After Married

After Married
KENYATAAN



Nisa pun mengangguk. Lalu mereka pun mengobrol sebentar, dan dokter Nisa pun segera pamit.


Sementara beberapa saat kemudian, suster sudah membawa bayi laki-laki tersebut ke dalam ruang perawatan Nisa. Tangis haru biru terjadi seketika saat cucu mereka hadir di dalam ruangan itu. Seorang bayi mungil dengan kulit putih bersih dan mata bulat, rambut yg tak begitu lebat sedang menatap sayu dengan lembut.



"Wah mirip sekali denganmu sayang, Zein ga kebagian ini!" Ucap mertua Nisa.


Nisa hanya bisa tersenyum kecut, karena orang yg dirindukannya masih terbaring lemah di kamar yg lain.


Tetes demi tetes air mata mulai keluar dari kedua sudut mata Nisa. Ibunya yg melihat anak gadisnya menangis, langsung memeluk erat putrinya tersebut. Ia tahu betul apa yg dirasakan putrinya itu.


Sedang kedua mertua Nisa masih menggendong dan mengajak ngobrol cucu pertamanya tersebut.


Dari arah pintu terdengar langkah kaki buru-buru dari seorang lelaki.


Ceklek


Semua mata tertuju pada pintu kamar Nisa yang terbuka.


"Maaf sepertinya kedatangan saya mengganggu." Ucap dokter Richard.


Nisa sedikit mengintip dari balik punggung ibunya. Ia masih sedikit menahan tangisnya disana.


"Dokter Richard? ada perlu apa?" Tanya Nisa kemudian.


"Begini, Zein baru saja tersadar, dia mencarimu?"


Nisa, tersentak kaget, "Aku akan kesana dok!" Ucap Nisa.


Ia pun bangkit dan menuju kursi roda yg telah dipersiapkan jika sewaktu-waktu Nisa mau mengunjungi Zein. Semua sudah diprediksi dokter Richard. Meskipun Nisa udah pulih pasca persalinan, tetapi jarak tempuh dari kamar Nisa ke kamar Zein cukup lumayan.


Apalagi mereka terpisah ruang karena memang jenis perawatan yg mereka jalani berbeda. Nisa dan bayinya dalam satu lantai, yaitu perawatan ibu dan bayi di lantai 3, sedangkan Zein ada di ruang perawatan penyakit dalam di lantai 5.


Perjalanan mereka tempuh selama 10 menit. Semua keluarga pun ahirnya menuju ruang perawatan Zein. Dan bayi Nisa kembali dibawa ke ruang perawatan bayi, karena bayi tidak boleh dibawa keluar dari lantai perawatan ibu dan bayi.


Sebab bayi yg baru saja lahir masih rentan terhadap bakteri-bakteri. Jadi ia akan lebih aman jika tidak dibawa keluar ruang perawatannya.


Dalam ruang perawatan Zein


⚘ Flash back on


Zein yg baru saja tersadar kini menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, sepi itulah hal yg pertama ia temukan. Di dalam ruangan itu tidak ditemukan siapapun, kecuali alat-alat kesehatan yg terpasang pada tubuhnya.


Ia bahkan tidak ingat kenapa dia bisa berada di rumah sakit. Ia memegang kepalanya, yang ternyata masih diperban. Pusing, itulah yg pertama kali ia rasakan. Tenggorokannya juga terasa kering.


Sudah hampir 24 jam ia tertidur akibat obat bius yg disuntikkan kepadanya saat operasi. Ia pun hanya bisa menggerakkan tangannya untuk menekan tombol di sebelah brankarnya.


Ia masih bingung dengan kejadian apa yg baru dialaminya. Ahirnya ia pun memencet tombol itu.


Dan sesaat kemudian seorang suster dan dokter Richard pun masuk ke dalam ruang perawatan Zein.


"Richard? kau kah itu?" tanya Zein ketika mengetahui sahabatnya masuk ke dalam kamarnya.


"Iya, kau jangan banyak bergerak dulu, biar aku memeriksamu." Ucapnya kemudian.


Lalu ia pun segera memeriksa seluruh tubuh Zein, apakah ia sudah berangsur membaik atau tidak?


"Ri, ku mohon jelaskan apa yg barusan aku alami, kenapa aku bisa disini lagi? Lalu dimana Nisa, pasti ia panik mencariku."


"Hmm ... kau tidak perlu khawatir, Nisa ada disini, di rumah sakit yg sama dengan kamu, sebentar biar aku panggilan." Ucapnya lalu ia pun segera keluar menuju ruang perawatan Nisa.


Ia sudah berjanji untuk menjaga Nisa jika Zein tidak ada, maka dari itulah Zein tak keberatan jika Nisa dekat dengan dokter Richard.


Zein pun mengangguk, sedangkan di ruangannya sekarang ia masih ditemani suster untuk membantu jika sewaktu-waktu, Zein memerlukan bantuan medis.


⚘ Flash back off


Dengan langkah terburu-buru, dokter Richard membuka pintu ruang perawatan Nisa. Dan ternyata keluarga Nisa dan Zein sudah hadir disitu. Dan kebetulan bayi Nisa juga baru saja diantar kesana untuk jam menyusui.


Lalu dokter Richard pun mengutarakan maksud kedatangannya di kamar Nisa. Nisa kemudian menyelesaikan tugasnya dengan menyusui bayi A. Lalu tak lupa ia menitipkan bayinya pada suster, agar bayinya segera dikembalikan ke ruang perawatan bayi. Dan setelah itu mereka semua menuju kamar perawatan Zein.


Ceklek


"Mas ..." Ucap Nisa setelah sampai di kamar Zein.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Zein setelah melihat Nisa masuk ke ruangannya dengan menggunakan kursi roda.


Ia pun kaget karena ada ibu dan keluarganya yg ikut menyusul masuk kedalam ruangan Zein. Terlebih lagi perut Nisa sudah kembali datar, lalu dimana anak mereka? Apa yg terjadi pada Nisa selama ia belum sadar?


Begitu banyak pertanyaan yg berputar-putra di kepala Zein. Nisa yg melihat kebingungan Zein, ahirnya mendekatinya perlahan. Diraihnya salah satu tangan suaminya dan diciumnya perlahan.


"Mas, anak kita sudah lahir." Ucapnya dengan terharu.


Zein membelakakan matanya, "Benarkah itu?" ia pun menoleh ke kanan dan kiri seolah bertanya pada anggota keluarga yg hadir di ruangan itu.


Mereka mengangguk serempak perlahan. Sebuah senyuman pun terbit dari ujung bibir Zein.


"Terimakasih sayang, maaf aku tidak ada disisismu saat kamu sedang berjuang." Ucap Zein sambil menatap Nisa lekat-lekat.


Nisa pun mengangguk perlahan. Sekarang orang yg dicintainya sudah sadar pasca operasi, itu artinya mereka akan berkumpul bersama nanti.


"Lalu kenapa aku disini? dan dimana bayiku sekarang ?" Tanya Zein spontan.


"Mas baru saja mengalami kecelakaan, sedangkan bayi kita sekarang ada di ruangan perawatan ibu dan bayi. Nanti kalau mas sudah sehat kita akan menemuinya."


"Mas, bola matanya sangat mirip denganmu!" Ucap Nisa dengan mata masih berkaca-kaca.


"Bayinya sangat mirip dengan Nisa, Zein?" Ucap ibunya.


"Sungguh bu? Lalu aku dapat bagian apa dong?' Ucap Zein seolah protes dengan Nisa. Tapi sungguh jauh di lubuk hati Zein, ia sangat bersyukur anak mereka sudah lahir dengan selamat, begitu juga dengan ibunya.


Ada sedikit perasaaan kecewa, tapi ia kini lebih banyak bersyukur.


"Oh ya mas, gimana keadaan kamu? apa masih ada yg sakit? "Tanya Nisa bertubi-tubi.


"Alhamdulilah sekarang sudah mendingan sayang."


"Kalau begitu mas istirahat saja, Nisa dan yg lainnya akan menunggu mas disini."


"Baiklah." Ucap Zein dengan terpaksa. Ia tak tega menyuruh istrinya untuk menunggunya disitu, tapi ia juga masih sedikit lemah untuk berdebat. Ahirnya ia pun menyetujui usul Nisa.