
Ahirnya waktu yang ditunggu telah tiba. Hari ini Nisa harus melakukan prosedur chek up kehamilannya. Jika nanti bidan dan dokter menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah sakit. Itu artinya hari ini ia akan melahirkan dengan proses yang ditentukan oleh mereka.
Fadhil sengaja mengambil cuti spesial karena ia ingin menemani istrinya untuk chek up kandungannya. Ia berharap apapun yang akan terjadi hari ini, ia akan tetap berada disisinya.
Sedangkan Zi masih bersekolah seperti biasa. Ia akan diantar jemput oleh supir. Ia juga tau kalau misal hari ini ia dan ibunya tidak pulang setelah chek up kandungan, itu artinya hari ini ibunya akan melahirkan.
"Bagaimana sayang?"
"Aku siap mas."
"Oke kita berangkat sekarang."
Fadhil lalu menggandeng tangan Nisa lalu mengajaknya berjalan perlahan menuju mobil. Di depan rumah, mobil yang akan ia pakai untuk ke rumah sakit sudah siap.
Beberapa pelayan juga sudah selesai memasukkan beberapa pakaian yang mungkin diperlukan nanti. Setelah semuanya siap, mobil itu pun melaju meninggalkan halaman rumah.
Dengan sebelah tangan menggenggam erat tangan istrinya, Fadhil berusaha menyalurkan ketenangan untuk istrinya itu.
Nisa menoleh memandangi suaminya. Salah satu tangannya terus membelai lembut perutnya yang telah membesar itu.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang biasanya tenang. Entah kenapa hari ini perasaannya tidak karuan.
Jantungnya terus berdenyut dengan kencang. belum lagi pikirannya sedang bercabang kemana-mana. Sebelum berangkat ia sempat mengirimkan pesan pada Mang Dede.
Ia memberitahukan kalau hari ini dia ada chek up kandungan, tak lupa ia memberitahukan semuanya, termasuk kemungkinan kalau hari ini tidak kembali ke rumah itu artinya ia harus melahirkan hari ini.
Tak lama kemudian, mobil yang mereka kendarai sudah masuk ke pelataran rumah sakit. Fadhil memarkirkan mobilnya dengan apik, lalu membuka sebelah pintu mobilnya untuk istrinya.
Nisa melangkah keluar dengan diiringi helaan nafas panjangnya. Ia benar-benar merasakan gugup luar biasa pagi ini.
Dengan didampingi suaminya ia melangkah menuju antrian pendaftaran di depan poli kandungan. Banyak ibu-ibu hamil yang duduk dalam barisan rapi di depan poli.
Banyak diantaranya yang datang dengan di dampingi oleh suaminya. Rata-rata kehamilan mereka diatas tujuh bulan.
Ada yang hamil anak pertama, ada juga yang hamil anak kelima. Banyak yang berbincang-bincang sambil menunggu antrian mereka tiba.
Tak terasa waktu menunggu telah mereka lalui selama satu jam. Sampai ahirnya tibalah giliran Nisa.
"Panggilan kepada ibu Nisa."
"Ya saya suster."
"Silahkan masuk di sebelah sini."
Lalu mereka mengekor di belakang suster untuk menemui dokternya. Di dalam ruangan sudah ada beberapa dokter dan suster yang sedang bertugas hari itu
"Selamat pagi, silahkan duduk Bu."
"Terimakasih dokter."
"Langsung saja kita menuju ruang periksa!"
Lalu Nisa bersama dokter masuk ke ruang periksa. Seperti biasa, Nisa berbaring di tempat tidur, kemudian perutnya diolesi sebuah cairan gel dingin seperti biasanya.
Setelahnya sebuah alat digerakkan diatas perut Nisa, sembari mata dokter mengawasi ke sebuah layar monitor.
"Bisa dilihat ya Bu, kandungan anda sehat, dan jenis kelaminnya laki-laki."
Nisa tampak tersenyum karena bayinya dalam keadaan sehat. Terlebih jenis kelaminnya laki-laki.
Seperti dugaannya kalau bayi mereka berjenis kelamin laki-laki.
Lalu dokter itu memeriksa tekanan darah Nisa dan lain sebagainya.
"Nah seperti yang saya beritahukan minggu kemarin kalau kondisinya tetap sama, itu artinya ..."
"Artinya mau tidak mau harus melahirkan hari ini."
"Pinter ...."
"Kalau begitu Ibu Nisa sudah siap kan?"
Nisa tampak menghela nafas, lalu melanjutkan kata-katanya.
"InsyaAllah siap."
"Oke, untuk semuanya biar suami ibu dibantu suster untuk mengurus semuanya."
Lalu Nisa segera merapikan kembali bajunya. Kemudian ia menemui suaminya dan mengatakan semua yang diucapkan oleh sang dokter.
Fadhil menatap istrinya yang tampak panik itu. Lalu mengusap dengan lembut punggung tangannya.
"Percaya sama mas, kamu pasti kuat dan semua akan baik-baik saja."
Mata Nisa tampak berembun karena menahan rasa harunya. Baru kali ini ia merasa kuat karena saat mau melahirkan ada suami yang setia mendampinginya.
Berbeda sekali dengan kondisinya beberapa tahun yang lalu saat kelahiran Baby Zi.
Fadhil kemudian mengecup kening Nisa. "I love you Nisa."
Lalu setelahnya Nisa diajak menuju ruang tunggu, sementara Fadhil mengurus semua administrasi dan lain-lainnya. Tak lupa satu tangannya memegang ponsel lalu berbicara dengan seseorang di seberang sana.
Nisa pun memainkan ponselnya sembari memberitahukan keberadaan dirinya pada Mang Dede. Di dalam hatinya ada harapan jika Zein bisa menemaninya disini.
"Astaghfirullah ada yang salah dengan diriku," batin Nisa.
Tidak mungkin jika saat melahirkan nanti ada Zein dan Fadhil secara bersama-sama. Hal itu pasti akan membuatnya kecewa.
Karena terahir kali, saat Zein pergi dirinya masih berstatus sebagai istrinya tetapi saat ini ia sudah mempunyai Fadhil sebagai pasangan hidupnya.
Lagi pula anak yang akan ia lahirkan kali ini adalah buah cintanya dengan Fadhil, lalu kenapa ia menginginkan Zein untuk menemaninya.
Nisa menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Fadhil mengerutkan kedua alisnya.
"Ada apa dengan Nisa-ku?"
Lalu setelah menyelesaikan sambungan teleponnya ia mendekati istrinya.
"Sayang kamu gak kenapa-napa kan?"
Ia pun menggenggam kedua tangan Nisa sembari berlutut di depannya. Matanya memandangi istrinya yang sedang bimbang itu.
"A-aku gak kenapa-napa mas."
"Kamu pasti gugup, tenanglah semua akan baik-baik saja oke."
Nisa kembali mengangguk lalu Fadhil merengkuh tubuh Nisa dalam dekapannya. Di elusnya pucuk kepala Nisa dengan penuh kasih sayang.
Bagaimana pun ia paham dengan apa yang dirasakan sang istri. Sembilan bulan ia sudah menemaninya dalam suka dan duka. Bahkan karena perbuatannya inilah saat ini mereka berada di rumah sakit.
Sebentar lagi, istrinya akan berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan buah cinta mereka. Beruntungnya saat ini ia bisa seutuhnya memiliki Nisa dan bisa menemani setiap detik-detik ketegangan ini.
Beberapa tahun lalu ia pernah dalam posisi ini, tetapi sayangnya dulu anak yang dilahirkan Nisa adalah buah cintanya dengan Zein, suami pertama Nisa.
"Bagaimana sayang, sudah lebih enakan?"
"Alhamdulillah mas."
"Oke, karena ruangannya sudah siap ayo kita menuju ruang perawatan."
"Iya."
Dengan langkah perlahan Nisa dan Fadhil menuju ruangan tunggu bersalin. Eh bukan... kali ini Nisa akan berada di sebuah ruangan khusus untuk para ibu yang menunggu giliran untuk melahirkan.
Karena proses kelahiran Nisa kali ini lebih istimewa maka Nisa pun melalui tahapan yang berbeda dengan saat proses kelahiran Zi.
Sedangkan Fadhil tidak boleh masuk ke ruangan Nisa, ia hanya boleh memantau beberapa kali tetapi tidak boleh ikut berdiam di kamar Nisa.
.
.
.
Lalu seperti apa ya kelahiran yang istimewa itu? yuk simak di part selanjutnya.
.
.
.
...~Bersambung~...