After Married

After Married
MENUNGGU



...⚜⚜⚜...


...Kediaman Alexa...


"Is daddy ready to go?" tanya Alexa pada ayahnya.


"Already dear, let's go."


"Mama how about you, are you ready too?"


"Oh sure honey, let's go."


Keluarga kecil itu pun segera berangkat menuju bandara pagi itu. Karena di rumah Fadhil tidak memiliki landasan pribadi, maka dengan sangat terpaksa mereka menggunakan transportasi umum.


Lagi pula ini lintas negara, jadi untuk mengurangi resiko tersebut mereka lebih memilih menggunakan maskapai penerbangan umum.


Beberapa koper sudah dibawa mereka, karena mungkin mereka agak lama tinggal di Indonesia. Tentu saja kedatangan mereka kali ini untuk putri satu-satunya. Mendukung serta memberi restu untuk hubungan putrinya dengan laki-laki dewasa, yaitu Yo.


"Wait for me there baby, i will come soon... " ucap Alexa dengan bahagia.


Hatinya benar-benar berbunga hari itu. Rasa rindunya untuk calon suaminya begitu melimpah sehingga ia segera bertemu.


Tepat pukul delapan pagi waktu Australia, pesawat yang mereka tumpangi take off menuju bandaran Soekarno Hatta.


Kini hati Alexa sedang berbunga-bunga karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan pujaan hatinya.


Sementara itu Yo juga sama-sama tidak tenang kerena menunggu kedatangan calon istri dan mertuanya.


.


.


...⚜⚜⚜...


...Perusahaan Fadhil...


"Selamat pagi semuanya," ucap Fadhil mulai memimpin meeting pagi itu.


"Pagi pak."


"Oke sebelum kita memulai meeting pagi ini seperti biasanya kita awali dengan berdoa terlebih dahulu."


Lalu setelah semuanya selesai berdoa, maka meeting pagi itu benar-benar dimulai.


Secara resmi pagi itu pula, Zein diperkenalkan sebagai salah satu petinggi perusahaan.


"Terimakasih untuk semua hadirin yang telah meluangkan waktunya pada siang ini."


"Pertama-tama saya ingin mengenalkan salah satu pemilik saham yang telah kembali dari luar negeri untuk ikut meeting pagi ini."


Sebagian hadirin saling menatap satu sama lain. Hingga dari arah pintu muncullah Zein dari arah sana.


Semua mata tercengang terlebih untuk orang-orang lama yang sudah dalam beberapa tahun terakhir masih bergabung di perusahaan itu.


"Tuan Zein," ucap mereka.


"Selamat pagi semuanya," sapanya ramah.


"Bu-bukankah Anda sudah meninggal?" celetuk salah satu diantara mereka.


Sedangkan Zein hanya tersenyum menanggapinya.


"Nah sudah kenal dengan Tuan Zein?" tanya Fadhil sembari mengamati keterkejutan hampir seluruh peserta meeting.


Ia pun menahan tawanya, lalu Fadhil memperkenalkan Zein di depan semuanya.


Hampir semuanya tercengang akan keajaiban yang mereka dapati pagi itu. Sampai ahirnya Zein memperkenalkan dirinya sebagai orang baru di perusahaan itu.


Sebagian diantara mereka lega, sebagian lainnya masih tidak percaya.


Satu jam kemudian meeting selesai.


.


.


...⚜⚜⚜...


...Sekolah Zi...


Suasana ruangan kelas begitu tenang, semua anak-anak tampak mengamati pelajaran di kelas tersebut dengan nyaman. Sesekali tampak Sharen masih mencuri pandang terhadapnya.


Sedangkan Zi terkadang membalasnya dengan senyuman.


"Huaa, kenapa dia semakin tampan," gumam Sharen dalam hati.


Hanya dengan senyuman dari Zi mampu mengubah suasana hati Sharen pagi itu. Kini ia pun semakin menikmati pelajaran di kelas.


Ahirnya penunjuk waktu telah menunjuk ke arah angka duabelas.


Teng ... Teng ... suara lonceng telah berbunyi.


Itu tandanya jam istirahat sudah dimulai. Semua anak-anak merapikan buku-buku pelajarannya dan sebagian lagi memasukkan ke dalam tas.


Sesaat kemudian Zi membawa bekal makannya menuju kantin sekolah, begitu pula dengan Sharen yang mengekor di belakangnya.


Ia yang sedang mengekor di belakangnya jadi ikutan berhenti mendadak.


"A-aku ..."


"Kamu masih takut padaku kah?" tanya Zi hati-hati.


"Eh, tidak aku cuma tidak mau mengganggumu saja."


"Bukankah kita berteman?"


"Iya, kita memang berteman."


"Kalau begitu berjalanlah sejajar denganku, jangan dibelakangku, oke."


"Oke, terimakasih kak."


Ahirnya mereka pun segera menuju kantin dengan jalan secara bersamaan. Senyum mereka pun mengembang satu sama lain.


.


.


Sementara itu demi mengusir kejenuhannya Nisa mulai memainkan jemarinya untuk menggambar sketsa. Lagi pula tangannya sudah terlalu lama berdiam diri, ia pun takut kalau sampai keahliannya dalam membuat sketsa menghilang.


Saking serunya ia pun tak menyadari ketika suaminya sudah datang dan membawakan sebuah menu makan siang untuknya.


Ketika Nisa sedang asyik dengan tinta dan kertas gambar, tangan Fadhil dengan nakalnya bermain di pinggang Nisa. Belum lagi hembusan nafas yang sengaja ia tiupkan di belakang telinga Nisa.


Sontak saja Nisa kegelian dan terganggu.


"Mas ... hmmm ... lepasin ih ..."


"Kenapa, kamu terganggu, hmm ..."


Mau tak mau Nisa yang merasa kegelian segera menghentikan kegiatannya. Ia pun menoleh pada suaminya.


"Tumben mas pulang cepet ..." ucap Nisa sambil memainkan kancing kemeja suaminya.


Wajahnya tertunduk malu sekaligus tersipu. Sentuhan lembut suaminya tadi berhasil membangkitkan sesuatu di dalam diri Nisa.


"Kenapa, kamu kangen ..."


Nisa pun mengangguk.


Tanpa menunggu lama, sembari mengecup bibir tipis istrinya, salah satu tangan Fadhil sudah menekan kunci otomatis untuk pintu kamarnya.


Sehingga tidak akan ada pengganggu kegiatan mereka siang itu.


Ciuman yang sebelumnya biasa, kini semakin membara. Decapan demi decapan mulai terdengar. Untung saja kamar mereka sudah didesain kedap suara, sehingga tidak akan terdengar dari luar.


Tanpa mereka sadari kegiatan mereka semakin lama semakin menuntut.


"Sayang, bolehkah ..." ucap Fadhil ditengah kegiatannya.


Nisa pun mengangguk.


Hingga akhirnya entah sejak kapan, pakaian mereka sudah berhamburan di dalam kamar itu. Kedua tubuh suami istri itu sudah sama-sama polos.


Sedangkan kegiatan mereka semakin lama semakin membuat peluh bercucuran dari keduanya.


Ciuman yang awalnya di bibir kini sudah beralih ke leher Nisa. Kemudian mulai menurun dan beralih di setiap jengkal tubuh Nisa.


Fadhil memang pandai melakukan fore*** pasangannya. Hingga ahirnya le-ngu-han demi le-ngu-han mulai lolos dari bibir Nisa.


"Mas, cu-cukup..." ucap Nisa sambil me-re-mas rambut suaminya itu.


Hal itu tidak membuat Fadhil jera, ia malah semakin bersemangat untuk memanjakan Nisa dibawah kungkungannya.


Karena keliahaian Fadhil, ahirnya letusan lahar dari gua garba milik Nisa berhasil lolos dengan sempurna. Membuat sang empunya lemas sekaligus mendapatkan puncak ke-nikmat-an yang hakiki.


Senyum dari suaminya semakin mengembang dengan sempurna. Kini tibalah giliran Fadhil menyelesaikan kegiatan panas siang itu.


Ia pun semakin mempompa miliknya semakin dalam. Dengan alur yang semakin cepat, hingga ahirnya penyatuan mereka siang itu berakhir dengan sempurna.


Peluh yang mengucur dari keduanya menjadi saksi bisu kegiatan panas siang itu.


Meski kegiatan olahraga siang itu hanya sebentar tetapi membuat Nisa dan Fadhil terkulai. Dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibir Fadhil, ia pun kembali mengucapkan terimakasih pada istrinya itu.


"Terimakasih sayang, kamu selalu ada disisiku," ucapnya.


"Sama-sama sayang, sampai kapanpun aku akan selalu ada untukmu," ucap Fadhil menimpali.


Ahirnya kegiatan siang itu diakhiri dengan tidur siang secara bersama. Meski begitu setidaknya mereka sudah melakukan ibadah yang membawa berkah.


...🌹Bersambung🌹...


.


.


...Semoga suka dengan part ini, jangan lupa LIKE, KOMEN dan FAVORIT YA🙏...