
" Kaauuuuu..harus bertanggung jawab..atau kalau tidak aku akan bunuh diri..kamu sungguh keterlaluan Zein.." ucapnya penuh kesungguhan.
Zein merasa frustasi karena ia benar- benar bodoh , ia bahkan tidak ingat kejadian tadi malam. Sekarang bayangan Nisa menghantuinya..apa yg harus ia lakukan ? bagaimana dengan Nisa ?
Apa yg harus dijelaskan padanya nanti..padahal pernikahan mereka tinggal beberapa bulan lagi. Dan apa yg harus ia ceritakan pada keluarga besarnya nanti saat tau perbuatannya saat ini.
Ia pun melirik Zivanna yg terisak di sampingnya. Ia pun melangkah berdiri menjauhi ranjangnya. Ia mengambil celananya dan memakainya.
Zivanna yg melihat pergerakan Zein pun panik..
" Mau kemana kau..setelah melakukan semua ini kamu mau pergi ? " ucapnya disela permainannya sendiri.
Zein pun duduk di sofa dekat ranjang itu. Ia memijit pelipisnya yg masih berdenyut pusing. Entah apa yg ia makan tadi malam..sampai hal ini bisa terjadi. Tapi bagaimanapun ia adalah seorang pria..maka apapun yg dilakukannya harus ia pertanggung jawabkan.
" Baiklah Zi..aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku padamu."
" Benarkah ?.." tanyanya heran.
" Ya..tapi aku mohon tolong rahasiakan ini pada tunanganku Nisa."
" Apa maksudnya dirahasiakan ? aku simpananmu ...begitukah ? "
" Bukan begitu..kita akan menikah tapi tidak secara besar- besaran..kita menikah secara agama...dan tak perlu ada pesta.." ucap Zein diiringi wajah menunduk.
Zivanna membuang muka.." Bisa - bisanya pernikahannya hanya dilakukan biasa..tapi demi mendapatkan Zein..apapun itu ia lakukan asal Zein menjadi miliknya.
" Bagaimana ? " tanya Zein kembali.
" Baiklah..aku akan bicara dengan ayah..kalo itu yg kamu mau..asalkan kamu tidak lari dari tanggung jawabmu .." ucapnya.
Kini Zein bernafas lega..sedikit beban didepannya teratasi..tapi bagaimana dengan masalah di depannya nanti..apakah akan sama dengan yg dipikirkannya atau malah akan semakin runyam.
Entahlah..pikirannya begitu kacau saat itu. Ia pun memakai pakaiannya dan kembali menuju kamarnya.
Ia masih tak nyaman dengan keadaannya saat ini. Saat ia masuk ke dalam kamarnya sendiri. HPnya menyala..ada panggilan masuk dari Nisa.
Ia pun menggeser icon hijau tersebut.
" Assalamu'alaikum kak Zein.." ucap Nisa riang diseberang sana.
" Wa'alaikumsalam Nisa.." ucapnya pelan. Zein berusaha menetralkan pikirannya yg sedang kacau.
" Kak Zein kenapa? sakit ? perlu Nisa ke hotel kak Zein kah ? "
" Eh..tidak Nis..aku baru aja bangun..jadi masih ngantuk.."
" Owh..emang pekerjaannya belum selesai kah ? "
" Emm..itu sudah..malah tadi malam acara penutupannya makanya agak malam pulangnya.."
" Owh..pantes pesan - pesan dari Nisa kakak abaikan. "
" Maaf ya.."
" Iya gpp..kalo kak Zein mengantuk..istirahat aja..acara jalan- jalan kita undur aja..lagian besok kita uda balik ke Indonesia. " ucapnya.
" Tunggu 1 jam lagi ya..biar aku bersih - bersih dulu." pinta Zein yg tak ingin melewatkan momen terahirnya bersama Nisa.
" Ok..kalo begitu..Nisa juga mau siap - siap dulu kak..bye.."
" Bye .."
Obrolan mereka berhenti. Dan Zein mengirim pesan pada Zivanna agar ia tak mengganggunya seharian itu...karena ia ingin menyelesaikan urusannya dengan Nisa saat itu juga. Zivanna yg awalnya keberatan pun mengijinkannya.
Ahirnya setelah 1 jam..mereka bertemu di depan loby hotel tempat Nisa menginap.
" Hai kak.." ucap Nisa sambil melambaikan tangannya pada Zein yg mendekat padanya. Zein menyunggingkan senyuman termanisnya pada gadis impiannya itu. Mungkin setelah ini ia tidak akan tersenyum kembali setelahnya..karena ia akan kehilangan Nisa selamanya.
" Uda lama nunggunya ? ucap Zein pada Nisa.
" Alhamdulillah engga dong ...ayuk pergi ..," ucapnya sambil meraih tangan Zein yg satunya.
Nisa memang apa adanya jika bersama Zein. Begitu juga dengan Zein. Ia akan menjadi dirinya sendiri jika bersama Nisa. Sebenarnya mereka saling melengkapi, tapi mungkin Tuhan mempunyai rencana lain untuk mereka berdua.
Hari ini benar-benar diisi dengan kebahagiaan oleh mereka berdua. Mereka berkencan seperti layaknya seorang kekasih pada umumnya.
Bahkan di galery foto mereka penuh dengan banyak kenangan mereka berdua. Zein benar-benar berjanji akan membahagiakan Nisa pada hari itu. Karena waktu mereka memang sedikit sekali. Ya, ia bahkan harus membatalkan acara pernikahan dengan Nisa dan menggantinya dengan acara pernikahannya dengan Zivanna putri bossnya.
Di sela-sela acara makan-makan.
"Kak Zein, nggak bahagia ya, jalan sama Nisa?"
"Bahagia kok, emang kenapa?"
"Kalau bahagia kenapa dari tadi makanannya nggak dimakan? malah diaduk-aduk kayak gitu?" tanya Nisa.
"Hahaha, abisnya nggak ada yang nyuapin," ucapnya polos.
"Ih, manja, seminggu ini juga makan sendiri, kenapa sekarang jadi manja?"
"Manja sama calon istri sendiri masa nggak boleh sih?" tanyanya polos.
"Ish, malah makin menjadi nih manjanya," ucap Nisa malu-malu.
"Suapin dong yank, momentnya lagi seru ni!" ucap Zein dibuat semanja mungkin.
"Iya, iya, sini aku suapin."
"Aaa,,buka dong sayaaaangggg."
" Aaaammm..nyam..nyam..gitu dong yank.." ucap Zein.
Nisa hanya manggut- manggut dibuatnya. Dengan telaten ia terus menyuapinya.
Sedangkan di sudut ruangan ada sosok yg mengintai mereka menatap mereka dengan tajam.
" Awassh saja kau berani lari dariku Zein..akan aku pastikan kau tidak bisa melihat wanita itu lagi didepanmu.." ucapnya geram.
Sedang dua insan yg sedang memadu kasih tadi masih nenikmati moment - moment manisnya.
" Oh ya kak..pernikahan kita tinggal beberapa bulan lagi..kakak uda nemu desain undangan belum ? "
Zein tiba- tiba tersedak makanannya sendiri.
" Uhuukk.."
" Minum kak..makannya jangan disambil ngelamun dong.." ucap Nisa
Ia pun merubah posisinya mendekati Zein dan berusaha membantu Zein yg masih kesulitan bernafas akibat ia tersedak.
" Iya..nanti kita bikin sendiri aja yg unik..sesuai yg Nisa ingin.." kata Zein sesudah ia bisa mengatur nafasnya.
" Ok.."
" Ya dah..lanjutin makannya ..nanti Nisa pengen berfoto disana..siapa tau bisa jadi foto termanis kita buat pre wedding.. " ucap Nisa malu - malu.
Sementara Zein masih mencoba tersenyum meski hatinya sedang bimbang saat ini. Saat ini ia butuh saran dan dukungan tapi orang yg biasanya ada di posisi itu sedang dihadapannya saat ini. Dan ia tidak bisa membagi masalahnya dengannya saat ini. Karena ia sudah tidak bisa lagi memiliki Nisa.
.
.
.
HAI HAI..READERS KESAYANGAN AUTHOR.. MAAF JIKA SETELAH INI CERITANYA AGAK BERAT..SOALNYA MEMANG ALURNYA BEGITU.....HE..HE..✌😊
JANGAN LUPA LIKE, SARAN, DAN VOTE NYA..MAKASIH SEMUANYA...SEMOGA ALLAH MEMBALAS SEMUA KEBAIKAN KALIAN DENGAN REZEKI YG BERLIMPAH...AAMIIN 🙏😊
SALAM SAYANG DARI AUTHOR BUAT KALIAN SEMUA 😘😘