
Tak terasa sudah dua hari Nisa dan Aaron berada di rumah itu. Rencananya keluarga besar mereka juga masih berada disana sampai acara selamatan kelahiran hari Aaron yang ketujuh. Menurut penuturan Fadhil, di hari itu juga akan dilaksanakan aqiqah serta pemberian nama untuk putra keduanya.
Persiapan demi persiapan mereka lakukan dengan sangat baik. Selama itu pula Zi bisa bermanja-manja dengan kakek dan neneknya. Kapan lagi coba mereka bisa berkumpul seperti itu. Terlebih pekerjaan kedua orangtuanya membuat mereka jarang bertemu.
Jadi ia pun memanfatkan waktu kali ini dengan sebaik mungkin. Selain bermanja dengan kakek neneknya Zi juga sesekali memperhatikan bagaimana kedua orang tuanya dalam merawat Aaron.
Zi memang belum berani menggendong sang adik, ia hanya membantu mengambilkan beberapa keperluan yang dibutuhkan untuk adiknya. Nisa juga sangat bahagia karena kekhawatirannya tidak terjadi. Meskipun Zi tau bahwa Aaron memang adiknya satu ibu tetapi beda ayah.
Beruntung tidak ada hal yang membebani mereka ketika meninggalkan kampungnya untuk sesaat. Karena selama mereka tinggal di ibu kota, pekerjaan mereka yang ada di desa sudah ada yang menggantikan.
.
.
...🍃🍃🍃...
...Pagi itu...
“Kek, nanti sepulang sekolah ajari aku maen raket kayak kemarin ya," pinta Zi ketika mau berangkat sekolah.
“Iya cu, nanti kakek ajarin kamu sampai bisa.”
"Asikkk ..." ucapnya dengan ceria.
“Ya sudah Zi pamit ya kek, nek.”
"Iya cu, hati-hati ya sayang."
Tak lupa sebelum berangkat ia pun menyalami kedua kakek dan neneknya.
Sesudah berpamitan ia pun segera berangkat sekolah bersama ayahnya. Dari dalam mobil ia pun melambaikan tangannya ke arah kakek neneknya.
“Zah apa besok sesudah acara adek, apa kakek dan nenek akan pulang ke desa?”
“Tentu saja sayang, karena kakek nenek juga punya kesibukan di desa seperti ayah.”
“Oh,” jawab Zi sembari manggut-manggut.”
Fadhil pun mengacak-acak rambut Zi. Hal itu sontak saja sukses membuat bibir Zi mengerucut.
“Ayah, jangan begitu... kadar ketampananku jadi berkurang nih.”
“Ha ha ha ... maaf sayang.”
Lalu mobil yang dikendarai Zi dan Fadhil sudah melaju jauh menuju sekolah Zi.
....
Di kediaman Zein
“Selamat siang tuan.”
“Mau makan apa hari ini, semuanya sudah dipersiapkan pelayan di ruang makan.”
“Terimakasih.”
Pandangannya masih luruh ke sebuah halaman belakang. Beberapa hari ini banyak sekali cerita yang selalu dikatakan oleh Mang Dede. Memang ingatannya belum sepenuhnya pulih, apalagi kejadian itu sudah terjadi enam tahun yang lalu.
Ia menghembuskan nafasnya secara kasar. Mencoba menyelami takdir rumit diantara mereka. Jika memang ini takdir sesungguhnya untuknya maka ia harus menerima dengan lapang dada. Apalagi ia masih memiliki seorang istri dan seorang anak. Ia pun ingin segera membuktikan apakah perkataan Mang Dede benar atau salah.
Ia pun sudah memutuskan kalau besok ia akan berkunjung ke rumah Nisa yang baru. Setelah bermonolog dalam hatinya, ia pun segera menyusul Mang Dede untuk sarapan di lantai bawah.
Derap langkah kaki Zein terdengar dari arah ruang makan. Mang Dede sudah menyadari bahwa cepat atau lambat Zein akan menyusulnya dibawah.
“Pagi ...”
“Pagi tuan, silahkan ... sarapannya sudah siap.”
“Terimakasih.”
Zein terduduk di kursinya lalu segera menyantap seporsi nasi goreng seafood yang katanya kesukaannya.
“Bagaimana tuan, apa anda menyukainya?”
“Hmm, rasanya lumayan. Oh ya jangan panggil saya Tuan ya, panggil saja Zein.”
“Tetapi itu tidak sopan buat saya Tuan.”
“Jangan begitu, lagipula Mamang sangat berjasa dalam kehidupan Nisa dan hidupku.”
“Ba-baiklah kalau tuan memaksa.”
Lalu terjadilah keheningan kembali. Zein duduk di ujung meja, dan Mang Dede juga duduk di ujung meja seberangnya.
Di dalam hati Mang Dede, ia bersyukur karena ia bisa membawa kembali tuannya kembali ke rumah yang seharusnya menjadi miliknya. Meski nantinya keluarganya tidak bisa kembali utuh setidaknya Nisa dan Zi tidak benar-benar kehilangan suaminya. Begitulah pemikiran Mang Dede saat ini.
Selesai makan, Zein mengajak Mang Dede untuk berbincang di teras depan rumahnya. Mereka duduk di sebuah kursi panjang. Di depan mereka terhampar beberapa tanaman bunga berbagai jenis. Membuat orang yang memandangnya tak jenuh.
"Bolehkah aku pergi mengunjungi Nisa dan putraku," ucap Zein memecah keheningan.
.
.
Bersambung..setengahnya nanti dulu ya.. maaf