After Married

After Married
I LOVE YOU NISA



Nisa 'ga munafik, dengan kebaikan Zein tentu saja akan banyak wanita yang rela menjadi pacarnya disana. Dan ia sadar ia bukanlah wanita sempurna yang mempunyai sejuta pesona, bahkan tubuhnya saja tidak seksi, wajahnya juga natural, ga bisa dandan lagi, banyak minusnya kan?


๐Ÿƒ~๐Ÿƒ~๐Ÿƒ~๐Ÿƒ~๐Ÿƒ


Setelah kencan malam ini berhasil, Zein pun segera mengantarkan Nisa menuju kostnya. Tapi sebelum Nisa masuk ke dalam kost, ia dipanggil Zein.


"Nisa ...." panggil Zein.


Nisa menoleh, "Iya kak ..."


"Ehm ... aku tau kamu 'ga boleh pakai perhiasan saat kerja kan, kalo gitu, pakai ini aja ya ..." ucap Zein sambil memberikan kotak perhiasan kecil pada Nisa.


"Aku harap kamu 'ga melepasnya meskipun kamu sedang bekerja ..." pinta Zein pada Nisa.


Zein kemudian membuka kotak perhiasan itu dan mulai memasangkan anting-anting di kedua telinga Nisa. Nisa masih kaget akan perlakuan Zein padanya, bahkan ia pun sama sekali tidak menolaknya.


"Makasih kak ..." ucap Nisa sembari tersenyum.


"Masama sayang, love you ...."


"Love you too ... Nisa masuk dulu ya ..." pamit Nisa


pada Zein sambil melambaikan tangannya.


"Ok ... besok pagi jangan lupa, aku yang akan antar kamu berangkat kerja!" ucap Zein setengah berteriak.


"Siap, jam tujuh kurang seperempat ya kak!"


"Siap tuan putri, aku pamit."


"Hati-hati kakak."


Nisa pun melambaikan tangannya ke arah Zein, lalu segera masuk ke kamarnya di lantai dua. Sedangkan Zein yang sudah melihat Nisa masuk kost segera pergi dan menuju ke kost Yogi.


Rencananya ia akan menginap disana untuk malam ini. Baru sesudah mengantar Nisa kerja besok, ia baru kembali ke hotel. Ia takut terlambat jika harus kembali ke hotel.


Sebelumnya Yogi sudah memberi tau tempat kostnya. Cukup sepuluh menit ia sudah sampai di depan pintu kost Yogi, lalu ia pun menelpon Yogi.


"Assalamu'alaikum, Bro aku uda di luar ni ..." ucap Zein dalam telfon.


"Ok ... tunggu sebentar, aku turun," jawab Yogi di seberang sana.


Tak lama kemudian ia menemui Zein yang sudah di depan gerbang kost.


"Hei Bro ... apakabar? Masuk gih! motornya parkir disitu aja," ucap Yogi sambil menunjukkan arah parkir motornya.


"Siap ..."


Sesudah memarkirkan motornya, Yogi yang menunggu Zein pun segera merangkul sahabat karibnya itu.


"Wah, lama 'ga jumpa, tambah ganteng aja Bro! Gimana sukses kencannya?"


"Alhamdulillah berhasil, tapi ya gitu, Nisa belum siap ..."


Yogi yang sudah tau arah percakapannya pun segera menenangkan sahabatnya tersebut.


"Sabar Bro, Nisa anak yang baik. Sekarang dia masih mengejar cita-citanya, tunggu beberapa tahun lagi, pasti dia akan lebih siap."


"Ta-tapi ... aku takut kehilangan Nisa, aku memang terlambat mencintainya, tapi aku harap dia memang benar-benar jodohku ..."


"Aamiin."


Yogi tak mau berbuat banyak, yang bisa ia lakukan saat ini hanya menenangkan sahabatnya dan menyalurkan ketenangan saja.


๐ŸƒDi tempat lain


Fadhil memang tak sengaja melihat seseorang yang dirangkul Yogi barusan, dan sekarang ia pun sedikit curiga.


"Siapakah orang itu? Kenapa bisa seakrab itu dengan Yogi, apakah tadi saudara Yogi?"


"Aah entahlah, nanti saja aku cari tau. Mending sms Nisa, dah lama 'ga tanya kabar dia jadi kangen."


Sesampai di kamar, Fadhil merebahkan dirinya di kasur seraya mengirim pesan kepada Nisa.


Ting ... ting ...


Nisa yang merasa senang malam itu belum bisa tidur, karena ia masih teringat Zein, apalagi tentang lamaran darinya tadi.


Eh ... tiba-tiba Hp-nya berbunyi.


"Mmm ... masa kak Zein udah kangen si? kalo gitu sama dong." Ucap Nisa sembari tersenyum-senyum sendiri.


"Lah, kok Fadhil?" ucap Nisa sedikit kecewa.


BANG FADHIL


"Hai Nisa ..."


NISA SAYANG


" Hai juga kak, betewe, ada apa ya? tumben malam-malam sms?"


BANG FADHIL


"Maaf, ganggu kamu ya?"


NISA SAYANG


"Em, engga kok. Nisa belum tidur juga, makanya bisa balas chat dari kakak ... he he he ...."


BANG FADHIL


"Tapi kalo Nisa udah ngantuk, istirahat aja gak apa-apa kok, kakak tadi cuma pengen tau kabar Nisa aja kok."


NISA SAYANG


BANG FADHIL


"Alhamdulillah kalau gitu, ya dah met istirahat Nisa."


NISA SAYANG


"Iya kak, makasih."


Setelah mendengar kabar Nisa baik-baik di seberang sana Fadhil sedikit lega, ahirnya ia bisa tidur nyenyak malam ini.


๐ŸƒKamar Nisa


Sesudah membalas chat dari Fadhil Nisa segera membuka tasnya. Dilihatnya kotak perhiasan yang diberikan Zein sore tadi. Dipandanginya lekat-lekat kotak itu.


"Kenapa aku merasa tidak pantas menerimanya ya?" tanya Nisa dalam hatinya.


"Padahal saat ini kak Zein benar-benar mencintaiku? begitu pula denganku?"


"Tapi kenapa aku ragu ya? apakah karena ini terlalu cepat, bahkan kak Zein juga mau menungguku sampai aku siap, tapi kenapa dengan hatiku?"


"Entahlah, sebaiknya aku menyimpannya dulu. Suatu saat, bila aku sudah siap, pasti akan aku memakainya." Ucap Nisa memantapkan hatinya.


Sebelum tidur ia memandangi foto lucunya bersama Zein beberapa saat lalu.



"Betapa menggemaskan bukan? wajah tampannya rela aku kasih emoticon kaya gitu ... he he he ... i love you kak Zein," seru Nisa.


Hari ini ia amat bahagia. Karena hari ini kencan pertamanya sukses dan berkesan, dan ia pun akan mengingatnya selalu.


๐ŸƒSementara itu di kamar Yogi


"Betewe Nisa makin cakep kan?" tanya Yogi pada Zein.


"Iya, tambah imut dan lucu banget, apalagi saat pipinya merona ... hmmm ..." ucap Zein sambil menerawang jauh.


"Ya jelas lah, udah gue jagain tu, kagak ada niatan buat lu berterimakasih sama gue ni? masa iya 'ga dikasih apa gitu?"


"La kan tadi udah Gik!"


"Tenang aja, lagian hadiah buat lu udah aku siapain, cuma masih di hotel aja."


"Tapi maaf, habis ini gue 'ga bisa jagain Nisa lagi, gue uda resign."


"Tinggal nunggu beberapa minggu lagi, gue akan balik ke kampung." Jelas Yogi pada Zein dengan tatapannya masih lurus ke langit-langit.


"Iya, aku paham, makanya aku akan sering-sering ke sini. Mungkin akan minta dipindah kesini aja, biar bisa jagain Nisa ..." ucap Zein.


"Apa itu mungkin? lagian kerjaan lu disana udaj sangat bagus posisinya, bukannya kalau pindah bakal turun jabatannya?" tanya Yogi menyelidik.


"Entahlah, tapi demi Nisa apapun akan aku lakukan."


"Iya, tapi ingat ... lu kerja keras juga demi Nisa kan? masa iya, lu tega setelah menikah, Nisa masih lu suruh kerja, apalagi setelah jadi bini lu?"


"Ya gaklah, yang pasti Nisa akan aku sekap dalam rumah, biar ngurus aku ama anak-anak aja nanti."


"Gak mungkin dia aku suruh kerja, kan aku kerja juga buat mereka nanti!" terang Zein tidak terima.


"Bagus deh kalo lu ngerti."


"Ya dah, lu bubuk di kasur ini aja ya, aku pegel kalo suruh bubuk di kasur lantai. Aku yang diranjang oke, kalo lu keberatan, mending lu balik ke hotel aja." Perintah Yogi pada Zein.


"Siap pak boss, makasih udah dikasih tumpangan tidur malam ini." Ucap Zein.


Bagaimanapun Yogi sudah sangat berjasa buat Zein dan Nisa, oleh karena itu ia amat sayang pada sahabatnya itu.


Tak lama kemudian, ternyata Yogi sudah tertidur pulas, dilihatnya jam tangan Zein sudah menunjukan pukul 23.00 WIB, sesaat ia melihat walpaper fotonya bersama Nisa tadi saat di lobby hotel. Ia dan Nisa berfoto dengan aplikasi yg ada emoticonnya.


"Tambah imut dan manis aja si sayangku, jadi pengen peluk dan cium kamu. Boleh ya aku halalin kamu secepatnya ..." seru Zein yang berbicara dengan layar Hp-nya.


Untung saja Yogi sudah tertidur pulas, jadi saat ia ngobrol dan menciumi Hp-nya 'ga ada yang tau.


"Aman ..." pekik Zein yang masih senyam-senyum sendiri sambil memeluk Hp-nya. Dan ahirnya ia pun tertidur menyusul Yogi, dan Nisa ...


"Have a nice dreams ..."


~ Bersambung ~


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK๐Ÿ™๐Ÿ˜Š...