After Married

After Married
PENGALAMAN PERTAMA



Nisa pun mengusap kedua matanya dan segera menyelesaikan ritual mandinya. Lalu ia pun segera keluar dari kamar mandi.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?"tanya Fadhil yang ternyata masih didepan pintu.


Nisa sempat melihat suaminya mondar mandir disana saat ia membuka pintu kamar mandi. Dan benar ia mendapati kekhawatiran diwajah Fadhil.


"Tenang mas, aku enggak kenapa-napa kok."


"Sungguh?" tanya Fadhil cemas sembari menempelkan telapak tangannya ke kepala Nisa.


Nisa pun mengangguk. Dengan spontan Fadhil menggendong istrinya ke tempat tidur. Diletakkan pelan-pelan dirinya diatas ranjang.


"Serius mas, aku ga kenapa-napa kok." Ucap Nisa sembari menangkup wajah Fadhil untuk menatap dirinya.


Mereka pun saling menatap satu sama lain. Terdiam untuk beberapa saat sampai ahirnya Fadhil pun mengecup bibir merah muda milik Nisa yang sudah meracuninya beberapa hari ini.


Maklum lah selama di Indonesia ia tidak bisa menyentuh Nisa dengan leluasa, apalagi ada Zi yang selalu usil masuk ke kamar mereka.


Cup, mereka pun saling mengecap indera perasa masing-masing. Saling menikmati semua yang ada didalamnya. Semakin lama semakin dalam dan menuntut sesuatu yang lebih dari itu.


Sepasang suami istri baru itu pun mulai menikmati apa yang sudah mereka inginkan sejak lama. Fadhil yang sudah mendambakan Nisa sejak beberapa tahun lalu dan Nisa yang sudah lama tidak berhubungan dengan lelaki sekejap merasakan kembali sesuatu yang aneh dalam dirinya.


Semakin lama ciuman mereka semakin menuntut lebih. Hawa panas seketika menerjang mereka berdua. Bila kehabisan nafas, ciuman mereka pun berjeda. Lalu mereka melanjutkan kembali ciuman panas mereka.


Tanpa sadar tubuh Fadhil sudah menindih tubuh Nisa yang entah sejak kapan tubuh mereka sudag polos satu sama lain. Jubah mandi pun sudah terbang ke lantai entah sejak kapan.


Nisa menikmati semua sentuhan dari suaminya, begitu pula Fadhil yang baru merasakan hal itu untuk pertama kali, sudah seperti seorang bayi yang kehausan.


Dari bukit yang satu pindah ke bukit yang lainnya, sementara tangan Fadhil yang lain entah sudah menjelajah sampai mana. Mereka saling menikmati alunan permainan mereka masing-masing.


Sampai pada ahirnya Nisa pun melepaskan puncak kenikmatan yang diberikan Fadhil padanya.


"M-mas ... owhhhhh ... hhmmmft"


Dan Nisa pun terkulai lemas saat itu, tetapi demi


menyenangkan suaminya Nisa pun melakukan apa yang Fadhil lakukan padanya tadi.


Fadhil kini dalam posisi terlentang dan Nisa berada diatasnya. Nisa pun melakukan apa yang suaminya mau. Fadhil juga menikmati permainan yang diciptakan Nisa.


Dan pada saat Fadhil mau melepaskan puncak kenikmatannya ia pun meminta ijin untuk menyatukan miliknya dengan milik istrinya. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.


Mereka berdua pun mencapai puncak kenikmatan secara bersama-sama. Mereka saling terkulai lemas diatas ranjang. Saling berlomba untuk menghirup oksigen di kamar itu sembari saling berpelukan.


Mereka bahagia malam itu. Malam selalu diimpikan Fadhil dan Nisa ahirnya tercapai malam itu. Tak lupa Fadhil mencium kening Nisa dan berucap, " Terimakasih sayang."


Nisa pun membalas hal itu dengan seutas senyum di bibirnya. Ahirnya malam itu berahir dengan indah. Mereka lalu beristirahat karena sudah lelah dengan perjalanan panjang dan olahraga malam yang baru saja mereka lakukan.


...***...


Keesokan harinya, Nisa bangun terlebih dahulu, ada perasaan ngilu di bagian bawah tubuhnya. Iya baru ingat setelah melihat tubuhnya yang masih polos, ahirnya ia pun menahan rasa nyeri itu dan memaksakan diri menuju kamar mandi dengan membalut tubuhnya dengan jubah mandi semalam.


Karena adanya pergerakan tubuh Nisa, tidur Fadhil sedikit terganggu.


"Auwhhh ..." rintih Nisa saat hampir terjatuh dari ranjang.


Untung saja tangan Fadhil cekatan.


"Mau kemana sayang?" ucap Fadhil sembari memeluk tubuh Nisa.


"Mm, mau ke kamar mandi sayang... mau pi...is." ucap Nisa lirih.


Dari ensiklopedia yang sudah dibaca Fadhil, sepertinya istrinya merasakan nyeri dibagian sensitifnya. Fadhil pun bangun dan membalut tubuhnya dengan handuk mandi dan menggendong Nisa ke kamar mandi.


Nisa kaget atas perlakuan Fadhil, " turunin mas, aku malu."


"Kenapa malu sih? tadi malam kan sudah melihat semuanya."


"Nah sudah sampai, kamu duduk disini dulu, akan aku siapkan air hangat untukmu."


"Ga usah mas, aku bisa sendiri."


"No coment oke cantik." Ucap Fadhil sembari memainkan jari telunjukknya ke kanan dan ke kiri.


Nisa pun mengiyakan bantuan suaminya itu, lagi pula memang benar ia masih merasakan sakit disekujur tubuhnya. Ia sampai malu sendiri karena tadi malam ia sudah sangat di luar batas. Ia tak menyangka dirinya bisa seperti itu semalam.


"Nah sudah siap sayang, mau aku bantu lepas atau bisa sendiri?" canda Fadhil sengaja menggoda istrinya itu.


"Bisa sendiri lah..."


Nisa pun turun dari bibir bathup dan hap, Fadhil menangkap tubuh Nisa.


"Jangan dipaksakan sayang, aku akan membantu kamu kok."


"Makasih sayang tapi aku bisa sendiri." Ucap Nisa centil.


Ha.. ha.. ha.. mereka tertawa barengan seolah mereka adalah teman akrab.


"Ya sudah aku keluar dulu ya sayang, bila butuh bantuan panggil aku segera." Ucap Fadhil berpamitan.


"Iya sayang..." Ucap Nisa sembari menutup pintu.


Ia pun melepas handuk yang melilit tubuhnya lalu membenamkan diri ke dalam bathub air hangat yang sudah diberi aroma terapi oleh Fadhil.


"Hmm, dia benar-benar sudah mencuri hatiku." Ucap Nisa dalam hatinya.


Sambil menghirup aroma terapi, Nisa mulai menyabuni seluruh tubuhnya.


Badan yang lengket dan capek sehabis perjalaan panjang sekaligus pertempuran panas membuatnya mengeluarkan banyak energi dan keringat.


Sembari mandi, Nisa geleng-geleng kepala membayangkan adegan tadi malam. Bisa-bisanya ia bertindak seperti itu.


"Haduh apakata dunia? apa yang sudah aku lakukan semalam benar kan?" tanya Nisa pada dirinya sendiri.


Sementara itu dikamar, Fadhil sedang memesan beberapa menu sarapan pagi untuk dirinya dan istrinya. Daging steak bersama roti lengkap dengan susu ia pesan pagi itu. Tak lupa aneka buah kesukaan Nisa.


Dan ia pun juga membawa pil penyubur kandungan buat Nisa. Pil itu ia dapat dari dokter sahabatnya, siapa lagi kalau bukan dokter Richard. Karena ia tidak bisa hadir dalam acara pernikahan Nisa dan Fadhil, ia pun mengirimkan beberapa hadiah sekaligus pil itu spesial untuk mereka.


Tentu saja itu dilakukan dokter Richard sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantu dirinya menemukan istrinya saat ini. Satu tahun yang lalu, dokter Richard kecelakaan dan salah satu pendonor yang menyelamatkannya saat itu ialah wanita disampingnya ini yang sudah resmi menikah dengannya delapan bulan yang lalu.


...~Bersambung~...


.


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...