After Married

After Married
SUAMI SEMENTARA



........................


Suster pun geleng-geleng sendiri. Nisa juga bingung melihat tingkah suster didepannya itu.


"Kenapa sus?"


"Eh ga apa-apa bu, suami ibu ganteng ya?" ucapnya asal, karena ketahuan sedang tidak konsentrasi sedari tadi.


"Suami?" kening Nisa tampak berkerut sesaat, karena ia masih belum paham maksud ucapan suster tersebut.


"Sudah selesai bu, saya pamit dulu, saya panggilkan suami ibu masuk ya." Ucap suster tersebut.


"Eh iya."


Lalu suster tersebut keluar kamar Nisa dan mempersilahkan Fadhil untuk masuk ke kamar Nisa.


Ceklek.


"Sudah siap?" tanyanya kembali.


Nisa pun mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Fadhil, tapi baru beberapa langkah, Nisa memegangi perutnya. "Sakit mas." Ucapnya lirih.


Fadhil pun berbalik, "Kamu kenapa Nis? Apa kontraksi lagi?" tanyanya mulai panik. Nisa mengangguk.


"Lebih baik kamu beristirahat dulu, biar aku yang mengechek keadaan suamimu? sebentar saja." Pintanya dengan lembut.


"Kamu tak apa kan, aku tinggal sendirian?"


Nisa pun kembali mengangguk. "Ya sudah aku pamit keluar dulu."


Lalu dengan segera ia pun melangkahkan kakinya menuju ruang operasi. Dilihatnya lampu ruang operasi berwarna hijau, dan muncul seorang dokter dari dalam.


Fadhil pun mendekati dokter tersebut dan segera bertanya tentang hasil operasinya. "Bagaimana keadaan pasien dok?"


"Anda keluarga pasien?"


Fadhil mengangguk. Lalu dokter tersebut berbicara. "Alhamdulillah operasi berjalan lancar, maaf apa bisa ikut ke ruangan saya, ada beberapa hal yg harus saya bicarakan dengan keluarga pasien."


Mereka berdua pun menuju ruangan dokter. Dan sementara itu Zein dipindahkan ke ruang perawatan.


Setelah sampai diruangan itu, dokter pun memberitahu tentang maksud dan tujuan mengajaknya ke ruangannya.


"Sebenarnya kondisi pasien tidak dalam kondisi yang terbaik saat ini, karena ada beberapa hal yang bisa membuat pasien mengalami penurunan kesadaran, atau bahkan sebaliknya."


"Maksudnya?" tanya Fadhil kebingungan.


"Operasinya memang berhasil tetapi tak akan menjamin tentang kehidupan pasien, apakah bisa bertahan lama atau tidak."


"Beberapa organ dalam tubuh pasien sudah tidak berfungsi dengan baik, mungkin pasien pernah melakukan operasi sebelumnya dan kondisinya belum sembuh total, ditambah lagi dengan kecelakaan kali ini, saya rasa hanya berkah dan keajaiban jika pasien bisa sembuh." Tuturnya kembali.


Fadhil tampak syok, apalagi itu menyangkut dengan hidup seseorang yg pernah ia cintai. Ya, jika terjadi apa-apa, lalu bagaimana dengan Nisa dan bayinya kelak? begitu banyak hal yang dipikirkan Fadhil saat ini, sampai ia lupa dengan keadaan Nisa.


Tok ... tok ... tok


"Permisi dok, maaf apa diruangan ini ada suami ibu Nisa? istrinya sedang mengalami kontraksi hebat disana." Ucap suster itu panik.


Fadhil pun terkaget dengan penuturan suster lalu pamit pada dokter itu dan menyusul suster menuju ruangan Nisa.


Didalam ruangan rawat Nisa.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Fadhil pada dokter Wenny.


"Istri anda sudah mengalami pembukaan keenam pak, memang saat ini kondisinya akan seperti ini, tapi bapak jangan kuatir, ini normal, mungkin prediksi saya, bayi anda bisa lahir dalam beberapa jam lagi."


Fadhil sedikit tak memperdulikan penuturan dokter dan malah memegangi tangan dan dahi Nisa.


"Kamu ga papa Nis?" tanyanya panik.


"Mmm ... sakit banget mas ..." ucapnya lirih sembari menggenggam erat tangan Fadhil.


"Sabar ya, jangan lupa berdoa, biar semuanya lancar, oh ya apa kamu bawa pelengkapan untuk bayi dan baju ganti kamu?"


Nisa menggeleng, ok Fadhil paham, mungkin karena niat awal untuk mengetahui keadaan suaminya, maka ia pun tak membawa apa-apa selain dirinya dan sebuah tas tadi.


"Oh ya, maaf sebelumnya, apa kamu mempunyai saudara yg tinggal satu kota disini?"


Nisa menggeleng cepat, "Aku hanya kenal dokter Richard, dia juga praktek disini, bisakah kamu memberitahunya."


"Ok, akan aku cari dokter Richard."


Fadhil pun menoleh ke kanan dan kirinya, ternyata dokter dan suster sudah tidak ada diruangannya lagi dan hanya menyisakan mereka berdua.


Fadhil pun keluar ruangan, ternyata masih ada dokter Wenny di depan ruang rawat Nisa.


"Maaf dok, saya tadi ..." ucapnya menggantung saat dokter Wenny menyapanya.


"Bapak jangan ikutan panik ya, karena kontraksi berikutnya biasanya akan lebih sakit, tapi bisa diatasi ketika bapak menemani istri bapak didalam."


"Tapi?" ucapan Fadhil menggantung saat mendengar suara Nisa memanggilnya.


"Maaf dok, saya boleh minta tolong, apa dokter Richard bertugas hari ini, istri saya mau bertemu dengan beliau."


Dokter Wenny sejenak berpikir lalu menganggukkan kepalanya. "Ok, nanti saya sampaikan pesan bapak, maaf istri bapak namanya siapa?"


"Nisa dok, dan saya Zein, terimakasih sebelumnya." Ucap Fadhil sedikit berbohong.


Lalu Fadhil mengarahkan kakinya menuju kamar Nisa, sedangkan dokter Wenny pergi dari tempat itu.


Ceklek


"Ada apa Nis?" tanyanya panik.


"Bagaimana keadaan suamiku?"


"Operasinya berjalan lancar dan sekarang ia dirawat diruang perawatan." Ucapnya sedikit berbohong.


Apalagi melihat kondisi Nisa yg tak boleh terbebani fikirannya ia pun terpaksa berbohong.


"Apa kamu tidak keberatan bila aku menemanimu saat kamu melahirkan?" tanyanya ragu.


Bagaimanapun ia tak sanggup melihat orang yg pernah dicintainya berjuang sendirian nanti.


Nisa tampak berfikir, inginnya menolak, tapi ia juga takut berjuang sendirian saat melahirkan nanti, tapi ia juga tak mau mengecewakan suaminya, apalagi Zein sangat menginginkan anaknya ini. Tapi keadaan berkata lain, kini ia harus berjuang sendirian. Dan entah kenapa takdir mempertemukan kembali dengan Fadhil.


"Maaf mas, tapi lebih baik mas menunggu diluar saja nanti, kecuali aku benar-benar membutuhkanmu aku akan memanggilmu." Ucap Nisa dengan niat menolak halus. Bagiamanapun Fadhil bukan muhrimnya, ia juga tak punya hubungan apapun selain pertemanan.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu."


"Maaf mas, kenapa mas berada dikota ini? bukankah mas berada di kota X?


Fadhil tersenyum getir, padahal niatnya ke kota ini untuk mengubur semua kenangan pada Nisa, tetapi ternyata Tuhan berkata lain, entah kenapa saat ini mereka dipertemukan kembali.Tapi mana mungkin Fadhil memberitahukan alasannya.


"Mm ... setahun yg lalu aku hijrah ke kota ini Nis."


"Bukankah pekerjaan mas sudah bagus disana?"


"Mm ... kalau itu aku mau mencoba peruntungan baru di kota ini. Dan ...." Ucapannya menggantung ketika dokter Richard di ruangan Nisa.


"Dokter Richard?" tanya Nisa.


Fadhil pun menoleh. Lalu dokter Richard mendekati Nisa dan masih melihat orang yg mengaku Zein padahal Zein sedang terbaring di ruang perawatan.


"Maaf dok, tadi saya mengaku sebagai Zein agar mempermudah anda mengingat Nisa." Ucap Fadhil yg tau akan maksud tatapan tak suka dokter Richard.


"Dokter, dia orang yg menolong mas Zein saat kecelakaan tadi, dan dia adalah temanku saat aku masih bekerja di kota X." Ucap Nisa menengahi.


Dokter Richard pun mengubah mimik wajahnya yg tadi sempat tak suka dan meminta maaf pada Fadhil.


"Maaf aku sudah berpikiran buruk tentangmu." Ucap dokter Richard sambil menyalami tangan Fadhil.


.


.


.


...DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT ...


...dan GIFT-NYA...


...TERIMAKASIH BANYAK...


JANGAN LUPA MAMPIR DI KARYA FANY YG LAINNYA, DITUNGGU🙏😊