
.....................
Zein yang sudah selesai berganti pakaian ia segera mendekati istrinya tersebut. Nisa pun menelan salivanya dengan susah saat suaminya tersebut sudah mendekat. Entah kenapa semakin hari, suaminya makin tampan saja, sehingga membuat Nisa tak jemu-jemu memandangnya dan tentunya menginginkan sesuatu yang lebih darinya.
"Hemm ... "
"Eh ... " Nisa mulai sadar saat tangan lembut suaminya menyentuhnya.
Tanpa basa-basi Zein sudah mulai memijat kaki Nisa. Nisa pun dengan senang hati menerima semua perlakuan manis dari suaminya tersebut.
Hanya dengan sentuhan dari suaminya tersebut, Nisa sudah membaik keadaannya. Rasa capek yang menderanya tadi sudah hilang entah kemana.
"Kenapa terus memandangiku?" tanya Zein tanpa memandang istrinya itu.
"Kakak mau makan rujaknya sekarang?" ucap Nisa mengalihkan kegugupannya.
Zein mengangguk senang, entah kenapa, ahir-ahir ini ia jadi sangat manja terhadap istrinya itu. Terutama soal makanan, kalau tidak disuapi Nisa, ia akan sulit makan. Jadi saat di rumah kebiasaan seperti ini hampir setiap hari terjadi, dengan telaten Nisa akan menyuapi suaminya makan.
"Mas?"
"Hemmm ...."
"Kalau besok aku melahirkan, boleh 'ga ibuku aku minta tinggal disini sampai masa nifasku selesai?"
"Maksudnya?" ucapnya sambil mengunyah rujak suapan istrinya itu.
"Mm ... maksudnya biar aja ibuk yang nemenin aku mengurus bayi kita diawal-awal aku melahirkan!"
"Maksud kamu? kamu 'ga mau ditemani ibuku? dan lebih memilih ditemani ibumu?"
Deg ...
"Bukan begitu mas, aku kan sungkan kalau terlalu banyak merepotkan ibumu mas!"
"Kamu 'ga usah hawatir, 'ga ada yg merepotkan, lagian ini cucu pertama dari keluargaku Nis, kamu tau sendiri kan?"
Ketakutan Nisa selama ini terjadi, pasti akan sulit membujuk suaminya ini agar menuruti keinginannya satu ini. Padahal ini juga cucu laki-laki pertama buat keluarganya jika prediksi dokter benar.
Tentu saja keluarganya akan sangat bahagia sekali nantinya. Tapi entah kenapa hatinya sangat menginginkan ibunya sendiri jika nanti masa melahirkan tiba, ia juga akan lebih nyaman jika ibunya sendiri yang menemani selama masa nifas nanti.
Entah itu perasaan Nisa saja, atau perasaan semua wanita hamil. Jika mereka akan merasa lebih nyaman, jika nanti saat menjalani masa nifasnya ditemani ibu kandungnya sendiri, bukan ibu mertuanya.
Nisa memang sangat merindukan ibunya, bahkan sejak proses mitoni kapan hari, ia juga belum bisa mengunjungi kedua orangtuanya lagi. Sejak kehamilan ini, Nisa menginginkan sangat dekat dengan ibunya, meskipun ibu mertuanya juga baik, tapi entah kenapa rasanya masih tidak sama jika ia berada di dekat ibunya sendiri.
Zein tersadar akan perubahan pada mimik wajah Nisa.
"Apa perkataanku ada yg salah? salahkah aku yang menginginkan ibuku sendiri yang akan merawat cucu pertamanya ini? tapi dia juga tidak boleh egois terhadap keinginannya sendiri."
Zein menyentuh kedua tangan Nisa.
"Kamu kecewa akan keputusanku?" tanyanya perlahan.
Nisa tersentak, lalu dianggukannya kepalanya dengan sangat pelan, takut kalau suaminya tersinggung. Apalagi ia tau suaminya itu sangat menyayangi ibunya, melebihi rasa sayangnya pada dirinya sendiri.
Zein menghela nafas panjang, entah kenapa istrinya itu tidak mengerti keinginannya. Tapi kalau hal ini diperdebatkan lebih panjang, ia takut akan membebani pikiran istrinya, dan pasti akan mempengaruhi kesehatan bayi dalam kandungan Nisa. Apalagi beberapa hari lagi sudah masuk waktu HPL Nisa.
"Baiklah ... kamu boleh mengajak ibu kesini, tapi ibuku juga ibumu akan tinggal bersama kita disini sampai masa nifas kamu selesai," ucapnya berusaha bertindak adil, ia tau kalau disuruh memilih diantara keduanya ia tak akan rela.
"Terimakasih mas." Ucap Nisa dengan bahagia.
Meskipun dihatinya masih ada sesuatu yang mengganjal, tapi Nisa tak mau mempermasalahkan hal tersebut, yang terpenting baginya ialah ijin dari suaminya tersebut.
Setelah selesai berdiskusi, maka Nisa pun merangkak di tempat tidurnya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Begitu pula dengan Zein, sesudah menaruh piring dan gelas susu di dapur, ia pun segera menyusul istrinya tersebut ke alam mimpi.
Keesokan harinya.
Zein sudah berpakaian rapi, begitu pula dengan Nisa sudah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Setelah sarapan Zein langsung berpamitan, dan menuju kantornya.
Sementara Nisa membereskan semua pekerjaan rumahnya sedikit demi sedikit, bila punggungnya terasa sakit, maka ia akan beristirahat sebentar. Dan bila sudah tidak terasa sakit ia akan melanjutkan membersihkan rumah.
Nisa dan Zein memang tak mempekerjakan asisten rumah tangga. Nisa lebih suka mengerjakan pekerjaan rumah sendiri ataupun bersama suaminya. Baginya mengurus rumah sudah menjadi kewajibannya.
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...