After Married

After Married
CEMBURU



Nisa pun sangat senang mendapatkan boneka tersebut. Karena biasanya kan cowok suka perhitungan kalo disuruh beliin ceweknya boneka. Tapi Zein berbeda, Nisa jadi tambah menyukainya.


πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ


Mereka pun kembali melanjutkan rencana berbelanja mereka. Kebetulan Fadhil saat itu mengantar temannya untuk membeli ponsel di mall tersebut dan tak sengaja melihat Nisa yang bergandengan tangan dengan seorang pria tampan dan mereka terlihat akrab sekali.


Fadhil merasakan udara disekitarnya berubah menjadi panas, padahal tadinya udara di mall terasa dingin. Teman Fadhil yang sadar saat Fadhil berhenti berjalan, segera menghampirinya.


"Fadhil, hallo ... kamu ngapain berhenti disitu, ayo katanya mau nganter aku beli HP. "


"Oh iya, bentar bro, tali sepatu gue lepas, gue benerin dulu ya ..." Kilahnya, untung saja tali sepatunya beneran lepas.


Temannya langsung melihat ke arah bawah dan benar dilihatnya salah satu tali sepatu Fadhil ada yg terlepas.


"Cepet buruan benerin ..." pintanya.


"Ok ..." jawab Fadhil dengan cepat.


"Sial, jadi kehilangan jejak Nisa kan jadinya," guman Fadhil dengan menahan amarahnya.


Ya benar saja, saat temannya datang dan menegurnya, saat itulah Nisa sudah berlalu dengan pria tadi.


Sesudah itu Fadhil pun mengikuti temannya yang sudah berjalan duluan. Lalu sampailah mereka di counter yang menjual aneka jenis HP keluaran terbaru.


Pelayan counter tersebut menghampiri mereka berdua, dan menanyakan apa yang sedang mereka cari.


Setelah sekian lama memilih, teman Fadhil pun segera memilih sebuah Hp terbaru keluaran merk S**s**g.


Disaat bersamaan ternyata Nisa juga menuju konter tersebut karena tadi dipaksa Zein untuk mengganti HP-nya.


Dan dengan terpaksa ia pun mengikuti arah kaki Zein.


"Kalo dilihat-lihat kak Zein makin tampan aja," batin Nisa yang tak berani berterus terang.


"Zein yang sedari tadi sadar karena terus dipandangi Nisa ahirnya menoleh ke arah Nisa.


"Waduuuh ... ketauan deh ..." batinnya.


"Ada apa Nisa sayang?"


"Jadi milih yang mana HPnya?"


"Aku bingung kak ..." jawab Nisa jujur.


"Ok mba, bungkus aja HP keluaran yang terbaru dan terlengkap fiturnya." Pinta Zein pada petugas counter.


"Ga usah kak, beneran deh, aku bilang 'ga usah ya 'ga usah ..." ucapnya kesal sambil menjejak-jejakkan kakinya di lantai seperti anak kecil.


Bukannya marah Zein malah semakin gemas akan tingkah laku Nisa.


Ahirnya pelayan toko kembali memastikan


"Maaf mas, ini jadi engga ya?"


"Jadi mba ... bungkus aja!"


"Engga mba ..."


Jawab mereka bersamaan. Mbak pelayan toko semakin bingung dibuatnya.


"Jadi mba ..." jawab Zein.


"Ok mas ..." jawab pelayan toko.


"Wah ganteng-ganteng baik hati pula, aku mau dong jadi pacarnya," batin pelayan toko tersebut.


"Ga usah kak, HP Nisa masih bagus kok!"


"Nisa sayang, udah janji kalo hari ini 'ga akan nolak semua pemberian aku kan?"


"I-iya ... tapi ..."


"Ga ada tapi-tapian, titikk!!!!" Zein makin menekankan kata-katanya pada Nisa.


Sebenarnya Nisa 'ga terlalu suka dibeli-belikan barang sama orang lain, karena ia tidak mau mempunyai hutang budi terhadap orang lain.


Setelah pelayan toko menyerahkan bingkisannya, Zein membayar tagihannya, lalu mengajak Nisa untuk makan siang di Food Court terdekat.


Dalam perjalanan, Nisa makin menunduk dan Zein menghentikan langkahnya.


"Kamu kenapa Nis?"


Nisa hanya geleng-geleng tanpa menjawab pertanyaan Zein.


Zein kemudian menangkup wajah Nisa dengan kedua tangannya, "Lihat wajah kakak ..."


Ahirnya kedua manik mata mereka bertemu satu sama lain.


Deg ... deg ... deg ...


"Sialan, kenapa ingin sekali aku menikmati bibir itu lagi ..." umpat Zein dalam hatinya.


Nisa masih menatap wajah Zein dengan seksama.


"Kenapa kak Zein terus menatapku?" batin Nisa.


"Eits ... kenapa semakin dekat si ..." Nisa reflek mendorong tubuh Zein biar menjauh.


Zein tersadar akan kelakuannya, "Maaf Nis ..."


"Ayo kita cari makan siang," ajaknya untuk mengalihkan situasi yang canggung tadi.


"I..i..iya."


Di tempat lain


Fadhil yang terus mengamati Nisa dan seorang pria tadi begitu gelisah. Apalagi melihat caranya sangat manis saat disamping Nisa membuatnya cemburu. Ia terus saja mengepalkan tangannya saat tangan pria itu menangkup wajah Nisa tadi.


"Hfffttt, sialan ... siapa pria tadi yang bersama Nisa?" umpat Fadhil dalam hatinya.


Memang sedari tadi ia terus memperhatikan Nisa saat tau ada dia di konter HP itu. Temannya yang baru sadar kalo sedari tadi Fadhil melihat sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Hei Bro, dia siapa? mantan loe atau pacar loe?"


Fadhil menoleh, "Bukan!!!"


"La trus kenapa elu kayaknya marah melihat mereka bermesraan?" tanyanya lagi.


"Siapa bilang!" sanggahnya.


"Ya gue lah, masa nenek loe ..." ejeknya.


"Kampret luv..." teriak Fadhil dan segera berlari mengejar temannya yang sudah lari karena takut dikasih bogem mentah dari Fadhil.


Sedang temannya sudah ngacir sambil terus mengejeknya.


Food Court


"Kak, nanti jadi balik?" tanya Nisa memecah keheningan.


"Iya, Nisa keberatan?"


"Kalau boleh jujur, ingin banget bilang iya," jawabnya sambil mengaduk-aduk es jeruknya.


"Kalau gitu kamu pindah kerja aja, bareng aku ..."


"Emang bisa?"


"Bisa lah, kalo ada lowongannya ..."


"Mm ... tapi kan Nisa baru aja lolos magang dan baru diangkat jadi karyawan tetap disini."


"Emang bisa? lagian posisi kakak disana udah enak lo, kan sayang kalo harus pindah dan memulai lagi dari nol."


"Mm ... tapi kalau deket Nisa pasti kakak bisa memulainya lagi ... asal ..."


"Asal ... Nisa mau menjadi istri kakak."


"Aaa-apaan si kak, gak lucu tau ...."


"Serius Nisa ..."


"Will you marry me Nisa?"


"What ...?"


Nisa dibuat kaget dengan pertanyaan kak Zein yg secara tiba-tiba, sampai ia pun memelototkan kedua matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar.


Zein malah semakin gemas dibuatnya, lalu ia pun mengulang pertanyaan yang sama lagi.


"Annisa Faiha will you merry me?"


Nisa yang semakin bingung malah membuatnya bergerak tak beraturan, dan karena memang ia belum siap saat ini makanya ia menjawab..


"Yes ..."


"Really?"


"But not now, wait 2 more years, do you want to wait for me." Jawab Nisa penuh ketegasan.


"Ok ... I'll be waiting for you, thank you honey." Ucapnya sambil menciumi punggung tangan Nisa yang sudah sedari tadi ia genggam .


Nisa sungguh tak percaya dengan yang diucapkannya tadi. Tapi memang begitu isi hatinya, ia tidak bisa berbohong kalo untuk saat ini ia belum siap menjadi istri, tapi mungkin dua tahun lagi ia baru siap menjalani hubungan yang lebih serius.


Lagi pula Zein orang yang baik, selama satu sekolah dulu, ia tidak mempunyai catatan buruk di sekolah. Dan ia juga tau penyebab retaknya hubungan Zein dengan temannya dulu lebih tepatnya pacar Zein, karena ia yang dikhianati. Bukan Zein yang menghianati pacarnya. Bahkan Zein terbukti orang yang setia.


Dan selama menjalani hubungan LDR dengannya dia masih bisa menjaga sikap dan dirinya. Padahal kalo dilihat-lihat wajah Zein terbilang cukup tampan dan suaranya pun menenangkan.


Sungguh bersanding dengannya membuat Nisa nyaman. Apalagi selama ini Nisa belum mempunyai hubungan dengan siapapun.


Fadhil yang sudah keluar dari mall, mengambil telponnya dan menelpon no Nisa. Ia benar-benar terbakar api cemburu saat ini. Dan ia mau menjalankan aksinya sekarang.


Dret ... dret ... dret ...


Nisa yang tau HPnya bergetar, meminta ijin buat mengangkat telponnya pada Zein.


"Hallo ..."


"Hei Nisa ...."


"Hai kak Fadhil, ada apa mencari Nisa?"


"Emm ... itu anu ... kamu dimana?"


"Sedang keluar kak, kenapa?"


"Aku boleh nitip sesuatu ga?"


"Apa itu kak?" tanyanya memastikan.


"Karena kakak lagi 'ga enak badan, boleh 'ga kalau aku nitip dibelikan makanan?"


"Oh, iya gak apa-apa, nanti Nisa belikan, emangnya kakak sakit apa?"


"Mm belum tau, tapi badan kakak lemas sekali."


"Sudah periksa belom?"


"Belom ..."


"Atau kakak mau aku panggilkan Yogi biar bisa ngantar kakak berobat."


"Ga usah, biar nanti sehabis makan kakak minum obat aja, pasti besok udah enakan."


"Beneran gak apa-apa? ada lagi yang bisa Nisa bantu?"


"Enggak itu aja, maaf ya kalo merepotkan Nisa."


"Gak kok kak, santai aja, kakak udah Nisa anggap sebagai kakak Nisa kok."


"Ya dah, makasih Nisa."


"Sama sama."


Nisa pun mematikan panggilan dari Fadhil. Sedang Zein yang memperhatikan Nisa dari tadi ingin sekali bertanya padanya siapa yang nelfon.


"Siapa Nis?"


"Kak Fadhil, dia temannya Yogi."


"Ada apa mencarimu?"


"Tadi dia tanya aku dimana trus nitip dibelikan makanan."


"Emang dia sering gituin kamu?" ucapnya sedikit cemburu.


"Enggak kok, baru kali ini aja ..."


"Ya dah, jangan sering-sering baik ama cowok selama 'ga ada aku," pintanya posesif.


Nisa tersenyum, "Baik kak Zeinku sayang ..."


"Mm satu lagi,cjangan panggil kak dong, ganti honey kah, atau apalah, lagian aku juga belum tua-tua amat kan?"


"He he he ... iya si, trus enaknya apa ya?"


"Sayang aja deh."


"Iya sayangnya Nisa ..." jawab Nisa sambil mencubit-cubit pipi Zein yang sedang manja.


Tanpa terasa siang itu berlalu dengan cepat. Karena takut Fadhil menunggu lama, ia pun mengirim pesan kalo Nisa pulang sore, jadi 'ga bisa bawa makanannya sekarang dan saat ia menawarkan biar Yogi yang membelikannya malah ditolak.


Ya udah deh, ahirnya Nisa kembali melanjutkan acaranya bersama Zein, karena sore nanti ia harus berpisah dengannya dan tidak tau lagi kapan bisa bertemu lagi.


Lalu ia pun kembali berkencan dengan Zein dan melewati siang itu dengan bahagia.


Sedang Fadhil di seberang sana sedang kesal, karena Nisa sedang berduaan dengan pria tadi. Rencana yang ia buat untuk mengganggu momen Nisa gagal begitu saja.


"Mungkinkah itu pacar Nisa?" batin Fadhil yang sedang cemburu siang itu.


"Baiklah, kita mulai permainannya dari sekarang."


~ Bersambung ~


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAKπŸ™πŸ˜Š...