After Married

After Married
FLASH BACK MEMORY



"Oh NO, apa aku harus melihat hal mengerikan itu untuk kedua kalinya," batin Fadhil.


Suara-suara itu mengalun indah di kedua telinga Fadhil, membuatnya semakin ngilu untuk membayangkannya.


.


.


FLASH BACK ON


Saat itu hanyalah Fadhil satu-satunya lelaki yang berada di ruangan Nisa. Hingga ia dianggap sebagai suami Nisa. Disaat bersamaan Nisa sedang mengalami kontraksi.


Pembukaannya pun sudah lengkap kata dokter. Fadhil pun terperangkap dalam situasi yang genting saat itu, apalagi salah satu tangannya dipegang erat oleh Nisa.


Mau tidak mau ia pun harus mengikuti semua proses dari awal hingga ahir proses persalinan Nisa.


.........


"Kreeettt ... wrekk ... wreeekkkk ...." suara gunting saat menyobek jalan lahir sang bayi.


Fadhil yg mendengarnya merinding seketika. "Apa itu tadi yg digunting?" pikirannya berputar-putar saat itu, membayangkannya pun ia tak bisa. Karena ia memang belum mempunyai pacar atau istri, mana mungkin ia tau area itu?


.........


Ia masih ingat betul saat suara sobekan dan entah suara apa, yang jelas membuat siapapun yang mendengarnya ngilu.


.


.


FLASH BACK OFF


.


"Mas, kamu kenapa si?"


"Aku tidak bisa membayangkan hal mengerikan itu kembali terjadi padamu Nisa."


Nisa tertawa kecil, "Mas ngomong apaan si?"


"Nanti saja di rumah," bisik Fadhil tepat ditelinga Nisa disertai kerlingan nakal.


Dokter Wenny yang melihat keuwuan di depannya hanya bisa mengelus dada.


"Ehem ..."


Deheman dokter Wenny membuat Fadhil dan Nisa kembali memperhatikan dokter di depannya itu.


"Ada yang bisa saya bantu kembali?"


"Sudah dok, terimakasih banyak."


Lalu Nisa dan Fadhil permisi, tak lupa resep vitamin sudah dikantongi Fadhil. Mereka pun bersiap menuju apotek.


Beberapa langkah mereka sudah sampai di apotek, Fadhil lalu menebus resep vitamin untuk istrinya.


Saat duduk di ruang tunggu, sekilas ia sempat melihat sosok Zein di tempat itu.


"Mas Zein ..." batin Nisa.


Ia membelalakan matanya lebar-lebar ke arah tempat dimana ia melihat Zein. Tetapi saat ia mengedarkan pandangannya ke seluruh lorong rumah sakit, ia sama sekali tidak bisa menemukannya.


"Apa aku berhalusinasi?"


Tiba-tiba Fadhil datang, "Ayo kita pulang."


Nisa terkaget kemudian berusaha mentralkan kembali raut wajahnya, "Iya mas."


Ia dibantu bangkit lalu bergandengan tangan menuju lift.


Ting...


Pintu lift terbuka seketika, mereka berdua segera masuk lift dan menuju lantai bawah tempat dimana mobil mereka terparkir.


.


.


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di kediaman mereka. Mereka tiba lebih cepat karena mereka tidak mampir kemana-mana dan langsung menuju rumah.


Menurut kepercayaan orang lama, seorang ibu hamil tidak boleh pergi menjelang atau sesudah maghrib, kecuali jika memang keadaan itu mendesak dan membuatnya harus keluar dari rumah.


Satu lagi, jika kita pergi berobat sebaiknya sepulang dari tempat berobat kita tidak boleh mampir atau berhenti sebelum sampai rumah.


Karena percaya atau tidak, jika kita melanggar hal itu biasanya terjadi hal-hal buruk. Misal jika kita tidak langsung pulang sesudah berobat maka obatnya tidak akan berfungsi alias tidak ada manfaatnya, atau tidak jadi sembuh.


Percaya atau tidak tetapi jika ditelaah dengan baik, hal-hal itu masuk diakal. Misalnya jika kita berobat dan tidak langsung sampai dirumah, maka obat dari dokter tidak bisa kita konsumsi secara langsung.


Atau kita juga tidak bisa langsung istirahat, karena sebenarnya sehabis berobat itu lebih baik jika kita banyak istirahat.


Kalau soal mitos orang hamil tidak boleh keluar jika matahari sudah tenggelam, itu karena udara malam kurang baik untuk ibu hamil.


.


.


Mau percaya atau tidak itu hak kalian ya..author hanya membagikan apa yang aku ketahui dan semoga bermanfaat...


Makasih banyak all..jangan lupa tekan ❤ n Favorit agar saat update ada notif yang muncul di ponsel kalian..