After Married

After Married
BAB 223. LIBURAN RASA HONEYMOON



"Mas, makasih ya udah kasih kesempatan buat aku untuk memperbaiki diri."


"Iya, sayang, aku juga minta maaf untuk sikapku yang terlalu keras akhir-akhir ini. Maafkan aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga melampiaskan kemarahanku padamu dan Zi, maaf," ucap Fadhil tulus.


Nisa memandang kelopak mata suaminya itu. Pandangan teduh yang biasanya terlihat dan sempat menghilang itu, kini telah kembali. Nisa sangat bersyukur, di tengah badai yang datang dalam pernikahannya, Tuhan masih berbaik hati padanya.


"Iya, Mas. Kita sama-sama saling memaafkan dan mari kita memulai segalanya secara bersama-sama."


"Iya, Sayang. Terima kasih untuk kata maafnya, aku sangat mencintaimu, oleh karena itu, jangan pernah meninggalkan aku lagi."


"Insya Allah, Mas. Lagi pula, tak pernah ada niatan untukku berpaling darimu, Mas."


Fadhil lalu mendekap lembut tubuh istri mungilnya itu. Bagi Fadhil tak ada wanita sempurna seperti Nisa. Mungkin benar, perubahan sikap yang terjadi pada Fadhil akibat banyaknya masalah yang terjadi pada perusahaannya. Hingga tanpa ia sadari ia meluapkan segalanya pada istri dan anaknya.


Tapi, kalau untuk meminta maaf pada Zein, rasanya itu tidaklah mungkin, terlebih saat ini ingatan yang dimiliki oleh Zein sudah kembali. Bisa saja ia merebut kebahagiaan dari Nisa dan Zi. Sungguh ia tidak mau kehilangan dan tak akan mampu jika melihat Zein mengambil Nisa dan Zi. Aaron terlalu kecil jika Nisa pergi.


Nisa mengusap lembut wajah suaminya itu. Dielusnya rahang yang tegas itu. Lalu ditatapnya kembali kedua pasang bola matanya. Fadhil menoleh, ikut terhanyut akan belaian lembut dari tangan istrinya itu. Matanya bahkan sempat terpejam saat Nisa membelainya.


Membayangkan bibir merah muda milik istrinya itu, membuat deguban jantung miliknya terasa lebih cepat berdetak.


"Kenapa ?" tanya Nisa saat melihat Fadhil terbengong setelah sentuhan darinya mulai berhenti.


Dipegangnya wajah Nisa, lalu salah satu tangannya memegang pinggang ramping milik Nisa lalu dikecupnya secara perlahan kening istrinya itu dengan lembut. Salah satu tangan Fadhil memegang remote otomatis untuk mengunci kamarnya.


Setelah memastikan pintu kamar hotel terkunci dengan aman. Fadhil mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Kecupan yang awalnya hanya di kening, kini sudah merambat ke seluruh wajah Nisa.


Benda kenyal itu kini sedang mencicipi bibir merah muda milik Nisa. Hesapan demi hesapan mulai terjadi. Decapan-decapan halus terdengar mengiringi pemanasan yang mereka lakukan.


Bibir yang sudah menjadi candu untuk Fadhil itu sudah lama puasa, sehingga baru beberapa menit berlalu, kedua insan itu sudah kehabisan oksigen. Tetapi karena suhu tubuh mereka sudah memanas, pantang rasanya jika hanya melakukan pemanasan saja tanpa melakukan bagian intinya.


Melihat bibir Nisa yang masih basah akibat ulahnya, membuat Fadhil tak kuasa untuk menggendong istrinya itu dan membaringkannya ke atas ranjang, sembari terus ********** sepanjang perjalanan menuju ranjang. Merasakan tubuhnya terangkat, kedua tangan Nisa sudah mengalung ke leher suaminya. Nisa begitu menikmati setiap sentuhan kecil dari Fadhil. Meski pada akhirnya ia tau akan menjadi seperti apa.


Nisa saat itu hanya mengunakan dress pantai bermotif bunga dengan kedua tali di atas bahu, membuat Fadhil leluasa mengeksplor tubuh Nisa. Lekukan-lekukan di tubuh Nisa tercetak jelas ketika tubuhnya terbaring di atas ranjang. Membuat gelora di hati Fadhil semakin memanas.


Setelah melepas semua kain di tubuh Nisa, Fadhil pun melakukan hal yang sama pada tubuhnya. Setiap inchi di tubuh Nisa tak luput dari ciuman yang diberikan Fadhil, membuat sang empunya meng-gelinjang akibat kegelian.


Melihat Nisa sudah memanas, Fadhil mulai mengeksplor bagian lainnya. Setelah puas menikmati benda kenyal berwarna pink itu, kini ciumannya mulai menuruni leher jenjang milik istrinya. Semakin lama semakin ke bawah, hingga kedua bukit kembar Nisa terlihat semakin menantang dan bersiap untuk pelepasan.


Fadhil memang sengaja memanjakan Nisa dengan memberinya kesempatan untuk mencapai puncak ke-nik-ma-tan itu lebih dulu. Baru setelahnya Nisa yang akan beralih memainkan peran utamanya.


Semakin lama gerakannya semakin cepat. Bahkan re-mas-an demi re-mas-an cinta dari Nisa membuat Fadhil semangat untuk menaikan ritmenya. Kedua bukit kembar Nisa adalah salah satu area favorit Fadhil tapi sayang ia tak boleh mengecupnya, tentu saja ia takut nanti Aaron protes padanya. Apalagi stok ASI Nisa masih berlimpah, bisa-bisa ranjang mereka basah jika ia memaksanya.


Tapi meski tak men-cici-pinya. Semburan ASI sesekali keluar saat Nisa mencapai ke-puas-annya. Nisa benar-benar me-mekik nik-mat saat pe-le-pa-san pertama tercapai. Kepuasan pun terlihat di wajah Fadhil ketika melihat Nisa terkulai akibat ulahnya.


Karena hawa panas sudah memenuhi keduanya dan tenaga Nisa sudah kembali, kini permainan dipimpin oleh Nisa. Ia pun melakukan hal yang sama dan hal yang paling disukai Fadhil saat ber-cin-ta. Gerakan-gerakan halus yang ia ciptakan semakin lama, semakin naik temponya. Kedua mata Fadhil sampai merem melek dibuatnya.


Jika sudah demikian jangan ditanya lagi peluh yang mengucur dari keduanya. Semakin lama bermain semakin banyak tenaga yang mereka habiskan. Tapi semua itu seolah tak menyurutkan keinginan keduanya untuk terus bermain kuda-kuda-an.


Akhirnya setelah hampir tiga puluh menit, puncak ke-nik-ma-tan yang hakiki itu sudah diraih keduanya. Entah sudah berapa kali terjadi hingga tubuh keduanya terkulai lemas di atas ranjang.


"Terima kasih sayang, aku mencintaimu," ucap Fadhil saat mencium kening istrinya itu sembari menutup tubuh polos mereka berdua dengan selimut hangat.


"Sama-sama sayang," jawab Nisa sambil menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Fadhil.


Sesaat kemudian mereka pun terlelap dalam mimpi yang indah. Beruntung saat inu, anak-anak mereka sedang bermain di kamar sebelah yang dijaga penuh oleh beberapa bodyguard dan pengasuh yang ikut liburan bersama mereka.


Jadi di saat moment penting seperti tadi, pikiran Fadhil dan Nisa lebih tenang. Mengingat Zi adalah calon pewaris kerajaan bisnis Fadhil dan Nisa, penjagaan seperti ini sangatlah wajar dilakukan. Apalagi ini posisinya mereka saat ini sedang liburan, dimana orang luar akan mempunyai celah untuk mendekati keluarganya.


Sebenarnya ada keinginan untuk mengajak Zein, tapi hati Fadhil masih belum tenang ketika keluarganya kembali dekat dengan mantan suami Nisa itu. Meski mereka bersahabat, tetapi ada porsinya masing-masing untuk hal itu.


Menjaga privasi masing-masing nyatanya sangatlah penting dilakukan saat ini, demi menjaga keutuhan keluarga dan menjaga perasaannya.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


...Mohon maaf untuk semuanya, jika novel ini upnya lama, dan hiatus, karena kesehatan othor belum stabil, sehingga tidak semua novel bisa othor handle, maaf ya semuanya 🙏...