After Married

After Married
KENCAN PART 2



Zein yang sedari tadi sengaja menggoda Nisa hanya senyam-senyum melihat Nisa yang salah tingkah dari tadi. Sungguh tingkah laku Nisa saat ini membuatnya bahagia dan menjadi hiburan tersendiri untuknya.


πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ


"Ehemm ..." deheman Zein makin membuat Nisa grogi dan salting kala itu.


"Kamu kenapa si Nis? 'ga nyaman ya sama tempatnya?"


"Em ... sebenarnya iya kak, maaf ya Nisa 'ga biasa makan di tempat kayak gini ...." sahut Nisa jujur.


"Ya dah, kalo gitu, kamu mau pergi kemana? aku ngikut aja deh!"


"Ha ha ha ... jangan ngaco deh kak! Selama Nisa di kota ini, Nisa jarang banget keluar kost. Jadi jujur Nisa 'ga tau tempat-tempat disini kak!"


"Maaf ..." ucap Nisa seraya menunduk.


Tentu saja ia sangat malu, apalagi di tempat ia tinggal sekarang, kehidupannya hanya seputar tempat kerja, kost, sama beberapa tempat makan, itupun letaknya dekat dengan area tempat kerja.


"Aishhh ... gadisku ini benar-benar sangat menggemaskan dan lugu, kamu memang spesial Nisa," gumam Zein dalam hatinya.


Nisa adalah sosok pacar yang masih lugu ketimbang dengan mantan-mantan Zein yng terdahulu. Meskipun bukan player, tetapi Zein cukup banyak penggemar saat sekolah. Jadi tentu ia memiliki banyak penggemar dan beberapa diantaranya pernah ia jadikan kekasih.


"Ya sudah, selama aku disini kita kencan yuk!" ucap Zein jujur dan tentu saja membuat Nisa mengarahkan pandangannya langsung ke arah Zein.


"Kita jelajahi kota ini berdua, kita jalan-jalan dikota ini, mumpung aku dapat cuti beberapa hari, kamu mau?"


"Eh ... asyik ... yes yes yes ..." ucap Nisa spontan.


Inilah salah satu sifat Nisa yang dirindukan Zein, sifat ceria Nisa, sifat apa adanya, sungguh membuat Zein bahagia memiliki Nisa.


"Ya dah, cepetan makannya sayang, bentar lagi maghrib lo! Kita jamaah yuk!" pinta Zein pada Nisa.


"Siap kak!"


Dan mereka berdua pun menyelesaikan makan sore mereka. Lalu terdengar sayup-sayup suara adzan Maghrib. Zein meminta Nisa untuk ikut ke kamar Zein untuk jamaah sholat.


Tapi Nisa ragu-ragu, Zein yang paham akan bahasa tubuh Nisa, berinisiatif memegang tangan Nisa dan mencoba menyakinkannya tidak akan terjadi apa-apa disana.


"Tenang Nis, kita hanya jamaah kok!"


"Sesudah itu kita jalan-jalan, ingat kita 'ga ngapa-ngapain kok dikamarku."


"Kamu percaya aku kan?" tanya Zein yang masih setia memegang kedua tangan Nisa sedari tadi.


Nisa malah melamun, dan tentu saja otaknya sudah traveling kemana-mana.


"Hei ...!" Nisa sayang ... kalau kamu melamun aku cium disini lo ...."


Sontak saja Nisa tersentak. Semburat merah pun muncul di kedua pipi Nisa.


"Eh, jangan!" Nisa segera menarik tangannya dan menutup wajahnya yang sudah memerah.


"Udah yuk, keburu waktu maghribnya habis." ajak Zein ke Nisa dan langsung menggandeng Nisa menuju kamar tempat menginapnya di hotel itu.


Dan ahirnya mereka sholat berjamaah di kamar hotel tempat Zein menginap. Lalu sesudahnya Zein mengambilkan hadiah buat Nisa sekaligus oleh-oleh kesukaan Nisa.


Nisa pun begitu senang sudah dibawakan oleh-oleh kesukannya. Ia pun egera mengucapkan banyak terimakasih sama Zein.


Lalu sesudah itu mereka berkencan malam untuk pertama kalinya.


Malam itu Zein meminjam motor salah satu temannya Nisa. Dan tadi dia juga sudah minta tolong buat diantar ke hotel. Siapa lagi kalo bukan Yogi, karena dia juga teman dekat Zein.


Yogi yang tahu akan kedatangannya sahabat sekaligus pacar Nisa amat senang. Sebagai sahabat Nisa, ia tau Nisa sangat merindukan kekasihnya itu.


Karena keduanya sangat sibuk, maka pertemuan keduanya pun jarang terjadi. Dan baru kali ini mereka bisa berkencan untuk pertama kalinya.


Sesampai loby hotel, Nisa kaget ada motor Yogi disana.


"Loh ... kok, ada motor Yogi disini kak?"


"Iya, tadi kakak pinjam, aku takut kalo aku pakai mobil, kamu tambah 'ga nyaman!" seru Zein.


Padahal aslinya dia juga belum bisa nyetir mobil, wkwkwkwk ... tapi ia sangat gengsi sama Nisa.


"Em, kakak tau aja! he he he ... yuk jalan!" ajak Nisa dengan senyuman manisnya.


Ahirnya mereka bedua pun berboncengan. Tapi dasar Nisa, tangannya sama sekali 'ga mau berpegangan di pinggang Zein, bahkan ia berpegangan pada jok motor.


Zein hanya tersenyum simpul, ia tau Nisa 'ga mungkin mau memeluknya. Toh memang belum saatnya. Kalo udah saatnya mah, semua boleh dilakukan.


Malam itu kedua remaja yang sedang kasmaran itu hanya berkeliling kota sembari kadang-kadang melihat taman kota X. Dan kadang berhenti di jembatan yang banyak lampu-lampu romantis gitu.


Pokoknya so sweet gitu ... romantis kaya di film.


Nisa sungguh menikmati kebersamaan dengan Zein malam itu, ia tak pernah merasakan kencan sebelumnya dan ini adalah kencan pertama Nisa, tetapi author engga paham, sudah berapa kali Zein melakukan seperti ini.


Karena suasana mendukung, tiba-tiba Zein mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dari saku celananya. Nisa pun menoleh ke arah Zein.


Ditemani kerlap-kerlip lampu jembatan simbol kota X. Zein akan melalukan sebuah kejutan untuk kekasihnya tersebut.


"Nisa, maukah kau menikah denganku?" tanya Zein yg tiba-tiba berlutut dihadapan Nisa.


Nisa pun terkaget akan kelakuan kekasihnya tersebut.


"Eh ... kak Zein, apa-apan si?" tanya Nisa gugup, terang saja karena tindakan Zein diluar dugaan Nisa.


"Kalau Nisa belum siap, aku akan menunggumu sampai kau benar-benar siap menjadi istriku. Apa kamu mau menjari ibu dari calon anak-anak kita Nisa?" tanya Zein dengan lembut.


Nisa benar-benar tidak tau harus berbuat apa, senang, terharu menjadi satu. Tetapi disisi lain, dirinya belum siap menikah.


Tapi ia juga sangat menyayangi Zein, ia pun takut kehilangan Zein. Karena Zein-lah yang saat ini merupakan tempat ternyaman buat Nisa.


Dia selalu ada disaat Nisa butuh dorongan atau nasihat. Bahkan Zein sangat hafal bagaimana memanjakan Nisa dan mengubah Nisa yang tomboy dan bar-bar, menjadi sedikit lebih feminim.


πŸƒFlash back on


Nisa saat sekolah adalah cewek tomboy, maka dari itu Zein belum tertarik. Tapi karena keceriaan Nisa dan sifat akrabnya membuat Zein sedikit tertarik padanya.


Dulu ia masih mempunyai pacar, yaitu teman Nisa. Tapi ia lebih feminim dari Nisa dan lebih kalem. Entah kenapa lama-lama Zein sadar ia tak memiliki rasa terhadapnya, maka dari itu ia pun memutuskan ikatan cinta mereka.


Sesudah itu Zein tak memiliki pacar lagi bahkan sampai lulus sekolah, sampai ahirnya takdir mempertemukan mereka kembali saat reuni sekolah. Ya saat itu Nisa diajak Yogi ke acara itu.


Karena posisinya mereka baru aja jadi teman kantor dan satu tempat magang, maka Yogi mengaja Nisa ke acara reuni itu. Kebentulan saat itu mereka lagi pulkam. Jadi diajaklah Nisa, yang notabene sama-sama lulusan sekolah yang sama dengan Zein dan masih satu angkatan dengan mereka, meski bukan satu kelas.


Dan dari situlah mereka bertukar no telpon dan lanjut sampai hubungan pacaran deh.


Intinya "tresno iku jalaran seko glibet" yang artinya cinta datang karena sering bertemu dan memberi kabar satu sama lain.


πŸƒFlash back Off -


Nisa yang sangat mencintai Zein dan tentu saja tak ingin menyakiti hati kekasihnya tersebut. Ahirnya ia menerima pemberian Zein, tetapi bukan berarti ia menerima lamaran Zein.


Karena waktulah yang akan membuktikan kekuatan cinta mereka pada ahirnya. Akankah mereka sanggup melewati berbagai ujian nanti. Apalagi saat ini mereka lagi menjalin hubungan cinta secara LDR, tentu saja banyak rintangan yang akan datang.


Nisa 'ga munafik, dengan kebaikan Zein tentu saja akan banyak wanita yang rela menjadi pacarnya disana. Dan ia sadar ia bukanlah wanita sempurna yang mempunyai sejuta pesona, bahkan tubuhnya saja tidak seksi, wajahnya juga natural, ga bisa dandan lagi, banyak minusnya kan?


Ya maaf untuk saat ini Nisa masih berjuang, besok-besok kalau sudah banyak uang, Nisa mau perawatan tubuh kayak SPA, dll. Biar makin cantik dan bersinar, setuju kan ya?


~ Bersambung ~


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAKπŸ™πŸ˜Š...