
"Hi how are you dear?" sapa Alexa ketika menelpon Yo di sela-sela jam kantornya.
"Hi baby i thought you forgot me."
"I'm sorry dear father gave me a lot of office work so I didn't even have time for the holidays."
Yo terkekeh akan alasan kekasihnya itu, padahal ia jelas-jelas tau kalau Alexa sibuk dengan tumpukan tugas-tugas kantor yang diberikan oleh ayahnya. Tetapi menggodanya adalah sesuatu yang menyenangkan baginya.
"So what in busy office hours like this you don't get scolded by dad if you call me?"
Kini Alexa-lah yang terkekeh akan ke-usilan kekasihnya ini.
"That's why we talk in whispers, so dad doesn't hear it."
"Okay, okay then do you want me to whisper intimate words or not?"
Lalu mereka pun menikmati obrolan mereka siang itu. Sesekali mereka saling mengulas senyum ketika Alexa mengubah obrolan mereka menjadi video call.
Tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu selama hampir empat puluh menit. Lalu sesudahnya mereka pun mengahiri obrolan mereka.
"Okay good job dear, don't miss me okay, because holding back longing is hard, let it be Dilan who bears it."
"Oke baby, love you ..."
"Love you too baby."
Tak terasa sudah hampir satu tahun Alexa dan Yo menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Meski orangtua Alexa sudah memberikan lampu hijau padanya, mereka tetap meminta waktu pada Yo agar putri mereka sedikit belajar tentang bisnis kedua orangtuanya. Agar jika waktunya tiba, Alexa bisa menggantikan kedudukan tertinggi di perusahaan itu.
.
.
...βββ ...
...Kediaman Zein...
Hal itu juga atas ijin Nisa. Ia tidak mungkin menghandle perusahaan milik suaminya itu setelah ini. Lagi pula kini ia sudah menikah dengan lelaki lain. Meski di dalam perusahaannya itu ada hak dari putranya. Tetapi ia tidak mau ikut campur lebih dalam lagi.
Di satu sisi ia takut keutuhan keluarganya akan terganggu jika ia masih berhubungan dengan suami terdahulunya itu. Hal itu ia ambil karena beberapa hari yang lalu saat Zein hadir di tengah-tengah acara saja sudah memberikan efek luar biasa, apalagi kalau Nisa berani kembali padanya.
Jujur saja, di dalam hati kecil Nisa, masih ada tempat spesial di hatinya. Tetapi sepertinya ia harus memendam perasaannya kali ini demi kebaikan semua pihak.
"Tuan ini beberapa berkas yang berhasil dikirim oleh Nyonya Nisa."
"Terimakasih ya Mang."
"Sama-sama, jika ada sesuatu yang Anda butuhkan bisa memanggil saya."
"Tentu."
Lalu Mang Dede meninggalkan ruang kerja Zein dan membiarkan Tuannya bekerja. Tetapi sesekali ia tetap menengok ataupun sekedar mengingatkan makan ataupun mengirim camilan untuknya.
Begitu besar hal yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya. Tetapi entah kenapa takdir cintanya tak selalu berakhir baik. Selama ini mereka hanya berusaha mempertahankan apa yang mereka miliki meskipun hanya sekedar cinta tetapi Zein akan selalu menjaganya.
Dulu hal yang menguatkan Zein hanyalah Nisa, tetapi kini Nisa sudah dimiliki oleh orang lain. Yang tersisa saat ini hanyalah Zi, putra mereka yang berhak mendapatkan kebahagian. Maka dari itu, meski saat ini ingatannya belum sepenuhnya pulih ia akan berusaha menjadi Zein seperti yang sebelumnya, atau mungkin menjadi Zein yang terbaik dari sebelumnya.
.
.
Bersambung
.
.
Semoga suka dengan part ini, jangan lupa LIKE, RATE, SHARE dan FAVORIT jika suka, terimakasih allπ