After Married

After Married
KEPELESET



Beberapa menit kemudian Fadhil sudah sampai di rumahnya. Ia bergegas turun dari mobil untuk masuk ke rumah. Belum sempat ia membuka pintu rumah, sudah terdengar teriakan istrinya.


"Akkhhh... tolong ..." jerit istrinya.


Dengan tergopoh-gopoh Fadhil segera masuk ke dalam rumah. Ia berlari mencari sumber suara tersebut dengan segera.


Sedangkan Mbok Ijah yang sedang memasak segera mematikan kompor dan berlari mengikuti tuannya ke kamar atas.


Sampailah ia di tempat Nisa berada. Ternyata Nisa terpeleset di kamar mandi. Ia masih memegangi perutnya sembari meringis menahan sakit.


Dilemparnya tas kerjanya ke sembarang arah, lalu ia berlari menuju istrinya. Direngkuhnya tubuh sang istri dan digendongnya ia menuju tempat tidur.


"Apa yang sakit sayang? sebentar aku panggilkan dokter!" ucap Fadhil panik.


Lalu ia meraih telepon dan segera menelpon dokter Richard. Sedangkan Mbok Ijah mengambilkan air putih agar bisa diminum segera oleh Nisa.


"Ini non diminum dulu," ucapnya sambil menyerahkan air putih itu.


"Terimakasih mbok."


Lalu Nisa meneguk air putih yang baru saja dibawakan asisten rumah tangganya itu. Setelahnya ia pun permisi untuk kembali memasak.


Di sudut ruangan Fadhil sedang menelpon dokter pribadinya.


"Hallo ..." ucapnya.


"Hallo Richard! ini aku Fadhil, aku minta segera datang ke rumahku sekarang!"


"Nisa baru saja terpeleset di kamar mandi, aku tunggu dalam sepuluh menit kamu harus sampai!"


"A ..."


Tut


Tut


Tut


"Sial ..." umpatnya.


Belum sempat sepatah katapun keluar dari mulut dokter tampan itu, Fadhil sudah menutup sambungan teleponnya.


"Gila ...! dia kira jarak rumah sakit ke rumahnya hanya satu kilometer apa? apalagi sekarang jam sibuk!" omelnya.


Meskipun begitu ia tetap menuju rumah sahabatnya itu. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat parkir sambil membawa peralatan medisnya.


Ia juga begitu khawatir terhadap istri mendiang sahabatnya itu. Meski sekarang Nisa sudah menikah kembali dengan oranglain. Tetapi ia yakin Fadhil juga sangat mencintai Nisa seperti Zein.


Dua puluh menit kemudian, mobil mercedes benz c-class hitamnya sudah terparkir rapi di halaman rumah Fadhil. Ia bergegas masuk rumah ketika Mbok Jah membuka pintu utama tadi.


"Den Fadhil dan Non Nisa ada di kamarnya tuan."


"Terimakasih mbok."


Lalu dengan segera ia menuju kamar Nisa.


Brakkk...


Nisa dan Fadhil menengok ke arah pintu.


"Hmm, kamu keluar dulu, biarkan aku memeriksa istri dan janin didalamnya!"


Fadhil memundurkan langkahnya lalu dokter muda itu segera memeriksa Nisa.


Nisa masih memegangi perutnya sembari meringis. Fadhil yang melihatnya sedikit ngilu karenanya.


Lima menit kemudian, ia selesai memeriksa Nisa. Peralatan medis yang ia gunakan sudah ia kemasi kembali dalam tas kerjanya.


Dokter Richard tampak menghela napas. Fadhil dan Nisa yang melihatnya penasaran akan hasil pemeriksaannya tadi.


"Kamu beruntung Nisa, dia bayi yang kuat. Untung saja saat kamu jatuh kamu bisa menahan berat tubuhmu sehingga ia aman."


"Alhamdulillah, lalu kenapa ekspresimu seperti itu?" tanya Fadhil keheranan.


"Tapi aku hawatir pada Nisa. Otot-otot di perutnya pasti masih tegang, tapi tenang akan aku berikan obat untuknya."


"Terimakasi dokter."


Lalu ia pun menuliskan resep obat untuk Nisa.


"Oh ya, sebaiknya segera buat janji para dokter Wenny, agar ia bisa memeriksa istrimu lebih teliti nanti," ucap Fadhil sambil menyerahkan kertas resep obatnya.


"Terimakasih sahabat."


"Sama-sama," ucap dokter Richard pada Fadhil.


"Biarkan istrimu istirahat, dan jangan lupa nanti sore segera bawa ke dokter Wenny."


"Oke."


Dokter Richard menoleh, "Aku pamit dulu Nis, semoga segera pulih."


"Terimakasih dokter," ucap Nisa sambil tersenyum ke arahnya.


Fadhil pun mengantarkan sahabatnya itu sampai lantai dasar. Di sepanjang perjalanan mereka sesekali mengobrol.


"Maaf aku berbohong sesuatu hal padamu," ucap dokter Richard setelah sampai di pintu utama.


Fadhil pun menoleh, "Apa?"


"Karena kondisi hipertensi pada Nisa semakin parah, aku tidak bisa menjamin anakmu akan lahir pada HPL-nya."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Fadhil hawatir.


"Obat yang aku berikan nyatanya tidak mampu menurunkan kadar hipertensi yang terjadi. Hanya satu hal yang dapat menyembuhkannya ..."


"Katakan padaku ..." ucapnya sambil memegang kedua bahu dokter muda itu.


"Kemungkinan terburuk istrimu harus segera melahirkan, hal itu untuk mengurangi resiko yang terjadi di kemudian hari nanti."


Dari perkataan dan raut wajah dokter Richard hal ini sangat urgent. Fadhil memang harus segera mengambil keputusan.


Salah sedikit ia melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan. Hal itu bisa mempengaruhi kesehatan Nisa maupun bayinya.


Fadhil pun tidak mau ambil pusing dan ia pun menuruti perkataan dokter Richard.