini bisa menemukan seseorang yang benar-benar mencintai dirinya. Bahkan selama ini ia tidak pernah merasa bila ada seorang lelaki yang benar-benar mencintainya.


Entahlah, apa karena rasa trauma yang mendalam yang membuat dirinya enggan mencintai orang lain. Bahkan ketika di luar negeri pun, ia jarang mempunyai teman lelaki.


Hanya Kenzo satu-satunya lelaki yang bisa dan berani mendekati Zivanna.


"Jadi, bolehkah kita tetap melanjutkan kerja sama kita?" tanya Kenzo kemudian.


"Tentu, karena cinta dan bisnis itu berbeda, maka aku akan tetap menjalankan kerjasama bisnis kita sesuai kesepakatan awal. Terimakasih Kenzo, karenamu aku bisa bernafas lega."


"Oke, sebagai ucapan terimakasih karena sudah menerima kerja sama bisnis ini, maka nanti malam secara khusus aku mengundangmu untuk makan malam."


"Baiklah, aku setuju."


.


.


"Sin, masuk ke ruangan saya, sekarang!"


"Iya Nona Sheril."


Beberapa waktu kemudian.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Masuk!"


"Sin, tolong kamu kirim ulang dokumen ini ke file saya lalu segera buatkan jadwal saya untuk bertemu dengan assisten Pak Fadhil dari Perusahaan A, oke!"


"Baik non, ada lagi?"


"Tidak, sementara itu saja, terimakasih."


Sheril memijit pelipisnya karena terlalu lelah.


"Hmm, sepertinya aku harus ke salon untuk Spa."


Ia pun mengambil ponselnya lalu mengetik beberapa pesan.


"Good, besok jam 9 pagi gue bisa spa."


Lalu ia pun menaruh ponselnya. Tapi tak lama kemudian, benda pipih persegi empat itu berdering.


"Halo..."


"Hai sayang, apakabar, sibuk ga?"


"Lumayan sih, kenapa?"


"Makan siang bareng yuk."


"Oke, nanti kamu sms aja tempatnya."


"Gak usah sayang, karena aku bakal jemput kamu."


"Tumben?"


"Memang gak boleh?"


"Boleh sih, ya dah aku tunggu ya."


"Siap sayang."


Setelah menelpon kekasihnya, Leon segera menuju ke sebuah toko bunga. Tentu saja ia membeli buket bunga mawar untuk Sheril.


.


.


"Jangan dong sayang, aku masih kangen. Lagian kan kamu gak bawa baby sister, siapa yang bantu jaga Aaron kalau kamu jemput Zi."


"Kan bisa telepon sopir rumah mas."


Untuk menarik simpati Nisa, Fadhil memasang wajah sedihnya. Sedangkan Nisa terkekeh geli akan tingkah suaminya ini.


"Mas ih, kok gitu sih, lagian kasian Aaron kan kalau disuruh main di stroller seharian?"


"Kan kalian bisa beristirahat di kamar kita noh!"


Tunjuk Fadhil pada ruangan rahasia milik mereka.


"Tapi aku pengen jalan-jalan nih."


Kini giliran Nisa yang memasang wajah cemberut. Lagi-lagi Fadhil yang harus mengalah jika sudah begini.


"Oke, tunggu sampai aku selesai meeting, nanti aku temani kamu jalan-jalan."


"Oke."


Lalu ia pun kembali bermain dengan Aaron. Tak lama kemudian muncullah Yo dari ruang sebelah.


"Kak, Sheril pengen ketemuan, apa aku terima atau tidak ya?"


"Menurutmu?"


"Aku takut dia kumat, wkwkwkwk."


"Kumat kenapa?"


"Kambuh deketin kakak lagi," bisik Yo.


Meski lirih Nisa mendengar perkataan mereka berdua. Tetapi ia membiarkan mereka berbincang tanpa mau mengganggunya.


"Udah, jangan su'udzon dulu, lagian kita juga gak tau dia mau apa, lebih baik terima dulu."


"Hm, atau begini kalian ketemuan di luar kantor kalau kamu gak mau terganggu."


"Gak akan, mending di dalam kantor aja, lagian mata-mata di luar kantor lebih berbahaya."


"Nah itu kamu tau."


"Oke, fix kita ketemuan disini."


Setelah siap, Yo pun segera membalas pesan dari sekretaris Sheril.


"Hallo ..." Jawab Sheril dari ruangannya.


"Non, jadwal bertemu dengan Tuan Yo sudah diterima, besok siang jam satu siang di perusahaan A."


"Oke, terimakasih Sin."


"Sama-sama."


.


.


...🌹Bersambung 🌹...