After Married

After Married
CEMBURU



...Ketika hati dibakar cemburu...


...Kecewa, sakit hati...


...Sungguh terasa di dalam jiwa...


...Ingin berteriak,...


...Menangis,...


...Nafas tercekat,...


...Semua rasa tumpah ruah di dalam dada...


...Oh Tuhan,...


...Perasaan apa ini...


...Kenapa baru aku sadar...


...Aku telah jatuh cinta padanya...


...Rasanya nyeri dan sakit itu terasa menusuk...


...Saat ada orang lain menyentuhnya...


...Aku sungguh tidak rela...


...Melihat kemesraan mereka di depan mata...


.


.


"Oh no, sejak kapan aku mencintainya?"


Pertanyaan konyol itu seketika muncul di kepala Zivanna ketika melihat Kenzo berpelukan dengan seorang gadis yang seksi di sebuah cafe. Memang awalnya mereka janjian bertemu, tetapi apa yang didapatnya kali ini sungguh membuatnya muak seketika.


Melihat teman, sekaligus orang yang ia cintai memeluk wanita lain sungguh membuat hati Zivanna terbakar api cemburu.


Meski ini bukan pertama kalinya ia jatuh cinta tetapi saat ia benar-benar menambatkan cintanya pada seseorang, entah kenapa Tuhan memberinya ujian yang berat untuknya.


Sebagai wanita biasa tentu ia akan merasa sangat kesal jika melihat hal seperti itu. Lagi pula ini bukan di luar negeri, yang mayoritas penduduknya masih menghormati adat ketimuran.


"Betapa mesranya mereka berdua, bod*h kamu Zi..." umpat Zivanna pada dirinya sendiri.


Dengan perasaan kesal ia pun menjejakkan kakinya ke lantai, nafasnya begitu memburu, amarahnya sudah berada di ubun-ubun. Tak bisa membendung lagi amarahnya ia pun lebih memilih pergi daripada bertemu Kenzo dan wanitanya.


Zivanna lalu bergegas menuju parkiran mobil, setelah sampai ia segera masuk mobil dan meluapkan emosinya.


Kerinduan yang sedari lama ia pendam pada Kenzo, kini sudah menguap entah kemana. Ia pun memukul-mukul stir kemudinya lalu segera menginjak gas mobilnya agar secepatnya melaju meninggalkan cafe si-alan itu.


"Dasar cowok nyebelin, manis di mulut doang, nyatanya sama saja."


Entah kenapa di saat dirinya sudah mau berubah menjadi wanita baik-baik ada saja hambatan yang menderanya. Kini Zivanna lebih memilih menenangkan dirinya di sebuah taman di tengah kota.


.


.


Kenzo masih saja melirik arloji yang menempel di salah satu pergelangan tangannya. Ia begitu gelisah karena Zivanna belum datang. Makanan yang dipesannya pun kini sudah dingin.


Sedangkan Sheril masih setia menemani Kenzo untuk menunggu temannya datang. Dia juga ikutan bosan, terbukti ia masih mengaduk-aduk makanannya.


"Sudah kamu telepon belum?" tanya Sheril tidak tega melihat Kenzo kebingungan.


Ia pun menggeleng perlahan. Sebenarnya Sheril masih ada janji untuk bertemu dengan sahabatnya, tetapi ia juga tidak tega meninggalkan Kenzo sendiri. Apalagi ia belum terlalu tau akan seluk beluk ibu kota.


"Bagaimana kalau kamu menelponnya?"


"Ini bukan kebiasaanya, ia kalau sudah berjanji pasti akan menepatinya."


"Hmm, ya sudah, kalau begitu kamu makan dulu makananmu. Nanti kalau dingin tidak akan enak."


"Ta-tapi ..."


"Kalau tidak percaya ya sudah."


Daripada berdebat Sheril lebih memilih memakan makanannya.


.


.


FLASH BACK ON>>>


"Hallo sayang ..."


"Hallo juga sayang ..."


"Aku boleh minta waktumu kah?"


"Untuk apa?"


"Untuk bertemu dong."


"Ha-ah, jangan ngaco deh."


"Aku ga bohong kok, aku sekarang sudah di Indonesia kok."


"Are you serius?"


"Iya, aku serius, makanya pengen ngajakin dating bersama, bagaimana kamu mau kan?"


"Oke, nanti malam aku jemput kamu atau?"


"Gak usah, kita langsung ketemu disana aja yuk."


"Oke, gas keun."