After Married

After Married
SUASANA CANGGUNG DI SEKOLAH



Entah kenapa dua makhluk tadi kalau bertemu tidak pernah akur sedikitpun. Yo yang memang mempunyai sikap jahil sangat kontras denga sifat Sheril yang kemayu dan cerewet.


Sepanjang perjalanan menuju lantai bawah, bahkan senyuman yang tadi ramah, kini telah berubah dengan omelan sepanjang jalan.


...***...


Ruangan Yo.


"Lo kira dengan semua akal bulusmu, lo bisa deketin kakak gue, ya gak bakal lah. Sayang sekali kamu mencintai suami orang lain," batin Yo sambil membolak-balikan berkas yang sedang ia kerjakan.


Ia pun sudah melupakan kedatangan Sheril barusan, dan ia lebih memilih berkutat dengan tumpukan berkas dari perusahaan Nisa sekaligus perusahaan Fadhil.


"Ckckck, mereka yang liburan, gue yang ketimpa sialnya. Mana tugasnya banyak sekali, hadeh ..."


Sesekali ia tampak mengomel. Rasanya ia ingin menarik kembali ucapannya pada Fadhil tentang usulannya untuk melakukan honeymoon.


"Waduh, mana jam makan siang harus jemput Zi pula... arrgghhhh.... "


Saking kesalnya ia pun mengacak-ngacak rambutnya. Bersamaan dengan itu pintu ruangannya kembali terbuka. Bukannya melihat ia malah mengomel duluan.


"Napa balik lagi sih," gerutunya.


Office boy yang membawakan secangkir kopi lengkap berserta camilannya menjadi kikuk dan diam di tempat.


"A-anu Pak, saya hanya ingin mengantarkan kopi pesanan Bapak," ucapnya sedikit ragu.


Maklum office boy yang berada di ruangan Yo adalah karyawan baru. Baru pertama bekerja saja sudah mau kena omel, sial banget deh, batinnya.


Yo yang menyadari dirinya salah berucap segera menengadahkan wajahnya memandang siapa yang datang. Ia pun jadi tergelak dan malu akan kelakuannya barusan.


"Maaf, aku kira tamu yang barusan datang."


Si office boy hanya tersenyum menampilkan deretan giginya tanpa mau bergerak. Lalu setelah kesadarannya kembali ia pun baru maju ke depan meja Yo.


Ia pun segera menaruh kopi dan camilannya itu. Lalu sesudahnya ia pun permisi.


"Terimakasih," ucap Yo.


Office boy tadi mengangguk dan tersenyum, lalu ia benar-benar permisi dari ruangan Yo.


"Hhhh, sepertinya aku juga butuh refreshing," batin Yo sambil menyeruput kopinya.


Ia pun berantai sejenak sambil memakan camilan yang dibawakan office boy tadi. Sesekali ia pun membuka akun media sosialnya, siapa tau ia bisa kenalan dengan cewek-cewek cantik kan lumayan, batinnya.


.


.


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


...Di sekolah Zi....


Baru beberapa jam yang lalu berpisah dengan kedua orangtuanya membuat Zi kangen. Apalagi ia akan ditinggal selama kurang lebih satu minggu disana. Huwaaa ... rasanya ia ingin berteriak saat itu juga.


Alapagi Sharen sejak tadi terus menebar pesona padanya. Ia bahkan sampai bergidik ngeri membayangkan jika Sharen dewasa nanti apakah sifatnya akan berubah.


Baginya jika ia terus seperti itu bukannya membuatnya tertarik tetapi semakin membuatnya ilfiil dan kurang nyaman dengannya. Maklum saja Zi paling anti dengan cewek centil.


Baginya cewek cantik itu akan bersikap anggun dan sedikit jual maha. Ia bahkan tidak mungkin mempunyai sikap centil dan suka tebar pesona seperti sikap Sharen.


Untung saja jadwal di sekolahnya hari ini tidak terlalu padat, sehingga waktu untuk bertemu dengan Sharen akan semakin sedikit. Ia pun berharap pamannya tidak telat untuk menjenguknya kali ini.


Ia ingat betul kalau pamannya itu mempunyai sikap pelupa dan sering datang terlambat. Hal itu bisa ia simpulkan dari kebiasaan pamannya yang suka datang terlambat saat mendapat undangan jamuan makan dari ibunya, Nisa.


Entah kenapa ia bisa menjadi asisten sekaligus adik angkat ayah sambungnya. Imajinasi Zi belum bisa menebak teka teki itu sampai sekarang. Tetapi ia pun tak mau ambil pusing dengan hal tadi.


Keinginannya saat ini adalah jangan sampai Yo datang terlambat dan membuat ulah di sekolah. Kalau sampai hal itu terjadi, Zi tidak akan memaafkan kecerobohan pamannya itu.


Sedangkan di sudut lain, tentunya dari meja belajarnya Sharen terus memandangi wajah Zi dari sana. Andai Zi tidak bersikap ketus padanya ia pasti akan lebih bisa fokus pada pelajarannya. Sayangnya setiap kali bertemu bukannya ramah tetapi seolah Zi alergi terhadap keberadaannya.


Hah, bagaimanapun sikap Zi tidak akan pernah merubah rasa cintanya pada Zi.


"Zi, i love you forever," ucapnya dari meja belajarnya.


Sedangkan Zi tiba-tiba saja merasakan atmosfer di sekelilingnya telah berubah. Ia pun mencoba menoleh dan benar saja, Sharen telah tersenyum padanya saat itu. Ia pun memamerkan deretan gigi putihnya pada Zi.


"Astaghfirullah, lama-lama berada di kelas aku bisa gila," batinnya lalu ia pun kembali fokus pada pelajaran di depannya itu.


"Hadeh, kenapa aku pake nengok segala sih tadi?"


Ia pun menyesali kelakuannya barusan.


...~Bersambung~...


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAKπŸ™πŸ˜Š...