After Married

After Married
BERTEMU SAHABAT



Ketika senja mulai menabur jingga di langit, itulah pertanda jika sang mentari akan kembali ke peraduannya.


Sudah lebih dari dua belas jam, Zein tertidur di atas brankar rumah sakit. Kini mata yang sudah tertidur lama itu kembali terbuka.


Cahaya lampu ruang inapnya membuat kedua kelopak matanya mengerjap akan cahaya yang mereka pancarkan. Semerbak harum khas obat-obatan kini menyeruak di dalam indera penciumannya.


"Dimana aku?"


Dilihatnya salah satu tangannya tertancap sebuah selang infus. Itu artinya kini ia sedang berada di rumah sakit.


Ceklek.


Tampak seorang suster keluar dari balik pintu. Ia pun tersenyum kepadanya.


"Selamat malam Bapak Zein, bagaimana kabarnya sudah agak enakan?" tanyanya ramah.


"Saya dimana sus?"


"Bapak sedang di rumah sakit, kemarin anda demam, makanya Anda dibawa kesini."


"Oh, kapan saya bisa kembali?"


"Bapak sedang dalam masa obeservasi, karena ada sesuatu hal yang ingin dipastikan oleh dokter Richard."


"Siapa itu dokter Richard?"


"Itu dokter yang menangani Anda."


"Bisakah saya bertemu dengannya?"


"Boleh Pak, sebentar lagi beliau kesini, mohon bersabar ya Pak, saya permisi dulu."


"Terimakasih suster."


"Sama-sama."


Benar saja, baru saja suster itu melangkah pergi, dokter yang dimaksud sudah berada di ambang pintu. Ia juga tersenyum manis di ujung sana.


"Hai dok, baru saja saya mau manggil dokter, eh keduluan dokter sudah berkunjung kesini."


"Ha ha ha, bisa saja sus, terimakasih."


Lalu setelah beberapa saat berbincang dengan susternya, pandangannya pun kembali fokus pada Zein.


"Selamat malam Zein."


"Malam dokter, tetapi maaf nama saya Fajar bukan Zein."


"Oh iya, maaf saya lupa."


"Bagaimana keadaan Anda sekarang? masih ada keluhan atau?"


Fajar tampak berfikir sesuatu, "Ada dok, setiap saya mencoba mengingat sesuatu saya tidak bisa."


"Ingatan saya hanya sebatas beberapa hal saja, lalu sesudahnya saya pusing."


Richard tampak memperhatikan dengan seksama setiap ekspresi yang ditampilkan oleh sahabatnya itu. Benar-benar ekspresi seorang Zein ketika bingung. Dari situ ia menarik kesimpulan kalau sahabatnya itu benar-benar mengalami amnesia.


Mungkin kecelakaan kemarin membuatnya gegar otak di kepalanya. Oleh karena itu ia akan berusaha sebaik mungkin untuk mengembalikan ingatan sahabatnya ini, meskipun kemungkinan hal itu bisa berhasil hanya lima puluh persen.


"Kamu tenang saja, jangan pernah memaksakan sesuatu jika memang hal itu membuat sakit."


"Bolehkah aku bertanya beberapa hal tentang Anda?"


"Boleh dok, silahkan!"


Lalu Richard mulai bertanya tentang kegiatan yang ia lakukan selama hampir tujuh tahun menghilang. Fajar dengan suka rela menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutupi sedikitpun.


Semakin lama, Richard semakin interest dengan semua cerita yang diungkapkan oleh Zein. Tak terasa waktu semakin malam, jam di pergelangan tangannya pun mulai menunjukkan hampir pukul sembilan malam.


Karena teringat sang istri dan putrinya, ia pun berpamitan.


"Terimakasih Fajar sudah berbagi pengalaman yang sangat berharga pada saya malam hari ini, saya permisi dulu ya."


"Iya dokter, sama-sama."


"Senang berbincang-bintang pada Anda, semoga lekas membaik, sampai jumpa esok hari."


Zein tersenyum memandangi dokter muda di depannya itu. Entah kenapa, setelah berbincang panjang lebar ia pun merasakan kelegaan sesudahnya.


Kini ia pun bisa beristirahat kembali. Semoga saja besok ia bisa lebih sehat dan bisa segera pulang ke rumah.