After Married

After Married
PRIORITAS UTAMA



......................


Nisa dan Zein memang tak mempekerjakan asisten rumah tangga. Nisa lebih suka mengerjakan pekerjaan rumah sendiri ataupun bersama suaminya. Baginya mengurus rumah sudah menjadi kewajibannya.


Hari semakin siang, tak terasa ia sudah menghabiskan sebagian harinya untuk membereskan rumah, sekarang saatnya dia beristirahat sejenak.


Cenut ... cenut ... cenut


Entah kenapa dari kemarin perutnya sudah sedikit sering merasakan kontraksi palsu. Kadang-kadang muncul, terkadang hilang dengan sendirinya. Bahkan gerakan bayi dalan kandungannya makin terasa sekali.


Dia bisa merasakan tendangan halus dari pergerakan aktif bayinya tersebut. Bahkan kalau dilihat dari luar, terkadang perut Nisa kelihatan tidak bundar, melainkan sedikit melenceng ke kanan atau ke kiri. Sesuka hati bayi dalam kandungan Nisa-lah intinya. Pergerakannya bebas, dan Nisa sangat bahagia melihat tumbuh kembang bayi dalam kandungannya tersebut, meskipun kadang membuat Zein hawatir saat melihatnya.


Hari sudah semakin siang. Ia teringat harus segera memesankan tiket kereta api untuk kedua orangtuanya begitu pula dengan mertuanya. Siang itu ia meminta bantuan temannya, yaitu Yogi untuk memesankan tiket untuk keluarganya saat waktunya nanti tiba. Dan Yogi pun bersedia membantu Nisa.


Selama ini persahabatan mereka terjalin cukup baik, tetapi hubungan persahabatan dengan Fadhil agak merenggang entah karena apa. Bahkan kabar tentang Fadhil sudah tidak ia dengar sampai saat ini.


Kabar terahir yang ia dapat adalah sesaat sebelum hari pernikahannya. Dan Fadhil sendiri yang menelpon Nisa dan memberikan selamat serta doa agar pernikahan Nisa dan Zein langgeng.


Tapi sesudah itu mereka sudah tidak saling memberi kabar satu sama lain. Lain halnya dengan Yogi yang masih berhubungan baik dengan Fadhil.


Sebenarnya ia juga tau dimana keberadaan Fadhil saat ini. Tetapi ia melarangnya agar ia tak memberi kabar pada Nisa tentang keadaannya itu. Dan Yogi memegang teguh janji pada sahabatnya tersebut.


Meskipun belum tau dengan pasti, kapan ia akan melahirkan, tetapi ia sudah diberi tahu tentang HPL-nya oleh dokter yang menanganinya. Jadi ia sudah mempersiapkan segalanya. Bahkan ia mengambil cuti 2 minggu sebelum HPL.


Tapi karena ini masih anak pertama, bisa jadi waktu melahirkan bisa maju satu minggu, atau bisa mundur satu minggu. Tapi semuanya masih tahap wajar kata dokternya.


Selama kehamilan Nisa sudah melakukan tes USG beberapa kali, bahkan jenis kelamin calon anaknya sudah ia ketahui. Tapi ia tetap merahasiakan pada pihak keluarganya, begitu pula dengan Nisa yang tak memberi tahu tentang jenis kelamin calon anaknya itu.


Dari kemarin, ia juga sudah mengemasi beberapa pakaian untuk keperluannya jika melahirkan nanti, meskipun begitu, untuk bayinya ia belum menyiapkan apapun. Karena kedua orangtua Zein belum memperbolehkan ia untuk berbelanja keperluan bayi, katanya pamali.


Dan yang pasti, ia tidak mau berdebat karena hal itu, meskipun ia menerimanya dengan berat hati akan keputusan mertuanya tersebut. Padahal saat melihat berbagai pakaian bayi, tangannya sudah gatal ingin membelinya.


Tapi ia tak punya keberanian untuk itu. Apalagi dari tatapan mata Zein yang sudah mengintimidasinya, sehingga membuatnya hanya pasrah dan menuruti keinginan suaminya tersebut.


Zein juga sudah berjanji untuk membelikan keperluan bayinya jika anaknya sudah lahir nanti. Tetapi Nisa juga tidak hilang akal, ia sudah meminta ibunya untuk membelikan beberapa pasang baju bayi yang lucu-lucu dan beberapa perlengkapan lainnya. Agar saat anaknya lahir, setidaknya ia sudah memiliki baju bayi yang bersih.


Pasti nanti kalau membelinya mendadak, jelas belum dicuci kan? apakah steril untuk bayinya nanti? jadi ia berinisiatif sendiri untuk meminta bantuan dari ibunya, agar beliau membelikannya beberapa pasang baju bayi dan perlengkapan lainnya. Tapi semua dilakukan tanpa sepengetahuan Zein tentunya.


Padahal di awal kehamilan ini Zein dan Nisa sudah sama-sama antusias untuk mempersiapkan segalanya. Meskipun banyak larangan yang didapatnya, tetapi entah kenapa dorongan dari dalam dirinya menyuruhnya berbuat lain.


Nisa juga tak habis akal, karena selama cuti ia hanya di rumah, untuk mengusir rasa bosan, maka ia membuka situs online baby shop. Ia selalu dimanjakan dengan berbagai bentuk baju bayi laki-laki yang sangat lucu.


Jadi ia tak perlu keluar rumah, ataupun merepotkan siapapun. Lagipula ia juga memakai gajinya sendiri, dan bukan uang bulanan dari suaminya tersebut. Jadi ia tak mau ambil pusing.


πŸƒZein pov


Sementara itu di kantor, Zein masih sibuk akan pekerjaannya. Saat ini konsentrasinya terpecah belah menjadi dua, sebagian di kantor, dan sebagian lagi di rumah. Ia ingat istrinya di rumah selalu menunggunya.


Apalagi kondisinya sekarang sudah hamil besar, sementara ia tidak mau dipulangkan ke rumah orangtuanya di kampung, jadi ia hanya sendirian di rumah. Meskipun ia sudah memberi pesan padanya, bila terjadi apa-apa segera menelponnya.


Tapi kondisi saat ini berbeda. Apalagi ini kehamilan pertama buat Nisa dan tentu saja membuat Zein harus menjadi suami siaga. Dan kehawatirannya semakin mendekati HPL semakin bertambah besar.


Ia memijit ujung pelipisnya dengan sedikit keras, karena beban pikirannya saat ini, bagaimana caranya nanti agar bisa cepat pulang, saat istrinya merasakan kontraksi.


Lalu bagaimana mengurus semuanya nanti, jika di kota besar ini ia hanya sendiri. Ia pun harus memutar otak, bagaimana caranya agar ia bisa memulangkan istrinya tersebut.


Bukan bermaksud tidak sayang padanya, justru karena ia sayang, makanya ia lebih memilih istrinya melahirkan di kota kelahirannya saja. Agar nanti bayi dan istrinya biar dirawat oleh ibunya di rumah saja. Setidaknya didesa akan banyak sanak family yang akan membantu mereka.


Lagian di rumahnya banyak keluarga yang bisa membantunya merawat bayi mereka nanti. Hal itu tidak akan berlangsung lama, melainkan sampai usia bayi mereka 3 bulan.


Setelah itu mereka akan berkumpul lagi dengannya. Dan jika Zein rindu pasti ia akan pulang untuk menemui istri dan anaknya nanti. Jika perlu satu minggu sekali ia akan mengusahakan untuk pulang.


Tapi sampai saat ini ia belum menemukan caranya agar Nisa mau menurutinya. Sedangkan yang Zein tau, Nisa adalah pribadi yang keras kepala.


Kalaupun dia memaksa Nisa, bisa-bisa membebani pikiran istrinya itu. Bagaimanapun keadaannya Nisa adalah kebahagiaannya saat ini, apapun yang menjadi keinginannya akan menjadi prioritas terbesarnya.


Cepat atau lambat ia harus segera membawa Nisa pulang kampung. Agar konsentrasinya tidak akan terpecah belah lagi. "Semoga kamu mengerti ya sayang, I love you." Ucapnya dalam hati sambil memegangi foto cantik Nisa di HPnya.



...JANGAN LUPA DUKUNG KARYA AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...VOTE/GIFT ...


...KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI BUAT AUTHOR πŸ™πŸ˜Š...