
"Permisi Tuan."
"Masuk!"
"Ini surat dan paspor serta semua keperluan yang Anda butuhkan selama berada di Indonesia."
Salah satu suruhan Kenzo sudah selesai meletakkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan Tuannya itu. Kenzo segera memeriksa semuanya lalu ia mengulum senyum. Ia sangat bersyukur mempunyai kaki tangan seperti Zed.
Meskipun perawakannya seram tetapi ia amat setia pada atasannya. Sejak Kenzo menjadi CEO di perusahaan neneknya, ia sudah mengabdi pada Kenzo. Hal itu ia lakukan karena hutang budinya pada mendiang kakek Kenzo.
.
.
"Baiklah, persiapkan semuanya dan kau ikutlah denganku."
"Baik Tuan, saya permisi."
"Hmm..."
Zed sempat terkejut tetapi untung saja ia sudah mengantisipasi hal tersebut. Ia juga sudah membeli satu tiket yang sama dengan Tuannya. Lagi pula tidak mungkin Tuannya pergi tanpa dirinya.
.
.
Waktu begitu terasa cepat berlalu. Kini Kenzo sudah berada di bandara bersama Zed. Mereka sudah bersiap menunggu jadwal keberangkatan mereka.
Kemudian terdengar pemberitahuan kalau pesawat mereka akan berangkat sebentar lagi. Kenzo dan Zed segera bergegas menuju pesawat mereka.
Beberapa saat kemudian, ahirnya pesawat mereka take off menuju Bandara Soekarno Hatta. Perjalanan mereka kali ini merupakan perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan waktu. Karena mereka membutuhkan hampir dua puluh satu jam.
"Semoga perjalanan kali lancar," begitulah doa Kenzo dalam hatinya.
Sedangkan Zed menyayangkan kenapa Tuan mudanya tidak memakai pesawat pribadi milik keluarga besarnya dan lebih memilih memakai transportasi umum.
.
.
"Apa Kenzo benar-benar menyusul gadis itu ke Indonesia?"
"Benar Nyonya, tapi dia membawa Zed turut serta dalam perjalanan bisnis kali ini."
"Cuihhh ... perjalanan bisnis atau masalah hati. Aku rasa itu hanya taktiknya saja. Kita lihat saja seberapa besar perjuangannya kali ini."
"Baik Nyonya."
Di kawasan elit Beverly Hills, terlihat seorang wanita yang sudah cukup usia sedang memandang lepas halaman di depan rumahnya sambil menerima laporan salah satu pengawalnya.
Nyonya Marrie adalah nenek Kenzo. Tetapi ia bukan nenek kandungnya, melainkan ia hanya mengambil hak asuh Kenzo dari sebuah panti asuhan.
Karena Nyonya Marrie belum dikaruniai cucu oleh anak dan menantunya. Hingga ia ahirnya memutuskan untuk mengadopsi Kenzo sebagai cucunya. Terlebih anak dan menantunya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Tetapi karena sikap Kenzo yang selalu suka bertindak sesuai keinginannya, terkadang hal itu membuat perselisihan antara dirinya dengan sang nenek. Meskipun begitu sikap Kenzo sebenarnya penurut dan sangat menyayangi nenek angkatnya tersebut.
.
.
Tuan Charles sudah mendapat kabar kalau akan ada salah satu investor asing yang tertarik bekerja sama dengan perusahaannya.
Tetapi saat ia akan menyuruh Zivanna untuk menggantikannya, bawahannya memberi tahu kalau ia hanya mau bertemu dengan pemilik perusahaannya bukan wakilnya.
"Baiklah, biarkan kali ini aku yang mengatasinya."
Tok
Tok
Tok
"Permisi ayah."
"Masuk."
Tampak Zivanna menenteng beberapa map di tangannya.
"Ada apa sayang, sepagi ini sudah bertemu dengan ayah."
"Ckckck ... ayah bercanda."
"Ini ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan dari ayah sebagai pemilik perusahaan."
"Bukankah kamu sudah menggantikan ayah?"
"Aa-yah, jangan bercanda."
"Terimakasih ayah," ucapnya senang.
Setelah beberapa berkas tersebut sudah selesai di tanda tangani, Zivanna kembali ke ruangannya.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Fadhil...
"Pagi ini ada meeting pagi di kantor, doakan semuanya lancar ya sayang," pamit Fadhil sembari mencium kening Nisa.
"Tentu mas, tanpa diminta pun aku akan selalu mendoakanmu."
"Terimakasih sayang."
"Dan kamu jagoan ayah, jangan bikin mama capek yah.. mmmuuaachhhh..."
Tak lupa Fadhil menciumi anaknya tersebut sebelum berangkat ke kantor. Lalu setelah berpamitan Fadhil segera memacu kendaraannya untuk segera pergi ke kantor.
"Syukurlah mas, sikapmu kepadamu sama sekali tidak berubah. Aku harap kau akan tetap bersikap sama meski nanti semuanya berbeda."
Ahirnya goncangan yang beberapa hari lalu sempat menerpa keluarga kecilnya kini semuanya sudah kembali normal. Meski ia masih hawatir dengan kehadiran Zein, tetapi ia juga tidak bisa egois.
Jika waktu bisa diputar kembali, tentu saja Nisa lebih memilih Zein masih bersama dirinya sampai saat ini, tetapi nyatanya semuanya hanya sia-sia. Perjuangan cinta yang selama ini mereka lakukan harus berujung dengan perpisahan.
Bahkan bagaimanapun cara mereka untuk mempertahankan hal itu, Tuhan memiliki cara lain untuk memisahkannya. Sekarang meskipun Nisa masih mencintai Zein tetapi ia tidak bisa menyakiti kehadiran Fadhil.
Fadhil memang mampu membuat semua keadaan membaik seperti sedia kala. Bahkan jauh sebelum Zein pergi, Fadhil selalu datang sebagai penyelamat dalam hidupnya. Oleh karena itu, tanpa ia sadari ia pun jatuh cinta terhadapnya.
Bahkan semua awalnya baik-baik saja, sampai ahirnya ia mendapat kabar kalau Zein masih hidup. Sebuah keputusan besar ia ambil demi anaknya Zi. Bagaimanapun Zein pernah hadir dalam hidup Nisa. Jika memang ia masih hiduo, ia juga berhak untuk bersama-sama merawat anak mereka satu-satunya.
Beberapa hari yang lalu, Zi sempat bertanya tentang keberadaan Zein yang sempat hadir dalam pesta perayaan tasyakuran pemberian nama adiknya. Meski Zi belum pernah bertemu dengan ayahnya, tetapi ia merasakan kehangatan lain saat memandangnya.
Ia bahkan merasa kalau orang yang mengaku bernama Fajar itu adalah ayahnya yang beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan dan hilang ingatan.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Nisa pagi itu. Dengan posisi Aaron masih dalam gendongannya, Nisa mengangkat teleponnya.
📞 Dokter Richard is calling...
"Hallo, pagi Nisa."
"Pagi dokter, ada apa ya pagi-pagi menelpon, apa hari ini jadwal saya chek-up ya?"
"Bukan, hanya saja akan memberitahumu satu hal."
"Apa itu dokter?"
"Tunggu dulu, apa Fadhil masih di rumah atau ..."
Nisa terkekeh kecil, "Memangnya kenapa dengan suami saya dokter?"
"Bukan begitu, hanya saja aku tidak enak hati kalau ada dia di sisimu."
"Tenang saja dokter, ia sudah berangkat tiga puluh menit yang lalu."
"Oke, kalau begitu aku akan mengatakan kebenarannya."
"Keberatan apa dokter?"
"Kebenaran tentang orang yang kamu anggap sebagai Zein."
"Hah, maksud dokter?"
"Dia memang Zein."
"Ha-ah!!"
Nisa terkejut bukan main setelah mendapat kabar tersebut. Tetapi ia tetap menyimak semua perkataan dokter Richard kepadanya tanpa ada satu pun yang terlewat.
Nisa begitu bahagia sekaligus bimbang. Karena jika sampai keluarga besar suaminya tau akan hal itu, bisa-bisa keselamatan Zein terganggu.
"Aku harus berbuat apa Tuhan, kenapa masalah silih berganti datang menerpaku."
Nisa pun terduduk lesu saat itu. Sampai ahirnya Aaron menggeliat karena posisi tidurnya kurang nyaman. Sehingga ia pun segera memindahkan Aaron ke kamar bayi.
"Biar saya yang membawa Den Aaron, Nyonya."
"Ndak usah mbak, mbak istirahat saja."
"Baik Nyonya."
Lalu Nisa segera menutup kamarnya dan ikut menyusul Aaron untuk berbaring di sampingnya.