
Karena kelihatannya situasi tidak cukup aman, maka Zein mulai menjelaskan semuanya. Tak mungkin ia membiarkan Nisa menanggung semuanya. Apalagi saat ini ada Aaron yang masih menginginkan dirinya.
"Maafkan aku untuk hal ini, Fadhil. Hanya karena ingin bertemu denganku maka Zi harus seperti ini. Memang sebaiknya aku tak kembali lagi ke sini. Maaf aku harus pergi saat ini."
Zein hendak melangkah pergi, kini bahkan dia sudah bersiap untuk pergi meninggalkan Nisa dan Fadhil, tetapi perkataan Mang Dede membuat langkahnya terhenti.
"Tidak ada yang boleh pergi, apalagi kalian masih ada ikatan tentang ayah dan ibu kandung Zi. Tidak akan pernah ada mantan ayah ataupun mantan ibu. Kalian berdua berhak bersama untuk kebahagiaan Zi," ucap Mang Dede.
Ucapan Mang Dede membuat amarah di hati Fadhil semakin membara. Sampai akhirnya ia pun menarik paksa Nisa untuk pergi dari tempat itu.
Di depan mata kepalanya sendiri, Fadhil memperlakukan Nisa sekejam ini. Lalu bagaimana nanti jika di rumah. Melihat hal itu seketika sikap peduli Zein muncul.
Ia pun berlari mengejar Fadhil dan Nisa, "Tunggu ...."
Nisa menoleh tetapi Fadhil tetap berjalan dan tak menggubris panggilan dari Zein. Baginya tak ada orang lain yang boleh ikut campur dalam urusan rumah tangganya.
"Fadhil, sekali ku lihat kau memperlakukan Nisa sekasar itu, maka ku pastikan aku akan mengambil Nisa kembali!" ancam Zein.
Karena mendapat ancaman seperti itu Fadhil berhenti dan membalikan badan.
"Berani kamu menyentuh istriku, maka ku pastikan kau akan menjadi gembel setelah ini!"
"Mas ...." seru Nisa tak percaya akan ucapan suaminya barusan.
"Kalau kamu masih sayang dengan aku dan Zi, maka jangan lakukan itu."
PLAK
Tiba-tiba Fadhil menampar pipi Nisa. Baru kali ini ia berperilaku kasar pada Nisa. Entah kenapa, ia tak bisa mengembalikan dirinya saat ini. Ia merutuki kebodohannya saat ini.
Tetapi tatapan nanar diberikan Nisa pada Fadhil. Ia tak menyangka jika suaminya bertindak demikian. Apalagi ini di tempat umum, Nisa menjadi seorang istri yang tidak berguna saat ini.
Lalu Nisa segera berlari meninggalkan Zein dan Fadhil yang masih mematung karenanya.
Sayang, saat di depan lift, ia berpapasan kembali dengan seorang wanita yang kapan hari juga berpapasan dengannya di tempat ini. Saat ini ia hendak keluar dari lift, sedangkan kini Sheril hendak naik ke lantai atas untuk menuju kamar apartement.
"Nona, maaf bolehkah kita berbicara sebentar?" tanya Sheril masih dengan nada rendah.
"Iya, ada apa, Nona?"
"Eh, apa kakak juga tinggal di apartemen ini?"
"Enggak, aku cuma punya satu kenalan, tetapi kita sering ketemu di sini."
"Bolehkah kita berkenalan?"
"Boleh, aku Sovia."
"Aku Sheril kak, salken."
Karena ada rapat penting, Sovia segera berpamitan pada Sheril.
"Maaf, Nona Sheril, aku ada rapat penting, jadi aku duluan ya," ucapnya sambil melambai.
"Makasih udah boleh berkenalan."
"Sama-sama."
Lalu Sheril segera melanjutkan langkah kakinya menuju lift sedangkan wanita tadi sudah ke luar dari area depan apartement.
Di dalam lift.
"Hm, jadi namanya Sovia, sayang sepertinya kamu harus sering berurusan denganku setelah ini, hahaha."
...🌹Bersambung🌹...