After Married

After Married
AKU AKAN MENUNGGUMU



🍃1 minggu kemudian


Yogi yang masih bermalas-malasan di kamar, kaget saat ada yang mengetuk pintu kostnya. Dilihatnya jam dinding kamarnya.


"Masih pagi gini siapa yang maen sih, kagak tau napa, yang punya masih ngantuk ni ..." gerutunya sambil menuju ke arah pintu.


Lalu ia pun meraih handle pintu.


Ceklek


"Fadhil, tumben kesini ...."


"Emang aku gak boleh maen nih, kangen tau!"


Yogi yang otaknya belum sepenuhnya full, bergidik ngeri saat Fadhil bilang begitu, ia pun reflek menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Hehhh, ****** gue masih lurus ya, atau jangan-jangan elo dah belok ya!" sambut Yogi sambil berjalan ke arah Fadhil yang sudah duduk di kasurnya.


"Asemmm lu, gue juga masih lurus kali, gue cuma kesini karena mau ngajak elu cari sarapan dudul!"


"Ya kan lu bisa telpon atau sms gue, ngapain ganggu orang tidur sih!"


"Etdah ... pasti lu masih bangkong, jadi mana mungkin lu angkat telpon dari gue, makanya aku kemari."


"Ya kan ini libur, hari libur mah bebas, nanti agak siangan dikit lah cari sarapannya."


"Ini uda siang Yogi, liat noh, jam elu aja udah lebih dari jam sembilan, masa masih dibilang pagi."


"Kagak ngurus gue, pokoknya ini masih pagi. Gue mending nitip lu aja ya," pintanya sambil menirukan anak kecil yang sedang merengek pada ibunya.


"Malesss ... lu kira gue apaan, pake disuruh-suruh segala. Kan gue minta elu nemenin gue sarapan bukan malah disuruh kayak gini!"


Yogi yang masih ngantuk pun segera menghamburkan dirinya kembali ke kasurnya.


"Sekalian sana ajak Nisa ikutan," pinta Fadhil pada Yogi.


"Emang lu gak tau kalau sekarang Nisa lagi ngambil cuti satu minggu," jawabnya malas sambil masih menempelkan wajahnya di atas bantalnya.


"Hahhh!!! Maksud lo apaan?"


"Ya tadi malam dia nyuruh gue buat ngantar dia ke terminal, ia mau ujian masuk universitas, makanya dia ngambil cuti satu minggu."


"Jadi dia pulang kampung lagi, kok gak pamit ke gue?"


"Yaelah, emang siapa elu? asal elu tau ya, sebelum kerja disini Nisa memang uda daftar kuliah, cuma belum ada pengumuman diterima atau belum."


"Persis banget, kemarin ia baru aja dapat telepon dari rumah, ia diberi tahu kalau surat dari kampus udah sampai di rumah Nisa."


"Makanya Nisa mau daftar ulang, lagian satu minggu ini ia mau fokus sama kuliahnya, mungkin karena sibuk ia bahkan gak sempat buat ngabarin siapa-siapa."


"Oh ya, satu lagi yang perlu lu tau, baru kemarin pas dia minta diantar pulang dia baru cerita semuanya gue, PAHAM !!!!!"


"Ah, kenapa jadi begini si, kan emang aku bukan siapa-siapanya, bener kata Yogi," batin Fadhil.


"Ya dah kalo gitu, mau nemenin gue apa engga lu?" tanya Fadhil sekali lagi.


"Sorry bro, gue masih ngantuk kalau elu berkenan, kalau berkenan lo ya, gue kagak maksa."


"Gue mintol dibungkusin aja, ntar aku ganti uangnya," ucap Yogi yang sudah berubah posisi, lalu ia mengatupkan kedua tangannya seraya memohon seperti anak kecil pada Fadhil.


"Ya dah, ntar aku bungkusin, gue keluar dulu bro, sekalian pinjam motornyanya."


"Nih kuncinya." Yogi pun menyerahkan kunci motornya pada Fadhil.


"Sip."


Fadhil pun meninggalkan Yogi dan segera berlalu untuk melajukan motornya ke tempat ia akan membeli sarapan.


Selama ini memang Fadhil belum membawa motor ke kota X. Kalo ia bepergian biasanya naik angkutan atau meminjam motor temen asramanya. Sebenarnya ia itu anak yg hemat, cuma karena pengen lebih deket ama Nisa, ia mau mentraktir Yogi dan Nisa.


🍃Nisa pov -


Pagi ini ia sudah sampai di kota J setelah menempuh perjalanan selama delapan jam menggunakan bus. Untungnya kemarin ia sudah meminta tolong sama Yogi untuk mengantar ke terminal, jadi bisa menghemat waktu.


Ia juga sudah mengabari kakaknya untuk menjemput dia di terminal pagi ini. Setelah turun dari bus, ia melihat kakaknya sudah melambaikan tangan dari seberang jalan. Nisa pun mendekati kakaknya tersebut.


"Udah lama kak?"


"Belum kok, paling sepuluh menitan, udah yuk naik!"


"Siapp boskuhh," Nisa pun memakai helmnya dan segera naik motor kakaknya.


Wussshhh ... ngeenggg ...


Motor pun melaju dengan cepat. Karena masih pagi, situasi perjalanan juga masih lengang, sehingga memudahkan pengendara lebih cepat sampai tujuan.


.


.


Tint ... tint ...


Bunyi klakson pun terdengar ketika sepeda motor yang dikendarai Nisa memasuki halaman rumahnya. Setelah motor berhenti, ia pun meninggalkan helmnya dan segera mencuci kedua tangan dan kaki sebelum masuk rumah.


"Assalamu'alaikum ..." suara nyaring Nisa menggema di hunian kecil dan sederhana itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab ibu dari arah dapur.


"Eh anak ibuk udah sampai."


Nisa masuk dan menyalami tangan ibunya kemudian memeluk tubuh sang ibu. Ia bergelayut manja pada ibunya. Ya memang Nisa selalu begitu jika merindukan ibunya.


Kemudian kakak Nisa pun menyusulnya setelah memarkirkan motornya di halaman rumah.


Rumah Nisa memang kecil, tapi halamannya luas, depan rumahnya banyak pohon buah-buahan. Ada pohon mangga, jambu, jeruk dan ada juga pohon kelapa. Jadi rumah kedua orangtua Nisa tampak asri.


Pagi itu ibunya sudah menyiapkan sarapan kesukaan Nisa, karena ia tau bahwa anaknya mau pulang. Ahirnya pagi itu ditutup dengan sarapan bersama.


.


.


🍃Fadhil pov -


Setelah memesan makanan buat sarapannya, ia pun menunggu makanannya datang sambil membuka ponselnya. Ia ingin sekali menyapa Nisa. Ia pun mengirim pesan ke Nisa.


Tring.. tring.. tring..


Ponsel Nisa pun berbunyi. Nisa yang baru saja keluar dari kamar mandi, dan mau mengganti baju pun segera melihat ponselnya. Oh Kak Fadhil serunya, ada apa ya?


Lalu dibukanya pesan dari Fadhil sambil ia baca dari atas kasur.


"Hai Nis, apakabar?"


"Hai kak, alhamdulillah baik."


"Lagi apa Nis, lama gak ketemu ya?"


"Emm, baru aja selesai mandi kak, soalnya baru aja sampai di rumah"


Fadhil pun berpura-pura gak tau kalau Nisa baru pulang ke kota J.


"Owh, emang kamu dimana sekarang?"


"Di rumah ayah ibu kak, aku lagi pulkam ... he ... he ... maaf aku gak pamit kemarin, soalnya mendadak."


"Iya gak apa-apa Nis, santai aja, ya dah Nis, kamu istirahat aja dulu, baru datang pasti masih capek."


"Iya kak, makasih banyak."


Sesudah membalas chat Fadhil, ia pun segera melanjutkan acaranya untuk berganti baju, sekaligus mempersiapkan keperluannya besok pagi. Ia tadi juga sudah minta ijin kakaknya untuk meminjam motor kakaknya besok untuk pergi ke kampus. Untungnya kakaknya mengijinkan, tetapi dengan syarat nanti sore ia harus mengantarkan kakaknya ke rumah istrinya.


.


.


🍃Fadhil pov -


"Nis meski aku tau rasa yang tumbuh ini salah, tapi aku akan tetap mencobanya. Mungkin saat ini kamu masih milik orang lain, tapi kita tidak tau takdir kita dimasa depan."


Sesudah makanan datang, Fadhil pun melahap makanannya, tak lupa ia memesankan makanan untuk Yogi yang nitip tadi. Setelah dirasa kenyang, Fadhil pun segera pulang, karena hari pun sudah siang. Ia pun melajukan motornya ke kost Yogi.


Ngengg ... ngeng ...


Lima menit kemudian ia sampai di kost Yogi. Ia pun memarkirkan motor Yogi ke parkiran kost, dan segera menuju kamar Yogi di lantai dua.


Tok ... tok ... tok ...


"Gik, ni gue uda datang," serunya dari depan pintu kamar.


Tak lama kemudian Yogi yang belum berubah, masih kondisi setengah sadar pun membuka pintu.


"Eh, Bro uda datang, cepet banget."


"Ampun deh lo, belum mandi juga, nih makanan elu, gue langsung pamit ya, makasih ya."


"Sama sama bro, thank's ya buat sarapannya."


"Sip, gue pulang dulu ya."


Setelah berpamitan Fadhil pun kembali turun ke lantai satu dan segera menuju asramanya. Setelah menerima makanan dari Fadhil, Yogi pun menutup kembali pintunya dan segera mandi.


~ Bersambung ~