After Married

After Married
KENANGAN MANIS



"Mungkinkah itu pacar Nisa?" batin Fadhil yang sedang cemburu siang itu.


"Baiklah, kita mulai permainannya dari sekarang."


πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ


Ahirnya sore itu Nisa harus benar-benar merelakan Zein kembali ke kota J. Saat ia harus melepas kepergian Zein, tak terasa buliran air mata terus mengalir di kedua pipinya, sejak dari hotel menuju bandara, pipinya dibasahi air mata.


Zein yang melihatnya sangat sedih, ahirnya dengan berat hati dan rasa sakit yang sama dengan apa yang dirasakan Nisa, ia pun mengusap air mata Nisa dan memeluknya dengan erat. Ia ingin menyalurkan kehangatan nya dan kekuatannya agar Nisa bisa kuat.


"Nisa sayang, dengerin kakak, Nisa sayang sama kakak kan?"


Dijawab anggukan kecil oleh Nisa.


"Kalau gitu Nisa janji jangan nangis, sebentar lagi kita akan bersama dan kak Zein janji 'ga akan ninggalin kamu."


Nisa yang mendengar ucapan Zein mencoba kuat, ia pun menengadahkan wajahnya ke arah Zein. Kedua netra mata mereka saling menatap satu sama lain. Dan saat seperti inilah yang membuat Zein ingin mengecup bibir merah muda milik Nisa yang sedari kemarin menggodanya.


"Cup ..."


Ahirnya satu kecupan ia daratkan di kedua punggung tangan Nisa.


"Nisa sayang, kakak berangkat dulu ya, jaga diri Nisa baik-baik. Love you Nisa," pamit Zein segera berlalu dari hadapan Nisa.


"Love you to kak, hati-hati ..."


Dan ahirnya Zein benar-benar meninggalkannya.


Zein pun membalasnya dengan lambaian tangannya, yang terus ia arahkan pada Nisa. Sampai ahirnya bayangan punggung kak Zein semakin hilang.


Ahirnya dengan langkah gontai, ia kembali ke kost dengan naik taksi online.


Ahirnya malam itu mereka terpisah oleh jarak dan waktu lagi. Akankah kisah cinta mereka langgeng seperti dulu lagi?


πŸƒNisa pov -


Ahirnya jam sepuluh malam ia sampai di kostnya. Hari ini ia benar-benar kelelahan baik secara fisik dan mental.


Disaat ia bahagia mendapatkan perhatian lebih dari kekasihnya, disaat itu pula ia harus berpisah kembali karena tuntutan pekerjaan.


"Kak Zein aku merindukanmu," ucap Nisa sambil melihat foto kenangan mereka saat bersama tiga hari ini di galery foto HP Nisa.


Dan disaat ia membayangkan kenangan bersama Zein, ponselnya berbunyi.


Dret ... dret ... dret ...


"Kak Fadhil ...:oh my good aku lupa ama keadaan kak Fadhil," serunya terkaget.


"Hallo kak ..."


"Hai Nisa, maaf ganggu ya?" tanyanya sangat hati-hati.


"Engga kak, maaf ya Nisa sampai lupa 'ga memberi kabar kakak, gimana kabar kakak? udah lebih sehat belum?" tanyanya memastikan kondisi Fadhil.


"Alhamdulillah udah enakan, tadi Yogi udah kesini, makasih ya ..."


"Lo Nisa belum ngapa-ngapain kok udah bilang terima kasih si?"


"Bukannya tadi yang nyuruh Yogi kesini kamu?" tanya Fadhil memastikan.


Nisa pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Oh iya maaf Nisa lupa ..."


"Semoga cepat sembuh ya kak, Nisa mau bubuk dulu."


"Iya Nisa, have a nice dream's."


"Makasih."


Dan Nisa pun menutup panggilannya tersebut untuk segera beristirahat. Begitu pula Fadhil segera menyusul untuk istirahat.


πŸƒZein pov -


Di dalam perjalanan, Zein masih mengingat setiap memory yang ia habiskan hari ini, yaitu dengan bersama Nisa sepanjang hari. Wajahnya yang manis membuatnya selalu kangen setiap waktu. Ingin rasanya ia mempercepat waktu dan segera menjadikannya istri.


Tapi ia harus berusaha dan bekerja keras sekarang, agar saat Nisa sudah siap, dirinya sudah mapan secara fisik dan finansial.


Ia juga menjadikan foto Nisa sebagai walpaper di HPnya.



Dan satu-satunya doa yang selalu ia panjatkan adalah semoga ia dan Nisa bisa bersama suatu saat nanti ... aamiin.


Keesokan harinya.


Semalam ia sudah menelpon Yogi dan menanyakan dimana Nisa. Dan dari semua yang dibicarakannya ia tau bahwa yang jalan kemarin siang dengan Nisa adalah Zein pacarnya dari kota J.


Dan sekarang ia tau bahwa Nisa menjalani hubungan LDR, artinya ia mempunyai banyak kesempatan mendekati Nisa, tidak mungkin bukan tidak ada celah antara keduanya.


Ia sudah bertekad untuk mendekati Nisa bagaimanapun caranya. Ia ingin membalas sakit hatinya pada kekasihnya yang sudah meninggalkannya karena tidak mempunyai harta.


...***...


🌱 Kantor Nisa


Ahirnya tadi pagi yang ia ingat hanya tinggal kenangan bersama Zein, tidak ada lagi yang mengantar atau menunggunya pulang. Dan mereka akan kembali berhubungan by phone dan juga LDR.


Hari itu, a memulai pekerjaannya dengan kurang semangat. Berbeda saat ia kedatangan Zein. Tapi ia harus menjaga semangatnya kembali agar saat ia ketemu Zein nanti ia tidak mengecewakannya. Lagi pula ia harus bekerja secara profesional.


Ia juga menginginkan posisi yang lebih baik lagi agar bisa dipercaya untuk bisa ikutan melakukan survey ke luar kota dan luar negeri. Ya itu salah satu tujuan Nisa bekerja dengan sangat giat.


Dan pagi ini, Nisa juga membawa foto Zein sebagai penyemangatnya saat ia lelah bekerja. Entah kenapa sebuah foto itu mampu memberikan Nisa energi berlipat-lipat, sehingga semua pekerjaannya terlihat sempurna dan selesai tepat waktu.


Oh ya, ada yang penasaran ga dengan penampilan Nisa saat di kantor, kalo iya ... author kasih bocorannya ya...😊



...***...


🌱 Kantor Zein



"Selamat pagi pak ..."


"Selamat pagi pak .."


Dan Zein pun membalasnya dengan senyuman pada para bawahannya.


Itulah beberapa sapaan yang diberikan karyawannya, saat Zein melajukan langkahnya ke ruang kerjanya. Memang mulai saat ini Zein sudah berganti jabatan.


Ia sudah menjadi tangan kanan bosnya sekaligus SPV muda dibagiannya. Karena kepandaian dan kelincahannya mengerjakan proyek-proyek di perusahaannya, makanya ia cepat naik jabatan.


Dan dengan posisi ini ia akan lebih mudah berdekatan dengan Nisa. Posisi ini juga memudahkan untuk dia dipindahkan ke cabang di luar kota termasuk kota tempat Nisa berada.


"Satu langkah awal baru saja dimulai Nisa sayang, tunggulah aku." Ucapnya sambil mengecup foto yang ada di meja kerjanya.


Saat ini ia juga sudah mempunyai sebuah ruangan khusus jadi tidak menjadi satu dengan karyawan lain, makanya ia berani menaruh foto Nisa disitu.


"Nisa ... rasanya sulit sekali meninggalkanmu sendirian di kota itu, andai bisa ku ulang waktu, pasti akan aku bawa kau bersamaku di kota ini ... i love you Nisa ..."


Ia pun mengusap bibirnya dan kembali membayangkan adegannya kemarin di bioskop bersama Nisa.


"Sungguh bibirmu, harum rambutmu semua yang ada pada dirimu sudah menjadi candu bagiku Nisa ..." Zein pun senyam senyum sendiri sedari tadi.


Tok


Tok


Tok


"Permisi pak!"


Karena ia mendengar ada yang mengetuk pintu ruangannya. Ia pun tersadar akan lamunannya dan kembali fokus pada pekerjaannya, tak lupa ia mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke ruangannya.


~ Bersambung ~


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAKπŸ™πŸ˜Š...