
Ha ha ha ...
"Oh jadi begitu ya awal pertemuan kalian?" tanya Zein heran.
"Iya kak, begitulah kira-kira..."
Lalu para lelaki melanjutkan obrolan mereka di ruang depan, sedangkan para wanita masih asyik bercanda di ruang tengah. Alexa yang kebetulan sudah sedikit paham bahasa Indonesia, sudah bisa mengobrol dengan Nisa dan istri dokter Richard.
Sesekali mereka juga bermain dengan putra putri mereka.
"Oh ya Nisa, berapa usia Aaron sekarang?" tanya Alexa.
"Hmm, berapa ya ..." tampak Nisa sedang mengingat usia putra keduanya.
"Kalau tidak salah menghitung, usia Aaron kira-kira tuh hampir mendekati dua setengah bulan Xia."
"Wah, bentar lagi sudah tiga bulan ya?"
"Iya ..."
"Semoga Aaron tumbuh menjadi anak yang membanggakan kedua orangtuanya ya, Aamiin."
"Aamiin, makasih Xia."
"Oh ya, rencananya kamu liburan di Indonesia berapa hari?"
"Entahlah kak, selama ayah masih bisa libur, maka kami akan liburan disini, tetapi jika perusahaan ayah membutuhkan ayah dengan segera, maka kami akan segera kembali ke Australi."
"Oh begitu? memangnya tidak ada yang menghandle selama kalian liburan disini?"
"Selama ini, hanya aku dan ayah yang secara langsung mengelola perusahaan, karena ayah sama bukan orang yang mudah percaya sama orang baru."
"Wah, sama banget tu sama kek Yo dan suamiku. Karena ia juga sangat selektif terhadap orang baru. Makanya hanya orang-orang dekat saja yang boleh memimpin ataupun menempati posisi penting di dalam perusahaan."
"Wah ... wah ... sepertinya suami kamu sama ayah kamu bakalan cocok nih Xia."
"Sepertinya begitu kak."
"Semoga kelak jika ada perbedaan di dalam rumah tangga kalian, aku harap kalian bisa saling berdiskusi."
"Aamiin, terimakasih kak."
"Sama-sama sayang."
Oek ... oek ...
Tiba-tiba Aaron menangis, kemudian Nisa segera menimangnya. Fadhil yang mendengar putranya menangis segera permisi dari para lelaki di ruang tamu.
"Maaf pada semuanya, saya permisi terlebih dahulu, karena putra saya baru saja memanggil," pamit Fadhil pada semuanya.
"Wkwkwk, memangnya seperti apa kak memanggilnya? kan dia belum bisa bicara kak?" tanya Yo penasaran.
"Begini manggilnya ... oek ... oek ... oek ..."
"Wkwkwkwk ... kakak lucu."
"Sudah ah, maaf ya semua, aku ke atas dulu."
"Iya kak, hati-hati, titip salam buat Kak Nisa."
"Iya ..." ucap Fadhil sambil tersenyum genit.
Sementara itu dada Zein sedikit nyeri ketika mendapati Fadhil sangat perhatian pada mantan istrinya. Sedangkan Zi masih asyik bermain gadget di pangkuan Zein.
Tanpa sadar ia pun mengusap pucuk kepala putranya itu.
"Ada apa Papa Zein?"
"Tidak apa-apa sayang."
.
.
Sementara itu di tempat lain, Nisa sudah terlebih dahulu memasuki kamar untuk menidurkan Aaron.
Baru saja ia akan membuka tutup kedua bukit kembarnya, pintu kamarnya terbuka.
"Mas, kebiasaan deh."
"Ya maaf sayang," ucapnya lirih sambil menutup pintu kamar secara perlahan.
"Kan ada tamu penting di bawah, kenapa mas ikutan masuk."
"Syutt ... kan mas mau nidurin Aaron bareng jamu masa gak boleh sih?"
"Boleh, tapi lihat sikonnya dong sayang."
"Iya, maaf deh, gak lagi-lagi, suerr..."
Bukannya menjawab, Nisa malah mengerucutkan bibirnya.
"Nyebelin."
GREPP!!
Fadhil mendekap tubuh Nisa dan mengecup pipi Nisa dari arah kanan.
"Aku sayang banget sama kamu sayang, dan aku takut kehilangan kamu," bisiknya.
"Oh ya?"
"Iya ..."
"Ya udah suamiku sayang, aku mau bubukin Aaron lebih dulu ya, biar dia anteng dan gak rewel."
"Oke sayang, love you ... aku ke bawah dulu ya."
"Iya, love you too..."
.
.
...Kemesraan itu terjalin bukan karena terbiasa...
...Atau direncanakan...
...Justru kemesraan itu bisa tercipta...
...Ketika kita tiba-tiba merasa cemburu...
...Cemburu itu wajar...
...Terlebih saat kita merasakan cinta...
...Karena cinta lahir bukan karena ucapan ...
...Melainkan dari hatimu...
...Memilih seseorang ...
...Sebagai calon belahan hati...
...Membuat kita harus terbiasa dengan penghianatan...
...Karena dari situlah kita mendapat pelajaran...
...Cinta butuh perjuangan...
...Cinta juga tak mengenal rupa...
...Melainkan berasal dari sebuah kenyamanan...
.
.
...🌹Bersambung🌹...
...Semoga suka dengan part ini😘...