
"Zivanna, putri kesayangan ayah," sapa Tuan Charles pada putri satu-satunya itu.
"Iya ayah."
Zivanna pun terduduk lesu di ruang keluarga. Badannya sungguh lelah setelah menjalani semua pekerjaan hari ini. Memang minggu-minggu ini pekerjaannya sudah menumpuk, sehingga ia harus bekerja ekstra keras. Apalagi ada satu proyek yang sedang ia tangani.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Tuan Charles perlahan.
"Lumayan capek ayah," ucap Zivanna dengan suara agak berat.
"Lalu bagaimana meeting dengan Tuan Fadhil?"
"Lumayan lancar dan berjalan baik."
"Apa kau bertemu dengan asistennya?"
Zivanna membenarkan posisi duduknya dan mulai mengerti arah pembicaraan sang ayah.
"Tidak, katanya dia masih berada di luar kota untuk urusan bisnis, jadi tadi hanya bertemu dengan Tuan Fadhil saja."
"Hmm, padahal aku berharap kau bisa bertemu dengannya."
"Jangan bilang ayah mau menjodohkan aku dengannya?" ucap Zivanna kemudian.
"Ha ha ha, ternyata putri ayah sudah dewasa. Bagaimana, apa penawaran ayah kali ini menarik untukmu."
"Terimakasih ayah, terakhir kali ayah berniat menjodohkan aku dengan Zein saja berakhir buruk. Aku tidak mau mengambil resiko kembali untuk kedua kalinya."
"Hmm, begitukah?"
"A-aayahhh, aku mohon biarkan aku mencari jodohku sendiri."
"Oke, ayah akan mengabulkan permintaanmu itu."
"Ayah beri waktu satu bulan untuk hal itu, tetapi jika kamu tidak bisa menemukan jodoh yang kamu maksud, maka kamu harus mengikuti cara ayah!"
"Hhhh, terserah ayah sajalah, aku permisi dulu."
Zivanna sudah terlalu lelah untuk membahas hal perjodohan. Ia pun segera meraih tas kerjanya dan berjalan menuju kamarnya. Karena disanalah ia bisa mendapat sedikit ketenangan.
Sedangkan Tuan Charless hanya menghela nafas panjangnya. Ia sudah tidak mempunyai pilihan lagi saat ini. Selain mendesak putrinya, ia sudah kehilangan akal untuk membujuk putri satu-satunya itu.
Lagi pula usianya sudah tidak muda lagi, sedangkan ia tidak tau sampai kapan ia masih bisa bertahan. Harta paling berharga untuknya saat ini hanyalah putri satu-satunya itu, Zivanna.
Kini ia amat menyesali perbuatannya yang membuang putrinya ke luar negeri dan menghabiskan waktunya untuk menempuh pendidikan disana. Kurangnya pengawasan darinya membuat Zivanna salah langkah. Sehingga saat ia kembali ia bersikap egois dan sikapnya sulit dikendalikan oleh ayahnya.
Karena ia belum bisa menjadi seperti kemauan ayahnya, lagi dan lagi ia dibuang ke luar negeri untuk belajar lebih keras lagi. Hingga ahirnya kesehatan Tuan Charles menurun drastis dan memaksa putrinya kembali ke Indonesia.
Mau tak mau Zivanna sebagai calon penerus satu-satunya harus siap menggantikan posisi sang ayah.
.
.
Ceklek.
Pintu kamar bernuansa girly itu terbuka sempurna. Zivanna melempar tas kerjanya ke atas ranjang. Lalu ia menghamburkan dirinya ke atas ranjang yang sama.
Pekerjaan hari ini sungguh membuatnya lelah. Gaya hidupnya yang sebelumnya semrawut kini harus tertata rapi. Apalagi ia sedang belajar menjadi pemimpin tertinggi di perusahaan ayahnya. Mau tak mau ia harus bersikap profesional.
Drett ...
Drett ...
Drett ...
Benda pipih hitam di dalam tas kerja Zivanna berbunyi. Dengan mata setengah tertutup, salah satu tangannya mulai mencari-cari benda itu.
Tak butuh waktu lama, benda itu sudah beralih ke dalam tangannya. Dibuka matanya perlahan untuk melihat siapa yang menelponnya.
πKenzo is calling...
Melihat nama yang tertera di layar keningnya berkerut.
"Ada apa dia menelponku?"
"Hello ..." sapa Kenzo di seberang sana.
"Hi ..." ucap Zivanna singkat.
"I'm fine, sorry."
"Why don't you give me news lately?"
"Sorry kenzo lately i've been too busy with work."
"Ok i hope you are always good."
"Thank you."
"Next week i will visit you."
"Really?"
"Yes, take care of your health and wait for my arrival there. I love you."
"Love you too."
Lalu sambungan telepon mereka terputus. Zivanna menyunggingkan senyumnya, ia tidak menyangka teman sekaligus sahabatnya saat di LA, akan mengunjunginya kali ini. Mereka memang biasa mengucap sayang, tetapi Zivanna tidak pernah berani menaruh hati pada Kenzo. Baginya sosoknya sudah lebih dari seorang sahabat dan ia tidak mau kehilangannya karena cinta.
.
.
...βββ...
...Los Angeles...
"Zi, tunggu kedatanganku kali ini. Sekarang aku tidak akan melepasmu lagi. Kau harus menjadi milikku saat ini." Ucap lelaki bertubuh atletis itu.
Kenzo memang rajin menjaga tubuhnya. Tetapi suatu ketika, saat ia sedang berolah raga ada salah seorang pengendara yang mengebut di jalur pejalan kaki. Kebetulan ia sedang jogging disana.
Akibat kecelakaan itu, hampir saja Kenzo kehilangan nyawa karena kekurangan darah. Terlebih golongan darahnya cukup langka.
Beruntung saat yang sama Zivanna ada di lokasi tersebut dan membantu membawa Kenzo ke rumah sakit. Zivanna-lah yang mendonorkan darahnya saat Kenzo kehabisan darah. Sejak saat itu mereka pun berteman.
Entah kenapa Zivanna bisa dengan mudahnya akrab dengan Kenzo. Bahkan mereka saling menceritakan kisah masa lalu mereka.
Hingga ahirnya Kenzo berjanji akan selalu melindungi Zivanna sampai kapanpun. Kenzo yang sudah yatim piatu sejak kecil hanya hidup bersama sang nenek.
Di sana, ia juga menjadi pemimpin perusahaan neneknya itu. Kebetulan beberapa saat sebelum Zivanna pamit pulang ke Indonesia, ia sudah mempelajari berkas-berkas perusahaan milik-nya.
Demi tetap bisa bersama pujaan hatinya, Kenzo akan melakukan kerja sama bisnis dengan Ayah Zivanna, yaitu Tuan Charles.
Tetapi sampai saat ini, Zivanna belum mengetahui perasaan sesungguhnya dari Kenzo. Kedatangannya kali ini sekaligus untuk melamar pujaan hati. Tetapi sebelumnya ia ingin mengambil hati calon ayah mertuanya itu.
.
.
...βββ...
...Kediaman Fadhil....
Keluarga kecil itu tengah berkumpul bahagia. Karena Fadhil, Nisa, Zi dan Aaron sedang duduk di ruang keluarga. Malam itu mereka sengaja bercengkerama untuk membiasakan pola baru mengasuh Aaron.
Sebelumnya mereka sudah makan malam. Lalu sesudahnya mereka melanjutkan obrolan ringan mereka di ruang makan.
"Bagaimana sekolahmu hari ini Zi?" tanya Fadhil sambil memangku Aaron.
"Alhamdulillah lancar, tetapi Pak Dodi telat menjemput lagi."
"Sabar sayang, maafin Pak Dodi ya, dia kan sopir baru, jadi kalau dia melakukan kesalahan jangan kamu marahin, ntar kabur lagi kayak ..."
"Iya Moms."
"Ha ha ha, sayang kamu tu sebenarnya sifatnya menurun dari siapa sih, kok demen banget marah-marah."
Mata Zi sedikit melirik ke arah ayahnya, ia sudah mulai cemberut kali ini. Apalagi ia masih terlalu kecil jika harus memposisikan dirinya menjadi dewasa.
Sedangkan Nisa yang sudah hafal betul dengan sikap putranya merentangkan kedua tangannya. Zi yang merajuk kini mulai mendekati ibunya lalu memeluknya erat.
"Mas, udah jangan di gituin, lagi pula Zi juga anak kamu juga kan."
"Iya-iya sayang, maaf-in ayah ya."