
..........................
"Kalau tidak salah namanya Pak Fadhil."
Lalu seketika raut wajah dokter Richard berubah menjadi sedikit lebih rileks.
"Baiklah tak apa, tapi aku mohon jangan katakan hal ini pada Nisa dan keluarganya yg lain."
"Ok." jawab dokter itu, kemudian ia pun keluar dari ruangan praktek dokter Richard.
⚘ Beberapa saat kemudian
Sesudah beberapa kali Nisa meminta tolong Fadhil untuk menemaninya jalan-jalan di sekitar ruang perawatannya, tiba-tiba rasa sakit luar biasa terasa pada perutnya, ia juga tak bisa menahannya lagi.
Cenut ... cenut ... cenut ... senep
Cenut ... cenut ... cenut ... senep
Begitulah yg ia rasakan dari tadi. Nyeri yg menjalar disekujur punggungnya pun lebih terasa dari yg tadi. Tulang-tulangnya terasa sakit semuanya.
Lalu Fadhil segera menggendong Nisa dan membawanya masuk ke dalam ruangannya. Beberapa saat kemudian rasa sakitnya hilang. Lalu ia bisa bercakap-cakap lagi dengan Fadhil. Kehadiran Fadhil saat itu cukup membuatnya lupa pada sakitnya. Tapi saat asyik bercakap-cakap, tiba-tiba air ketubannya pecah.
Nisa yg mempunyai firasat kalau air ketubannya pecah segera meminta tolong Fadhil untuk memanggilkan suster dan dokter. Fadhil pun segera memencet tombol yg ada disana.
Beberapa menit kemudian suster datang dan mengechek kondisi Nisa, lalu ia meminta ijin untuk memanggil dokter Wenny yg akan membantu proses kelahiran Nisa.
Suster itu pun segera memanggil dokter Wenny di ruang piket.
Tok
Tok
Tok
"Permisi dok, maaf dokter Wenny, sepertinya ibu Nisa sudah mengalami pembukaan lengkap, air ketubannya juga barusan pecah." Ucap salah satu suster yg ke ruangan dokter jaga untuk memanggil dokter Wenny.
"Baik, aku akan segera kesana." Ucapnya dengan segera.
Waktu sudah menunjukan dini hari, beruntung saat itu, ia masih bertugas di rumah sakit, kebetulan ia sedang bertugas piket malam ini.
Sedangkan kepanikan sedang terjadi di ruangan perawatan Nisa.
"Ada yg bisa aku bantu Nisa?" ucapnya khawatir karena sedari tadi Nisa kelihatan sekali menahan sakitnya. Sedangkan Fadhil tak bisa berbuat apa-apa karena salah satu tangannya dipegang erat Nisa, sedangkan peluh juga keluar dari dahinya saat melihat Nisa sedang menahan kesakitan, tapi Nisa tak mau membuat Fadhil panik.
Memang saat Nisa merasakan kontraksi karena bertambahnya proses pembukaan pada jalan lahir bayinya tadi, kebetulan Fadhil berada tepat disamping kanan brankar Nisa. Jadi ialah orang pertama yg panik sekaligus berhasil memanggil suster.
"Mas sakit ..." Rintihnya tak tertahankan lagi.
"Bagian mana yg sakit?" Tanya Fadhil yg sudah ikut-ikutan panik luar biasa.
Braakk, dokter Wenny pun masuk disusul suster lainnya.
"Permisi pak, saya mau memeriksa istri anda sebentar." Ucap dokter Wenny sesaat ia sampai di samping kiri brankar Nisa.
Fadhil pun memberi ruang untuk dokter Wenny, tetapi tangan Nisa tak mau melepaskan tangannya.
Dokter Wenny pun hanya tersenyum dan lalu ia menyuruh Nisa untuk menekuk kedua kakinya agar memudahkan saat ia memeriksanya.
"Permisi ya bu," Ia pun menengok dan memeriksanya dengan seksama.
"Pembukaannya sudah lengkap bu, sekarang ibu ikuti instruksi saya ya!"
"Tarik nafas yg panjang dan lepaskan sesuai instruksi saya."
"Jangan menutup mata ya bu, pak mohon bimbing ibu Nisa agar ia tak menutup matanya saat mengejan nanti." Terang dokter Wenny.
Fadhil yg panik pun hanya mengangguk.
Dokter Wenny pun memulai aksinya. Sedangkan Nisa merasakan seluruh tulang-tulangnya sudah remuk berantakan. Rasanya sudah tidak bisa didefinisikan lagi saat itu.
"Kita mulai ya bu!" Ucap dokter Wenny. Nisa pun mengangguk perlahan. Diikuti Fadhil yg ikut-ikutan mengangguk. Para suster pun tersenyum melihat kedua pasien didepannya tersebut.
"Hemmm ...."
"Uftttt ...."
"Sakit mas ...." rintih Nisa.
Dokter Wenny pun mengambil gunting untuk memperlebar jalan bayi.
"Kreeettt ... wrekk ... wreeekkkk ...." suara gunting saat menyobek jalan lahir sang bayi.
Fadhil yg mendengarnya merinding seketika. "Apa itu tadi yg digunting?" pikirannya berputar-putar saat itu, membayangkannya pun ia tak bisa. Karena ia memang belum mempunyai pacar atau istri, mana mungkin ia tau area itu?
"Terus bu ... ayo ... kurang dikit lagi ... sudah kelihatan kepala bayinya!" Ucapnya dengan penuh semangat.
"Hemmm ... hifttt ... bismillahirrohmanirrohimmmmmm ..." Nisa pun mengejan dengan kuat dan panjang.
"Oek ... oek ... oek ..." suara bayi laki-laki memecah seisi ruangan itu.
Peluh sudah bercucuran dari dahi Nisa, nafasnya pun masih terengal-engal.
Sedang kedua tangan dokter Wenny memegang seorang bayi laki-laki yg masih berselimut darah segar. Fadhil dibuat takjub akan kejadian saat ini.
Ia pun segera menyerahkan bayi itu dalam dekapan Nisa. Sedangkan ia segera memotong ari-ari bayi dan masih membersihkan jalur bayi tadi. Tak lupa ia juga menjahitnya kala itu.
Saat melihat jarum dan benang, Fadhil sudah berinisiatif memunggungi Nisa, agar ia tak melihat apa yg dilakukan dokter itu.
"Permisi ya bu, aku jahit dulu." Ucap doktee Wenny yg terang-terangan.
"Dijahit???? apa pula yg dijahit itu?" Fadhil pun bergidik ngeri membayangkannya.
Srut .. srut ... srut ....
Srut ... srut ... srut ....
Bunyi jarum, benang dan kulit beradu dengan baik saat dokter Wenny melakukan tugas penutupnya saat ini.
"Auuwww ... " rintih Nisa.
"Dokter sialan, kenapa g pake obat bius si, sakit tau ..." gerutu Nisa yg tak tahan saat dokter Wenny menjahit jalan lahir bayinya tadi.
Meskipun bayinya sudah lahir, tetapi sepertinya kebiasaan cerewet Nisa saat hamil tidak ikut hilang.
Oh ya, memang benar tadi sebelum menyobek jalan lahir, ia sudah menyuntikan obat bius, makanya Nisa tak merasakan sakit, tapi entah kenapa saat dokter Wenny menjahit sakitnya luar biasa perih. Mungkin efek obat biusnya sudah hilang, makanya rasa sakitnya sudah terasa. Mungkin juga dosisnya sangat kecil jadi saat proses jahit menjahit terasa nyeri sekali di bagian itu.
Setelah dokter Wenny menyelesaikan tugas jahit menjahit, dia pun segera mengambil bayi dalam dekapan Nisa untuk dibersihkan dengan lebih seksama. Tadi ia memang langsung mendekapkan ke tubuh Nisa, agar ia rileks dan mengalihkan perhatian Nisa saat dijahit. Tetapi nyatanya hal itu tak mengurangi rasa sakit yg dialami Nisa.
Memang benar, sesudah bayi lahir maka akan dilakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) agar bayi dan ibu bayi memiliki kedekatan batin, dan memudahkan di bayi untuk dapat menemukan pu***ng ibu, agar nantinya dapat menyusu dengan lebih leluasa. Inisiasi menyusui dini (IMD) adalah tahapan paling penting untuk dilakukan ibu dan bayi setelah persalinan.
IMD adalah proses memberikan ASI sesegera mungkin pada si kecil dalam 30-60 menit setelah kelahirannya. IMD dapat memudahkan proses menyusui untuk ke depannya, terutama saat ingin memberikan ASI eksklusif.
~Bersambung~
.
.
.
.
.
ASSALAMU'ALAIKUM
TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA... BAIK LIKE, KOMEN , FAVORIT ATAU GIFT ... MAKASIH BANYAK SEMUANYA 🙏😊
SEMOGA ALLAH MEMBALAS KEBAIKAN KALIAN SEMUA..AAMIIN