
...🌹🌹🌹...
...Kediaman Nisa dan Zein...
.
.
"Maaf ini dibawa kemana Tuan?"
"Dikamar tamu saja mbok."
"Baik."
Saat ini Fajar sudah dibawa ke kamarnya. Sesaat setelah Yo pergi, ia lalu dipindahkan ke dalam kamar Nisa dan Zein. Setelah mengantar Mang Dede, Yo segera permisi untuk kembali ke apartemennya.
Kenapa Yo tidak curiga? tentu saja itu karena pengaruh hipnotis dari Mang Dede.
Sedangkan orang rumah sudah diberi tahu Nisa kalau Pak Zein akan segera kembali ke rumah itu, dan sebelum Nisa ke tempat itu, semua urusan dibawah perintah Mang Dede.
>>>FLASH BACK ON
Mang Dede memang pernah menjadi kepala pelayan di rumah itu. Tetapi sejak Zein dinyatakan meninggal ia mengundurkan diri dan kembali ke kampung halamannya.
Ia begitu terpuruk karena Zein sudah seperti anaknya sendiri, dan tiba-tiba saja ia pergi dan tidak kembali. Mang Dede memang tidak memiliki keturunan, sebab calon anaknya meninggal saat istrinya melahirkan.
Begitu pula dengan sang istri yang mengalami pendarahan hebat, akibatnya ia pun meninggal tidak lama kemudian. Sejak bertemu Zein ia pun mengabdikan dirinya sepenuhnya serta menganggapnya sebagai anak angkatnya.
Saat itu memang ia pernah berpamitan untuk pergi keluar negeri untuk perjalanan bisnis. Sebenarnya saat itu Nisa sedikit keberatan tetapi Zein meyakinkan dirinya ia akan baik-baik saja.
Ternyata dugaannya salah, sejak itu ia tidak pernah kembali lagi. Sampai ahirnya Mang Dede mengundurkan diri dan kembali ke kampung halamannya.
Selain untuk mencari keberadaan Zein secara pribadi, ia juga ingin menenangkan diri. Hidup di perkotaan membuatnya lupa, bahwa ia harus menjaga ilmu-ilmunya.
Sampai disaat semua ilmunya kembali, ahirnya Tuhan mempertemukan kembali dirinya dengan Zein.
Bersyukur, ia amat bersyukur, ahirnya ia bisa kembali menemukan Tuannya yang hilang.
>>>FLASH BACK OFF
Sampai saat berita itu muncul, ia pun amat berduka. Sehingga ia meminta ijin pada Nisa untuk pulang ke kampung halamannya. Bahkan disaat Nisa menikah kembali, ia tidak menghadirinya.
Bukannya tidak memberi restu, tetapi entah kenapa hati kecilnya mengatakan kalau Zein belum meninggal. Hal itu terbukti, sekarang di depan mata kepalanya sendiri, Zein berbaring di depannya.
Ia sangat yakin seratus persen kalau pemuda di depannya ini adalah Zein. Tetapi di sisi lain hatinya, ia juga merasa bersalah karena ia membawa kembali ke rumah ini.
Bukankah Nisa sudah menikah kembali? Lalu seperti apa hubungannya nanti dengan Zein?
"Astaga, sepertinya keputusanku terlalu gegabah."
Tak mau berlarut-larut memikirkan hal itu, ia kembali ke kamarnya. Belum sempat ia melangkah jauh, tatapan dari para pelayan yang sedang berkumpul di depan kamarnya seolah meminta jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak mereka.
Apalagi kalau bukan karena kehadiran Pak Zein yang sudah lama dianggap meninggal dan kini bisa hadir kembali di tengah-tengah mereka.
Setelah semuanya berkumpul, Mang Dede memulai ceritanya tentang bagaimana ia bisa menemukan Pak Zein dan siapa sebenarnya beliau.
Tetapi ia belum bisa memastikan apakah tidak ada efek dari kecelakaan besar yang sudah menimpanya tempo hari. Jadi ia pun akan menunggu respon beliau jika sudah siuman.
Sementara itu Yo yang telah sampai di apartemennya sedikit merasa bingung kenapa ia bisa berada disana. Padahal terahir kali ia berada di kantor dan sedang mengerjakan beberapa proyek penting.
Tanpa berpikir lebih panjang ia pun menelpon Fadhil dan menanyakan bagaimana keadaan kantor sepeninggalnya tadi.
Kring
Kring
Kring
"Hallo, ada apa Yo?"
"Hai kak, maaf bagaimana pekerjaan kantor hari ini ?"
Fadhil tertawa kecil menanggapi Yo.
"Kamu ini ... belum juga sehari ijin cuti, sudah teringat pekerjaan kantor?"
"Ha ha ha, maklum kak, badanku masih tidak enak."
"Nah itu kamu paham? sudahlah urusan kantor biar aku tangani, kamu istirahat saja oke."
"Terimakasih kak."
"Sama-sama."
Lalu Yo pun masuk ke apartemennya, tidak butuh waktu lama ia pun mencoba berendam di kamar mandi.
Tidak biasanya ia linglung seperti hari ini. Mungkin memang benar kata kakaknya, ia butuh cuti untuk menyegarkan pikiran serta tubuhnya.
Kini ia merasa capek dan letih. Tulang-tulangnya terasa pegal, ingin rasanya sehabis ini pergi ke tukang pijat.
Sesekali bolehkan pergi bersenang-senang, batinnya.
.
.
.
Apakah Zein akan mendekatkan kembali ingatannya ketika ia berada di rumahnya sendiri?
.
.
Kita simak di eps selanjutnya akak..see you...