
Setibanya di rumah, pikiran Nisa masih berputar-putar tidak karuan. Pikirannya masih tertinggal di rumah sakit. Sosok suaminya yang tiba-tiba datang kembali mengusik kehidupannya.
Bahagia atau kecewa? Apakah itu benar suaminya? Nisa sempat terlarut akan lamunannya. Sampai tepukan lembut dari suaminya membuatnya kaget.
"Astaghfirullah... "
Nisa mengusap dadanya dan mencoba menetralkan kembali pikirannya.
"Kamu melamun dek?"
"Hah, eh ... maaf iya mas."
"Kamu ngelamunin apa?"
"Emm ... itu ..."
"Bilang sama mas, siapa tau bisa mengurangi beban pikiran kamu."
Nisa mengangguk, tetapi sebelum ia sempat membalas perkataan suaminya terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
Tok
Tok
Tok
"Mommy ... Daddy ... bolehkah aku masuk?"
Teriakan Zi menggema di luar pintu. Nisa dan Fadhil saling menatap dan sama-sama menoleh ke arah pintu.
"Masuk sayang ..."
Lalu terdengar suara pintu dibuka.
Ceklek
"Mom ... Dad ... apa kehadiranku menganggu?"
Nisa menggeleng, " Tidak sayang, kemarilah."
Zi pun melangkah senang mendekati mommynya itu. Sudah lama ia memendam kerinduan untuk bersama kedua orangtuanya itu.
Beberapa hari ini mereka jarang bertemu karena Zi banyak tugas sekolah sedangkan Nisa sudah kecapekan karena kehamilannya semakin bertambah tua. Mengakibatkan ia sering tertidur di sembarang tempat.
Terkadang saat menemani Zi belajar pun ia malah ketiduran. Sedangkan Fadhil banyak pekerjaan kantor yang membuatnya sering lembur.
Sehingga intensitas pertemuan mereka sedikit berkurang.
Zi mendekati dan duduk di samping ibunya.
"Bagaimana keadaan adik Mom?"
"Alhamdulillah sehat, ia kuat seperti kamu sayang."
"Ah, benarkah itu?"
"Hu um, ya kan mas?"
"Iya ..."
"Oh ya, Mbok Jah sudah menyiapkan makan malam untuk kita, ayok kita makan dulu," ajak Fadhil.
"Ayo kita makan," ucap Fadhil sambil mengangkat putranya kemudian menggendong Zi dengan tiba-tiba.
Zi tentu saja kaget akan perlakukan ayahnya. Tetapi ia bahagia karena ayahnya kembali memperhatikannya.
"Aku sudah bukan anak kecil lagi Dad!"
"Bagi Daddy kamu tetap anak kecil kesayangan Daddy."
Lalu mereka bertiga berjalan bersama ke ruang makan. Sudah banyak makanan lezat terhidang disana. Untungnya Nisa sudah bisa makan apa saja saat ini. Jadi apapun makanannya, calon baby mereka sudah tidak menolaknya lagi seperti di saat-saat awal kehamilannya dulu.
Kehangatan yang tercipta di ruang makan membuat hati Nisa tersentuh. Suasana makan malam itu sedikit mengingatkan Nisa akan rumah tangga impiannya dulu dengan Zein.
Impian membangun sebuah rumah tangga yang harmonis, dan menghabiskan waktu sepulang kerja secara bersama-sama.
Tetapi kini impian itu memudar, seiring berjalannya waktu. Terganti dengan impian yang baru bersama Fadhil.
"Kenapa anak itu selalu muncul dalam mimpiku?" tanya Fajar ketika waktu menujukkan jam tiga dini hari.
Sudah beberapa hari ini ia selalu memimpikan kehadiran Zi. Bayangan wanita dan anak laki-laki itu hampir setiap hari membayanginya.
Membuat dirinya bingung dan harus mencari tau sebenarnya siapa dirinya? Apakah memang benar seharusnya ia berada disini ataukah ia di tempat ini karena tersesat dan tak tau arah jalan pulang?
Ketika ia memaksakan ingatannya lebih dalam, rasa sakit itu kembali menerpanya. Membuat dirinya harus beberapa kali mengatur nafasnya agar sedikit berkurang rasa sakitnya.
Karena hatinya yang begitu gelisah, ia pun mengambil air wudhu kemudian melaksakan sholat tahajud.
Setidaknya dengan cara itu ia bisa sedikit mendapatkan kedamaian hati. Ia selalu terjaga sehabis itu, matanya menerawang jauh memandang langit-langit malam.
Bintang-bintang dilangit yang bertaburan indah sedikitnya bisa membantunya sejenak melupakan beban dipikirannya. Bisa bernafas sampai saat ini, membuatnya banyak bersyukur. Setidaknya ia masih hidup sampai hari ini. Ia membayangkan suatu saat nanti ia bisa pergi dari pulau ini dan melihat dunia dibagian lain. Tapi entah kapan hal itu bisa terwujud ia tak tau dengan pasti.
Karena di tempat itu tidak ada surau atau masjid, maka jika jarum jam menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit, ia akan mengambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh.
Meskipun tidak ada surau atau masjid mereka masih bisa beribadah di dalam rumah.
“Terbangun lagi nak?” tanya bapak tiba-tiba muncul dari belakang.
“Iya Pak.”
“Ya sudah, bapak beribadah terlebih dahulu.”
Zi mengangguk, ia lalu menuju kamarnya kembali untuk beristirahat. Ternyata Cahaya mendengar percakapan Fajar dan ayahnya, sebenarnya ia juga sudah tau kalau ahir-ahir ini Fajar sering terjaga hingga fajar muncul dari ufuk timur.
Tetapi ia tidak mau mendekati atau menganggu Fajar. Ia memilih untuk melihatnya dari balik pintu kamarnya. Meskipun hanya terbuat dari bambu, tetapi rumah mereka cukup aman dari panas dan hujan.
Setidaknya usianya hampir sama dengan usia Cahaya saat ini, sekitar tujuh belas tahun. Bukan waktu yang sedikit untuk mereka bisa bertahan di pulau terpencil seperti itu.
Hanya ketetapan hati dan kuatnya iman yang bisa mempertahankan mereka bisa tetap tinggal disitu. Kalau Fajar yang disuruh tinggal lebih lama disitu ia tidak akan kuat. Karena sepertinya ia sudah merasa bosan tinggal di pulau itu.
Hati kecilnya menggelitik, membuat rasa penasaran di hatinya makin berkembang. Pagi itu ia kembali bermimpi kedatangan seseorang yang hamil besar dan meminta tolong kepadanya.
Hosh ... hosh ... hosh ...
“Siapa kamu sebenarnya?”
“Kenapa aku selalu memimpikanmu?”
Banyak sekali pertanyaan yang meng-hinggapinya ketika ia habis bermimpi tentang wanita dan anak kecil itu. Tetapi panggilan dari luar kamarnya membuatnya tersadar, ada Cahaya yang memanggilnya saat ini.
“Mas ... mas Fajar...”
“Iya, sebentar lagi aku keluar.”
Fajar segera merapikan penampilan serta tempat tidurnya, lalu ia segera pergi mengikuti Cahaya yang sudah menunggunya di depan kamar.
Di dalam salah satu bilik, sudah terhidang beberapa jenis masakan untuk mereka sarapan pagi itu. Ibunya bercerita kalau hari ini ia dan ayahnya akan pergi ke pulau seberang untuk membeli beberapa pokok bahan makanan dan bumbu.
Seperti biasanya mereka akan menitipkan Cahaya pada Fajar. Tetapi entah kenapa, kali ini ia ingin ikut dengan mereka ke pulau sebelah.
Saat Fajar mengutarakan maksunya, Ibu dan Ayah Cahayasaling berpandangan heran, mungkinkah? Begitu banyak pertanyaan yang hinggap pada kedua orangtua Cahaya. Ingin menolak tetapi dengan alasan apa.
Setelah memikirkan beberapa saat, ahirnya mereka mengijinkan Fajar dan Cahaya untuk ikut mereka. Setelah semua peralatan makan dirapikan dan memastikan semua pintu rumahnya terkunci, mereka ahirnya berangkat ke pulau sebelah menggunakan perahu layar biasa.
Tapi sebelum itu mereka membawa beberapa bekal untuk makan mereka di perjalanan. Tentu saja karena waktu yang mereka butuhkan cukup lama. Dengan menggunakan tenaga tangan, mereka mengayuh dayung perahu itu menuju pulau terdekat.
.
.
.
Akankah Fajar kembali mendapatkan ingatannya? ataukah ia harus menjalani takdir baru dengan Cahaya?
.
.
.
Simak kisah selanjutnya akak..semoga makin suka, maaf ya jika lama update🙏