After Married

After Married
KENYATAAN PAHIT



Setelah perdebatan panjang dan alot, maka dengan sangat terpaksa Andi dan Fatimah harus pergi menjauh dari desa itu. Hanya itulah satu-satunya keputusan yang paling tepat untuk masalah ini. Kepala desa sangat tau akan kepribadian Andi. Karena sebelum kedua orangtua Andi meninggal, ia sudah diberi amanah untuk menjaga Andi dan memantaunya selama di pondok pesantren.


 


Ia juga tau kalau Andi baru saja lulus dari sana, oleh karena itu mana mungkin ia bisa menghamili anak orang. Karena hanya inilah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan mereka, ahirnya keputusan itu diambil.


 


Malam itu juga kepala desa sendiri yang mengantarkan Andi dan Fatimah menuju tepi pantai. Disana sudah disiapkan sebuah perahu dan segala kebutuhan selama beberapa bulan ke depan. Sementara itu untuk tempat tinggal ia tidak bisa membantu. Ia juga berpesan agar mereka tidak kembali ke desa dalam beberapa tahun terahir sampai berita itu menghilang dengan sendirinya.


 


>>>FLASH BACK OFF


 


Sejak saat itu, mereka berdua hidup terasing di pulau itu. Mereka benar-benar mengasingkan diri dari dunia luar, bahkan mereka membuka lahan baru disana. Beruntungnya Fatimah tidak banyak menuntut. Perlahan demi perlahan ahirnya trauma di hati Fatimah menghilang. Sampai ahirnya Cahaya datang memberi warna di dalam pernikahan mereka.


 


Ia hadir memberi warna dan keceriaan di dalam rumah tangga mereka. Fatimah mendidik Cahaya tumbuh menjadi gadis yang baik budi pekertinya. Sedangkan Andi mendidik keimanan putrinya. Kehidupan mereka tenang sampai dengan beberapa tahun lalu, sampai ahirnya mereka menemukam Fajar di tepi pantai.


 


Sejak Fajar hadir, kehidupan mereka bertiga lengkaplah sudah. Ayah dan ibunya sudah sedikit tenang jika meninggalkan putri mereka untuk membeli bahan-bahan pokok makanan. Mereka memang pergi ke pulau sebelah untuk menjual hasil buminya. Sedangkan mereka tidak pernah membawa Cahaya ikut serta.


 


Entahlah, jauh sebelum kejadian ini terjadi, banyak sekali firasat yang menghantui dirinya. Bayang-bayang Fajar yang tiba-tiba pergi seakan membawa pergi senyuman sang putri. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, mungkin memang inilah takdir yang sebenarnya.


 


Ia tidak bisa memaksakan Fajar untuk tetap tinggal, mungkin saja saat kemarin mereka pergi ke pulau sebelah, ada saudara yang menemukan keberadaannya lalu membawanya pergi.


Kini hanya satu keinginannya, menyembuhkan luka batin untuk istri dan putrinya.


.


.


...⚜⚜⚜...


...Begitu pula sebaliknya sesuatu yang tidak Allah tentukan untuk menjadi milikmu kelak kan terlepas dari tanganmu sekalipun kau menggenggamnya erat sepanjang waktu....


...⚜⚜⚜...


.


.


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya bapak mertua Fadhil pada dokter yang barusan memeriksa istrinya.


"InsyaAllah gak apa-apa pak, ia hanya kelelahan dan sedikit syok, mungkin ia baru mendapatkan sesuatu yang mengejutkan dirinya."


"Bapak jangan hawatir, saya sudah resepkan beberapa vitamin untuk istri bapak."


"Terimakasih dokter," ucap Fadhil yang tiba-tiba muncul di ruangan itu.


"Sama-sama."


Richard pun menepuk bahu Fadhil untuk sesaat lalu mengajaknya keluar kamar. Mereka menuju halaman belakang rumah.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Richard tanpa basa basi.


Fadhil tampak menghela nafas panjang sebelum ia mulai menceritakan kejadian sebenarnya.


"Zein sudah kembali."


"Hah, apa yang kau ucap barusan?" tanya Richard tidak percaya.


Bagaimana mungkin orang yang sudah dinyatakan meninggal bisa hidup kembali, pikirnya.


"Ya, dia sudah kembali."


"Lalu dimana ia sekarang?"


"Dia ada di rumah ini," jawabnya santai.


"Apa? wah kau benar-benar gila."


"Sialan, aku masih waras."