
Setelah puas berbelanja, Sheril segera menuju apartement kekasihnya. Ia sudah tidak sabar untuk berbagi cerita pada kekasihnya itu.
Mobil yang ia lajukan beberapa saat lagi akan memasuki area apartement itu. Benar saja ia pun telah memasuki area parkir. Dengan segera ia memarkirkan mobilnya lalu segera masuk ke lobby.
Belum sempat ia sampai di lift, ada seorang wanita yang tak sengaja menyenggol paper bag miliknya. Hingga isinya berhamburan keluar dari paper bag tersebut.
"Maaf," ucap wanita itu sambil berlalu.
Entah karena Sheril yang kurang fokus menatap jalan, atau wanita itu yang sedang buru-buru hingga menabrak barang belanjaannya.
"Ya kali mbak, cuma situ yang buru-buru, aku juga, tapi ya gak gini juga, gak bantuin buat mungutin barang-barang yang udah kamu berantakin," omel Sheril kemudian.
Untung saja ada lelaki baik yang membantunya memunguti sayuran-sayuran miliknya.
"Terimakasih," ucap Sheril kemudian.
"Sama-sama."
"Suka memasak ya?"
"Iya, kebetulan stok di kulkas habis, jadi sekalian belanja.
"Owh."
"Maaf kak, aku buru-buru, terimakasih untuk yang tadi."
"Sama-sama."
Beberapa saat kemudian, Sheril segera menuju lift lalu menekan tombol nomor tiga puluh. Sedangkan lelaki tadi masih melihat kemana Sheril pergi, entah kenapa ia seperti ingin mengenalnya lebih jauh.
"Owh, lantai tiga puluh, oke, sampai ketemu nanti girls."
.
.
Ting ... pintu lift pun terbuka. Kini Sheril sudah berdiri tepat didepan pintu kekasihnya. Tanpa menekan tombol, pintu itu sudah terbuka. Sepertinya pemilik dari ruangan itu memang sedang menunggunya.
"Welcome sayang."
"Hai sayang, ngapain bengong, bantuin bawa napa?"
"Iya sayang, aku bantuin."
Lalu Leo mulai membawakan semua paper bag berisi beberapa lauk beku dan sayuran segar. Tanpa diminta Loe sudah memakai celemek kebesarannya, ia pun sudah mempersiapkan celemek spesial untuk Sheril.
"Jadi kita masak apa hari ini?"
"Masak apa ya, enaknya?"
"Kalau aku lagi pengen masak tumis pare pakek teri."
"Wah, ide bagus sayang, kalau begitu aku siapin bahannya dan jangan lupa pakai celemek CINTA kita," serunya sambil mengedipkan salah satu matanya ke arah Sheril.
.
.
"Jo, aku butuh bantuanmu, bisa bertemu sekarang!"
"Bisa bos, aku otewe sekarang."
"Ok."
Setelah memastikan semuanya beres, ia pun menuju resto yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Jo adalah salah satu asisten yang multifungsi tetapi baik hati. Oleh karenanya Dion selalu memakai jasanya.
Berhubung ia tidak ada tugas ke luar kota, maka Jo segera melajukan mobilnya menuju sebuah resto. Ternyata bosnya satu langkah lebih awal ketimbang dirinya.
Ia pun segera memasuki resto tersebut.
"Selamat malam bos."
"Malam, silahkan duduk."
.
.
Di kamar Leo.
"Sayang, sebentar lagi makanannya siap," teriak Sheril dari dapur.
"Iya sayang, meja dan dekorasinya juga sudah lengkap."
"Oke, tinggal part ahir dan makanan siap disajikan, horee ... " serunya terlihat bahagia.
Sedangkan Leo entah sejak kapan sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping milik Sheril. Hingga sang pemilik tubuh hampir berjingkat karena kaget.
"Sorry sayang, abisnya aku kangen banget sama kamu," ucap Leo sambil menghembuskan nafasnya tepat ke arah telinga Sheril.
"Sayang, aku lagi masak nih, jangan ganggu dong, ah."
"Sorry sayang ..."
"Lepas gak tangannya atau aku tabok pake spatula biar nyahok!" ancam Sheril pada Leo.
"Iya sayang, aku lepas nih."
"Nah kan udah, ambilin mangkok ya," pinta Sheril dengan mata berkedip centil.
"Siap sayang."
Lalu dengan segera, ia pun membawakan mangkok permintaan pacarnya itu.
"Makasih."
Lalu dengan segera, makan malam mereka sudah siap dan tersaji di meja.
.
.
...🌹Bersambung 🌹...