After Married

After Married
HUBUNGAN YANG RUMIT



Dua puluh menit kemudian dokter Richard sudah sampai di kediaman Zein. Mobilnya segera ia parkir di depan rumah, lalu melangkahkan kakinya ke dalam mansion itu.


Ceklek


Pintu rumah utama terbuka, ia pun disambut oleh Mang Dede yang terlihat panik disana.


"Silahkan masuk dokter."


"Terimakasih."


Lalu kedua lelaki beda generasi itu segera melangkah masuk ke kamar Zein yang sudah terbuka beberapa saat lalu.


Dilihatnya wajah lelaki yang sama persis dengan sahabatnya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Diamatinya secara mendalam wajah sahabatnya itu.


"Siapa dia Pak?"


"Tuan Fajar."


"Jangan berbohong padaku, aku tau dia Zein."


Mang Dede berdebar, ia sudah tidak bisa membohongi dokter di depannya ini, apalagi jejak rekam kesehatan Zein ia ketaui semuanya.


"Maafkan saya dokter, mungkin memang beliau Tuan Zein."


"Ya sudah biar aku periksa dulu."


Dengan cekatan ia pun mengambil beberapa peralatan medisnya lalu ia mulai memeriksa keadaan Zein.


Ia menoleh pada Mang Dede, " Bolehkah aku membawa Zein ke rumah sakit?"


"Jika itu yang terbaik, maka lakukanlah dokter!"


Ia pun mengangguk lalu segera menelpon ambulance. Sembari menunggu kedatangan ambulance, Mang Dede mulai di interogasi olehnya.


Mau tak mau ia pun mengatakan segalanya. Mulai dari pertemuan pertama mereka di pasar tradisonal sampai ahirnya ia meyakinkan dirinya untuk menculiknya.


"Astaga Mang, kenapa seperti ini? aku memang ingin mencari keberadaan Zein yang sempat menghilang tetapi tidak begini caranya."


"Lalu apakah mereka tau kau menculiknya dari mereka?"


Mang Dede menggeleng.


"Aku yakin mereka tidak tau, dari pakaiannya saja mereka seperti bukan berasal dari sana, mungkin mereka dari pulau seberang."


"Sebaiknya aku mengecek keseluruhan kondisi Zein di rumah sakit."


Mang Dede mengangguk.


"Aku takut mereka tidak merawat Zein dengan baik selama beberapa tahun ini, kemungkinan saat ini ia gagar otak atau mungkin ia hilang ingatan."


"Aku mohon padamu dok, jangan beritahu hal ini pada Tuan Fadhil dan keluarganya. Semua kejadian kemarin atas permintaan Tuan Fajar sendiri."


"Kau boleh memanggilnya Zein, jangan memakai nama Fajar jika kau ingin ingatannya kembali."


"Ba-baik dokter."


Beberapa waktu kemudian, ambulance pun sudah datang. Zein segera dibawa ke dalam sana lalu mobil ambulance segera meluncur ke rumah sakit.


Mang Dede satu mobil dengan dokter Richard mengekor dibelakang mobil ambulance. Mobil mereka segera melaju membelah jalanan ibu kota malam itu.


.


.


...⚜⚜⚜...


...Kediaman Nisa...


Suasana menjadi hening sejak kejadian tadi siang. Kini keluarga besar itu sedang makan malam dalam keadaan hening tanpa suara. Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Tidak ada yang berani membuka suara sejak kejadian tadi siang.


Sampai ahirnya Zi memecah keheningan diantara mereka.


"Nek, kakek, apa habis ini kakek dan nenek semua pulang kampung?"


"Iya sayang, nenek dan kakek ada pekerjaan di kampung yang tidak bisa ditinggal lama-lama," ucap Ayah Nisa.


Wajah Zi yang semula bahagia kini berubah menjadi sendu. Fadhil mulai membelai rambut putranya.


"Benarkah?"


"Iya sayang, Daddy janji."


"Terimakasih Daddy."


"Sama-sama sayang."


Entah kenapa hati kecil Ibu Fadhil tetap tidak bisa menerima kehadiran Zi, apalagi terlihat sekali putra mereka sangat menyayangi Zi yang merupakan anak sambungnya.


Sedangkan ibu dan ayah Nisa sedikit tidak nyaman dengan pandangan besan mereka pada cucu mereka.


Tetapi saat Ibu Nisa mau bicara, suaminya mencegahnya agar tidak menambah keruh suasana malam itu.


Ahirnya ia pun memilih bungkam, lalu mereka pun segera melanjutkan makan malam yang sempat tertunda itu meski keadaan semakin tidak nyaman.


.


.


...🍃🍃🍃...


...Kediaman Tn. Charless...


"Ayah, terimakasih sudah memberiku tempat untuk kembali," ucap Zivanna sambil terus memandangi ayahnya.


"Sampai kapanpun, kedatanganmu akan tetap ayah terima, dasar kau saja yang bodoh, seenam jidatnya pergi meninggalkan ayahmu sendirian."


Tak terasa bulir airmata Zivanna berhasil lolos dari kedua mata indahnya. Entah kenapa, ahir-ahir ini ia lebih mellow ketimbang dirinya yang beberapa tahun lalu pantang untuk menangis.


Kini hatinya sudah berubah, sedikit-sedikit ia gampang tersentuh. Mungkin pelajaran hidup selama lebih dari enam tahun hidup mandiri di luar negeri telah membuatnya dewasa.


Zivanna memang sedari kecil sudah terbiasa hidup mandiri di luar, tetapi di masa remajanya ia salah bergaul, sehingga pikiran-pikiran licik dan ambisius lebih mendominasi-nya kala itu. Tidak seperti saat ini, ia jauh-jauh lebih berbeda dari masa itu.


Tuan Charless yang melihat putrinya menangis, berusaha menghiburnya.


"Ma-maf ayah," ucapnya gemetar sambil mengusap air matanya.


"Sudah, sudahlah jangan menangis lagi, ayah sudah tidak ingin melihat kau menangis seperti itu."


Zivanna mengangguk. Lalu mereka melanjutkan acara makan malam itu. Sesekali ia tetap mengajak ngobrol putrinya, untuk mengetahui bagaimana rencananya ketika sudah kembali ke Indonesia.


Setelah drama makan malam selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing. Zivanna tampak masuk ke dalam kamarnya.


Ia bersyukur sampai detik ini, desain kamarnya tetap sama seperti saat terahir kali ia tinggalkan. Kini ia mulai melangkah masuk dan mencoba duduk di atas ranjangnya.


Matanya terpejam, seolah ingin menikmati kenangan masa lalu yang tidak bisa ia lupakan. Entah kenapa, ada sesosok lelaki tampan yang ia rindukan.


"Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih bekerja di perusahaan ayah?"


Zivanna menggeleng-gelengkan kepalanya.


"No, no, no, aku tidak mau mengusiknya kembali."


"Mungkin ia sudah bahagia dengan pasangannya kala itu."


"Hi hi hi, bagaiamana bisa aku mengganggu calon orang ya saat itu?"


Zivanna tidak habis pikir dengan kelakuannya beberapa tahun lalu, sampai ahirnya membuat murka sang ayah. Sehingga mau tak mau ia harus kembali mengasingkan diri ke luar negeri.


Tanpa ia sadari, perlahan rasa kantuk menyerangnya, kini ia pun terlelap dan semakin masuk ke dalam alam mimpinya.


"Have a nice dream Zivanna," ucap sang ayah yang menyadari kalau putrinya sudah terlelap.


Tak mau mengganggunya, ia segera menutup kembali pintu kamar putrinya lalu bergegas pergi meninggalkannya. Ia juga segera pergi menuju ruang kerjanya.


Masih ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini, sehingga mau tak mau ia harus lembur.


Sejak kepergian Zivanna dan Zein, Tuan Charless lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bekerja. Baginya dengan melakukan itu, waktu akan lebih cepat berlalu. Tetapi ia juga lupa dengan usianya.


Larangan dari dokter untuk lebih banyak beristirahat pun sering ia abaikan. Seorang assitennya pun tidak bisa menghentikan sifat gila kerja beliau.


Kalau dinasehati selalu menyanggah dengan satu kalimat, "Biarkan aku bekerja sampai pada batas waktuku, setidaknya jika putriku kembali, ia tidak perlu bersusah-susah. Ia hanya tinggal melanjutkkan apa yang sudah aku bangun."


Kalau sudah begitu, ia pun hanya bisa menunggu dan menemaninya bekerja.