After Married

After Married
ACARA MITONI ( TUJUH BULANAN )



.......................


Meskipun sedang hamil..Nisa tetap keliatan cantik. Di awal kehamilan dulu memang Nisa keliatan kucel karena dia begitu alergi memakai make up. Tapi sekarang kondisinya udah mulai membaik.


Saat ini dia juga sudah mau di make up saat acara 7 bulanan ini. Dan menjadikannya semakin keliatan cantik dengan baju muslimnya. Begitu pula dengan Zein yg semakin kelihatan gagah.


Kemudian acara mitoni pun dimulai dengan pengajian dengan mengundang anak- anak yatim piatu disekitar rumah Putri dan memberi mereka beberapa bingkisan sebagai wujud syukur mereka terhadap kehamilan Nisa.


Lalu agak siangnya dilanjut dengan acara inti dari mitoni tersebut. Karena ayah dan ibu Nisa kental akan budaya jawa maka acara inti juga dilakukan sesuai adat jawa.


Dalam menggelar prosesi Mitoni, ada beberapa ritual yang perlu dilakukan, mulai dari acara sungkeman, siraman, hingga membagikan rujak kepada tamu undangan. Tidak hanya itu, karena dalam tradisi Jawa juga identik dengan menyertakan simbolisasi berupa benda yang sarat akan makna luhur.


Untungnya suami dan kerabatnya sudah mempersiapkan acara ini jauh - jauh hari.


Dalam upacara tujuh bulanan Mitoni, orangtua Nisa sudah menyediakan beragam perlengkapan yang jumlahnya serba tujuh.


Antara lain; bubur tujuh warna, ketan atau jadah tujuh rupa, tumpeng buceng yang berbentuk kerucut kecil, procotan yakni hidangan yang dibungkus daun pisang, aneka jajanan pasar, dan berbagai perlengkapan lainnya.


Lalu acara dilanjutkan dengan proses "sungkeman" sebelum melangkah ke acara selanjutnya.


Dalam acara ini Zein dan Nisa harus melakukan sungkeman kepada kedua orangtua guna memohon doa restu untuk keselamatan dan kelancaran pesalinannya nanti.


Kemudian acara dilanjutkan dengan proses " siraman ". Siraman atau mandi dilakukan dengan tujuan untuk menyucikan secara lahir dan batin sang ibu dan calon bayi yaitu Nisa dan bayinya. Dengan balutan kain batik, Nisa terlihat cantik dengan perut membuncit dan kini ia sudah duduk dan disiram dengan air siraman yang telah ditaburi kembang setaman.


Prosesi ini dipandu oleh sesepuh mereka yaitu orang yang sudah ditunjuk kedua orangtua Nisa untuk memimpin jalannya prosesi ini.


Tujuh orang yg terpilih akan menyiram sang Nisa menggunakan gayung dari batok kelapa. Orangnya yaitu ayah dan ibu Nisa, kemudian ayah dan ibu Zein, lalu nenek dan kakek Zein dan yg terahir adalah nenek Nisa. Prosesi siraman dimulai dari orang yang paling tua di keluarga tersebut kemudian dilanjutkan dengan anggota keluarga lainnya yg sudah ditunjuk tadi.


Kemudian acara dilanjutkan dengan " ngrogoh cengkir. Cengkir itu artinya tunas kelapa, dipakai sebagai simbolisasi cikal bakal bayi yang akan menjadi manusia dewasa kelak. Cengkir berjumlah dua buah, diambil oleh sang ayah, untuk selanjutnya dilaksanakan ritual brobosan (meluncurkan)


Lalu dilanjutkan dengan acara "brojolan atau brobosan". Dalam proses ini Zein nanti akan meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang dipakai Nisa. Cengkir atau kelapa muda yang dipakai sebelumnya telah dilukis Dewi Kamaratih melambangkan bayi wanita jelita dan Dewa Kamajaya melambangkan bayi pria rupawan.



Lalu Zein melanjutkan acara itu dengan membelah cengkir tersebut, sebagai simbol untuk membukakan jalan si jabang bayi agar lahir pada jalannya.


Kemudian acara dilanjutkan dengan acara " pantes- pantesan ". Dalam prosesi pantes- pantesan, Nisa harus berganti busana atau memantas-mantas busana sebanyak tujuh kali.


Nantinya, undangan akan serempak menjawab tidak pantas sampai busana ke-6. Barulah busana yang ke-7 akan dipakai Nisa. Ini menjadi salah satu ritual unik dalam prosesi Mitoni.


Sebenarnya Zein kasihan pada Nisa yg harus bolak balik sampai 7 kali. Karena ia melihat wajah Nisa yg kelelahan akibat ritual ini. Apalagi dengan perut buncitnya. Yg terkadang keliatan mental mentul saat Nisa berjalan.


Mau ketawa tapi takut akan tatapan menghunus Nisa yg diarahkan tepat ke arah Zein. Zein harus menelan salivanya dengan susah saat Nisa memandangnya seperti itu.


" Hmm..liat aja nanti di kamar " gumam Nisa.


Banyak hadirin dan keluarga besar yg hanyut dalam prosesi tersebut. Karena Nisa dan Zein juga sangat antusias mengikuti acara ini.


Prosesi selanjutnya "Angrem". Saat ini Nisa dan Zein menirukan gaya ayam yang mengerami telur dan berkokok keras, sebagai lambang tanggung jawab calon ayah atas kehidupan dan kesejahteraan sang calon bayi dan ibunya.


Mereka agak kikuk melakukan proses yg satu ini, sehingga keliatan aneh di mata hadirin. Sehingga sesaat kemudian terdengar gelak tawa yg tak terelakkan lagi dari seluruh hadirin yg mengikuti proses tersebut.


Betapa malu dan saltingnya Nisa dan Zein saat itu.🤣..Tapi mereka ikhlas melakukan semua proses ini demi calon bayi mereka ini.


Selanjutnya acara dilanjut dengan "potong tumpeng". Kali ini prosesnya dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur bahwa selamatan tujuh bulanan telah dilaksanakan dengan lancar.


Acara selanjutnya adalah "pembagian takir pontang".Takir pontang adalah wadah untuk menyajikan makanan yang terbuat dari daun pohon pisang dan janur dan dibentuk menyerupai kapal.


Bentuk takir pontang bermakna bahwa sang calon orangtua harus siap mengarungi bahtera rumah tangga layaknya kapal di lautan.


Hidangan yang sudah diletakan pada takir pontang pun diberikan sebagai suguhan dan ucapan terima kasih dibagikan kepada para sesepuh yang menghadiri upacara.


Dan yg terahir proses "jualan dawet dan rujak."


Rujak adalah makanan kesukaan orang hamil. Rujak dibuat dari tujuh macam buah-buahan segar.


Dan saat tadi Nisa disuruh membuat bumbu rujaknya , sempat ada permintaan dari sang nenek yaitu pake cabenya jangan banyak- banyak biar ga kepedesan..Tapi karena Nisa ingin anaknya laki- laki makanya ia sengaja menaruh cabe yg banyak. Dia sempat senyum- senyum sendiri saat membagikan rujak tersebut .


Dan itu pun tak luput dari pandangan Zein. " Kenapa sayang ? " tanyanya.


" Ga papa kok..kamu liat aja nanti ekspresi orang- orang yg sudah aku bagiin rujak." ujarnya menahan tawanya .


Oh ya..orang yang mau menerima dawet atau rujak dari Nisa, juga harus membayarnya dengan sejumlah uang sebagai syarat.


Saat nenek Nisa memakan rujak tersebut..benar benar ia kepedasan. Ia sempat mau mendekati Nisa dan memarahinya , karena Nisa sudah usil dan tak menghiraukan ucapannya tadi.


Zein yg melihat nenek Nisa kepedasan hanya geleng- geleng kepala.


" Kamu usil sekali si sayang.."ucapnya .


" Biarin..Nisa kan pengen anaknya laki- laki tapi nenek melarang Nisa memberi cabe yg banyak.." ucapnya sambil cemberut.


" Emang kamu kasih berapa cabenya..? " tanya Zein pelan- pelan karena takut menyinggung istrinya itu.


" Nenek suruh kasih 5 biji padahal rujaknya sebaskom gede.."


" Trus..? "


" Trus Nisa kasih satu genggam cabe rawit tadi ya sekitar 30 cabe mas.." ucapnya geli karena menahan tawanya pecah.


Zein hanya geleng- geleng melihat keusilan Nisa kali ini.