
Ting Tong ...
Suara bel rumah Zivanna berbunyi nyaring. Salah satu pelayan segera berlari untuk membukakan pintu.
"Selamat sore ..." ucap Kenzo agak kagok.
Maklum ia belum fasih berbahasa Indonesia, tetapi demi kesungguhan hati pada Zivanna ia sampai kursus bahasa Indonesia.
"Sore, maaf Tuan mencari siapa?" tanya pelayan itu sambil melihat bunga yang dibawa Kenzo.
"Ehm, maaf Zivanna ada?"
"Oh nona belum pulang, tapi Anda bisa menunggunya di dalam, karena sebentar lagi nona pasti sudah pulang."
"Oh, baik terimakasih."
"Mari, silahkan masuk."
Lalu pelayan itu segera mempersilahkan Kenzo untuk duduk. Sedangkan ia akan memberi tau Tuan Charless kalau ada tamu yang mencari putrinya.
Tok .. Tok ... Tok ...
"Permisi Tuan."
"Iya, masuk!"
"Di bawah ada seorang lelaki yang mencari nona."
PLUP ...
Tuan Charles menutup buku yang sedang dibacanya.
"Biarkan aku menemuinya."
"Baik Tuan."
Lalu ia pun segera berjalan menuju ruang tamu.
"Good evening sir." ucap Kenzo sopan.
"Good afternoon too, sorry who are you?"
"Introduce me kenzo, I'm your daughter's friend in LA."
"Oh yeah, why did Zivanna never tell about you."
"Maybe because he forgot about me."
Belum lagi mereka berbicang-bincang terdengar deru mobil di depan rumah.
"Sepertinya Zivanna sudah sampai."
"Iya."
Tap .. Tap .. Tap ..
Terdengar suara sepatu yang digunakan Zivanna. Ia pun kaget melihat sosok lelaki yang sedang berbincang dengan ayahnya.
"Kenzo ..." pekik Zivanna terkejut.
"Hai Zi ..." sapanya ramah.
"Bagaimana kamu bisa sampai disini?"
"I asked about your home address to the security guard at your company."
"Then what are you doing here?"
"To meet you and give this flower to you," ucap Kenzo dengan ramah.
"Ha-ah!!"
"Dasar buaya, tadi habis kencan dengan cewek lain, sekarang bisa-bisanya datang kemari," umpat Zivanna dengan kesal.
Sedangkan Tuan Charles masih asik memperhatikan interaksi anak dan teman lelakinya itu.
"Aya-ah, kenapa tidak mengusir laki-laki ini?" tanya Zivanna dengan ekspresi bingung.
Karena tidak biasanya ayahnya membiarkan orang asing bahkan lelaki untuk masuk ke rumah mereka.
Bukannya menjawab, tetapi respon ayahnya malah di luar bayangan Zivanna.
"Aya-aah ... kenapa hari ini semua laki-laki yang aku temui nyebelin sih!"
Tanpa menerima bunga itu, Zivanna malah pergi meninggalkan Kenzo. Kini tergambar jelas raut wajah kecewanya. Ia pun bingung kenapa Zivanna bisa kesal terhadapnya.
Padahal jika menilik ke dalam chat mereka beberapa waktu lalu, semuanya masih baik-baik saja. Tetapi apa ini, kini ia terlihat sangat kesal padanya.
Kenzo hanya bisa menarik nafas panjangnya saka sembari melihat ke arah Zivanna yang sudah hampir tak terlihat. Tiba-tiba Tuan Charles sudah berdiri di sampingnya.
"Anak muda, biarkan aku yang memberikan bunga ini padanya, kamu tunggulah disini."
"Thank you very much sir."
"Your welcome."
Lalu diraihnya buket bunga itu dari tangan Kenzo lalu dibawa menuju kamar tidur putrinya.
.
.
Sementara itu ...
"Dasar cowok nyebelin, buaya ... aaaa...."
BRUKK!!
Zivanna melempar bonekanya ke arah pintu. Beruntung boneka itu tidak mengenai wajah Tuan Charles.
"Zivannaaa...."
Zi berbalik dan menatap wajah ayahnya, tak lupa ia memamerkan barisan giginya itu.
"Yes, Dad."
"Apa-apaan ini?" tanya Tuan Charles bingung ketika mendapati kamar putrinya sudah tidak berbentuk.
"He ... he ... he ... sorry."
.
.
.
Bersambung