
"Dasar gadisku, kau sama sekali tidak berubah, I Love You." Ucap Fadhil dalam hatinya.
Dan Nisa pun segera melepas segala peralatan snorkling yang masih menempel ditubuhnya.
π~π~π~π~π
Setelah semua peralatan terlepas, Nisa dan Fadhil membersihkan diri, dan mengganti pakaian dengan pakaian mereka kembali. Sesudahnya Nisa, Fadhil dan Zi menikmati pemandangan alam yang disajikan disana. Tak lupa mereka mengabadikan setiap moment yang tercipta.
Hari semakin sore, mentari pun sudah lelah dan ingin masuk ke peraduan. Mereka pun menikmati sunset dipinggir pantai. Lalu sesudahnya mereja pun kembali ke hotel.
Setibanya di hotel, mereka membersihkan diri kembali dengan mandi air hangat di kamar masing-masing. Zi sudah mandi terlebih dahulu dan ia pun ingin bermain di kamar Fadhil. Sementara itu Nisa baru akan mandi dan berendam air hangat sebentar.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum Daddy ..." ucap Zi dari luar kamar Fadhil.
Fadhil yang baru saja selesai mandi mendengar calon anaknya memanggilnya segera membukakan pintu kamarnya. Memang saat mandi pintu kamar Fadhil sengaja dikunci.
"Hai boy, ayo masuk."
"Oh ya, dimana Mommy?" ucapnya sambil menggosok rambutnya dengan handuk.
Zi masih memandangi calon ayahnya, "Memang Om Fadhil yang pantas untuk bersanding dengan mama," batinnya.
Fadhil melambai-lambaikan tangannya ke arah Zi.
"Hei, jangan melamun boy," serunya.
"Enggak, aku ga melamun Daddy, Mom masih mandi tadi, makanya daripada kesepian aku kesini."
"Oh, oke, kamu tunggu disitu dulu ya, Om mau ganti baju dulu."
"Oke."
Zi pun duduk di sofa sambil melihat majalah yang ada disamping meja Fadhil.
"Oh ya, kamu sudah melakukan sholat maghrib belum?" tanya Fadhil sambil mengambil sarung dan kopiah.
"Belum Dad, kita jamaah aja boleh?"
"Boleh sayang, sana ambil air wudhu dulu."
"Siap Daddy."
Lalu Zi pun segera mengambil air wudhu dan bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib bersama calon ayahnya. Setelah semuanya siap, mereka pun melakukan sholat maghrib berjamaah.
Sementara itu Nisa sudah selesai mandi tetapi tidak melihat putranya kembali, ia pun memutuskan untuk sholat maghrib sendiri. Sesudah selesai ia pun mulai mengemasi barang-barangnya dan punya Zi dan memasukannya dalam koper.
"Liburan sudah usai, besok saatnya kembali bekerja, semangat Nisa." Ucapnya dalam hati.
...***...
Tak lupa selepas sholat, Zi mencium tangan Fadhil. Lalu mereka pun melepas perlengkapan sholat mereka dan merapikannya kembali. Fadhil juga sudah mengemas barang-barangnya. Semua barangnya sudah ia masukan dalam koper.
Kini mereka tinggal bersiap untuk kembali ke kota. Liburan telah usai, tetapi kenangannya tak akan pernah terlupa.
Karena semuanya sudah siap, mereka pun langsung melakukan perjalanan pulang dengan pesawat pribadi Fadhil. Rencananya makan malam mereka dilakukan di kota saja. Karena Zi sudah merindukan masakan kota tempat kelahirannya.
Perjalanan kali ini tidak membutuhkan waktu lama. Karena cuaca sedang baik dan rute penerbangan pun normal.
Setelah turun dari pesawat, mereka sudah dijemput dengan mobil pribadi Fadhil. Mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing. Dan rombongan pun menuju sebuah rumah makan terkenal di salah satu sudut kota sesuai permintaan Zi.
Sampai di lokasi, Fadhil segera memesankan masakan yang diinginkan Zi. Sampai sejauh ini Fadhil cukup tau masakan kesukaan Zi dan Nisa.
Setelah makan malam, Fadhil mengantarkan Nisa dan Zi pulang, lalu sesudahnya ia pun kembali pulang ke rumahnya. Suasana rumah Fadhil memang selalu sepi. Ramai jika Yo menginap di rumahnya.
Sudah 1 bulan ini Yo mengurus proyek di luar kota. Jadi ia tidak bisa menemani Fadhil rumahnya. Karena urusan pekerjaan terlalu rumit, makanya ia harus berdiam diri selama kurang lebih 1 bulan di kota itu.
Malam yang dingin menemani hati Fadhil yang selalu sepi. Dinginnya malam ini membuat Fadhil tertidur lebih awal dari biasanya.
Entah karena capek atau terlalu bahagia, Fadhil pun memimpikan kehadiran Nisa dalam mimpinya.
...***...
Mentari pagi telah menampakan keanggunannya dalam bait rindu yang terpendam
Suara kicauan burung yang saling bersautan membuat ramai riuh suasana pagi itu
Seberkas cahaya masuk ke dalam peraduan
Sang empunya pun terusik kala itu
Senyuman kecil tersungging dalam bibir tipisnya
Sungguh elok ciptaanMu
Kau paraskan wajah tanpa cela
Sejukan hati siapapun yang memandangnya
...***...
Ia pun bergegas bangun dari peraduannya dan segera membersihkan diri. Satu set pakaian kerja berpadu dasi yang serasi telah ia kenakan kini.
Setelah semuanya siap, ia pun segera turun ke lantai satu untuk sarapan.
"Selamat pagi tuan." Sapa kepala pelayan di rumah itu.
"Selamat pagi pak." Ucapnya tulus membalas saapan pelayannya.
Tak lupa seukir senyuman pun terlepas darinya. Begitulah keseharian Fadhil yang selalu menghormati siapapun karyawannya. Ia sangat tau bagaimana harus bertindak sebagai sesama manusia.
Mungkin saat ini, dialah yang diatas, tapi entahlah apa yang akan terjadi didepannya ia tak pernah tau. Oleh karena itu sebisa mungkin ia akan selalu menghormati dan menyayangi semua karyawannya ataupun tetangganya.
...***...
"Hidup selalu berdampingan, apa yang kita miliki sekarang adalah titipan yang akan dipertanggungjawabkan suatu hari nanti. Jangan lah menjadi pribadi yang sombong, karena kita tidak pernah memiliki apapun di dunia ini."
...***...
Setelah selesai sarapan, ia pun meninggalkan rumahnya untuk menuju kantornya. Ada beberapa proyek yang harus ia tangani hari ini. Dan tentunya salah satunya adalah proyek kerjasama dirinya dengan perusahaan Nisa.
...***...
Sementara itu dirumah Nisa. Zi sudah berpakaian rapi karena pagi ini ia juga sudah sekolah. Tak lupa sebelum sekolah ia sudah sarapan bersama Nisa. Kali ini ia diantar Nisa, sekaligus Nisa akan menuju perusahaan Fadhil. Tentunya masalah pekerjaan yang akan mereka bahas pada nantinya.
Sesampainya di sekolah Zi.
"Terimakasih Mommy, titip salam buat Daddy ya Mommy." Ucap Zi saat berpamitan pada ibunya.
"Iya sayang, maaf Mommy tidak bisa mengantar sampai depan kelas kamu. Oh ya nanti pulangnya dijemput mama atau Om Fadhil ya."
"Oke Mom."
Dan Zi pun masuk ke dalam kelasnya. Sebelum Nisa meninggalkan sekolah Zi, Zi sudah bersama guru pendampingnya disekolah. Jadi Nisa sudah merasa aman jika ia berangkat bekerja.
Dua puluh menit kemudian, ia sudah sampai di perusahaan Fadhil. Begitu pula dengan Fadhil yang sudah lebih dulu sampai di kantornya.
Kebetulan saat di tempat parkir ia bertemu Nisa.
"Pagi cantik ..." sapa Fadhil mengagetkan Nisa.
"Astaghfirullah mas, kebiasaan deh kamu, untung aja ini di kantor, coba di rumah, aku geprek kamu mas ..." ucapnya geram.
Bagiamana tidak geram, baru saja ia membuka pintu mobilnya, tiba-tiba Fadhil muncul dari sisi mobil dan langsung menyapanya.
Fadhil tertawa terbahak-bahak.
"Coba saja kalau berani ..." ancamnya kembali ia tujukan pada Nisa.
~Bersambung~
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAKππ...