
Dan kejadian tadi adalah kenangan manis selama ia mengunjungi Nisa.
Dan besok adalah weekend, artinya besok sore ia harus kembali ke kota J untuk kembali bekerja.
π~π~π~π~π
Ahirnya setelah nonton dan makan malam, mereka berdua segera pulang. Diperjalanan Zein pun menyampaikan kalau besok sore ia sudah harus kembali ke kota J. Ia pun meminta maaf karena ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lama-lama.
"Maaf Nis, besok kak Zein harus segera balik ke kota J, karena cuti kakak sudah habis."
Nisa mendongakkan kepalanya yang semula bersandar di punggung Zein. Ia agak merenggangkan kedua tangannya yang tadi mendekap erat di pinggang Zein.
"Kamu kenapa Nis? kecewa dengan kakak?"
"Engga gitu kak, rasanya kok cepet banget ya? apalagi sebentar lagi kan Yogi juga meninggalkan Nisa di kota ini." Seru Nisa yang sedari tadi merasa tidak nyaman setelah Zein berpamitan padanya.
"Maaf ..." Hanya itu yang sempat keluar dari mulut Zein.
Kalau disuruh memilih ia pasti akan memilih menemani Nisa di kota ini. Tapi apa boleh buat, ia hanya berstatus karyawan bukan pemilik perusahaan kaya di novel-novel.
Setelah 30 menit perjalanan, sampailah mereka di kost Nisa.
"Nis, apa kamu besok ada acara? maukah menemaniku di hari terahir kakak di kota ini?" tanya Zein penuh harap.
"Oya besok kan Minggu, he he he ... Nisa kok jadi pelupa waktu ya?" jawab Nisa grogi, lalu melanjutkan jawabannya "Iii-iya kak Nisa mau ..." ucapnya malu-malu.
"Ok, besok pagi-pagi kakak jemput ya, see you Nisa ..." pamit Zein melambaikan tangannya pada Nisa karena ia sadar ini sudah terlalu larut untuk jam malam seorang gadis.
"See you kakak ..." balas Nisa juga melambaikan tangannya.
Dan ia pun bergegas naik ke kamarnya di lantai dua. Zein pun kembali melajukan motornya ke hotel tempat ia menginap untuk malam terahir di kota J.
Kalau ia boleh memilih, ia tidak akan kembali ke kota J, tapi pekerjaannya amat penting dan ia sangat membutuhkan pekerjaan itu jika ia sungguh-sungguh ingin meminang Nisa nantinya.
Karena gaji yang ditawarkan di perusahaan itu cukup tinggi, dan fasilitas yang diberikan juga lumayan bagus dibanding perusahaan lainnya.
πNisa pov -
Sesampai dikamarnya ia segera mencuci mukanya dan tak lupa berwudhu, lalu melaksanakan sholat isya'. Sesudahnya ia pun tidur karena hari sudah malam.
Memang malam ini Nisa pulang pukul sepuluh malam. Karena kelelahan, ia pun langsung tertidur dengan nyeyak.
Sementara itu di tempat lain ...
πZein Pov -
Zein yang sudah sampai di hotel segera mengistirahatkan tubuhnya karena sangat lelah sore ini. Untung saja tadi siang dia sudah merapikan pakaiannya pada kopernya.
Jadi ia tinggal menyiapkan diri untuk acara kencannya esok hari.
Bayang-bayang Nisa sedari tadi terus saja menari-nari di kepala Zein. Bayangan saat ia dicium tanpa sengaja, trus saat ia menolong Nisa saat di copet.
"Ah sial ..." ia baru ingat luka di sudut bibirnya sedikit nyeri sekarang, ia pun mengambil obat seadanya dari tas ranselnya.
Ia mengoleskan salep pada lukanya tersebut. Tapi bayangan Nisa kembali hadir, sehingga membuatnya semakin merindukan kehadiran Nisa saat ini.
Andai saja Nisa sudah menjadi istrinya, pasti saat ini ia bisa bermesraan dengannya. Dan tentu saja yang mengobati lukanya adalah Nisa.
Ia tak menyangka kalo Nisa yang dulu adalah teman mantan pacarnya kini malah menjadi kekasih hatinya. Andaikan Nisa hadir lebih dulu saat itu, mungkin keadaanya akan jauh berbeda dengan saat ini.
Tapi semua yang terjadi sudah digariskan oleh takdir, dan manusia hanya bisa mengikuti jalannya takdir tersebut.
Setelah cukup lama membayangkan Nisa, ahirnya Zein pun ikut tertidur.
Esok harinya ...
Dret ... dret ... dret ...
HP Nisa berbunyi. Nisa yang masih capek segera mencari-cari asal suara tersebut meskipun matanya belum terbuka.
Setelah ketemu dengan barang yg dicari, kedua bola matanya dikucek-kucek agar bisa lebih jelas melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini, lagian ini kan weekend pikirnya.
"Kak Zein ..." pekiknya ....
"Hallo kak ..."
"Hai Nisa, aku udah dibawah ni ..." ucap Zein yang sudah hampir 10 menit menunggu Nisa didepan kostnya.
"Oh ya! tu-tunggu Nisa ya kak, 5 menit lagi Nisa turun ..."
"Ok tuan Putri ..."
Semua barangnya sudah siap di hotel. Dan kali ini Zein tidak ingin mengajak Nisa ke tempat yang aneh-aneh, dia cuma pengen ngajak Nisa berbelanja saja.
Sebenarnya rencananya hari ini ia dan Nisa akan berkencan di kota tempat kelahiran Nisa, tapi ternyata waktunya tidak cukup, maka ia ubah rencananya tersebut kali ini.
Bahkan ia membatalkan tiket keretanya dan mengganti dengan tiket pesawat yang akan lepas landas jam sembilan malam nanti.
Semua dilakukan demi gadis tercintanya ini. Uang bisa dicari, tapi kenangan bersama Nisa jauh lebih berharga dari apapun saat ini.
Setelah 5 menit Nisa pun muncul dan tak lama kemudian Zein melajukan motornya ke area mall terdekat.
Sampai mall ternyata kepagian, karena mereka datang jam sembilan pagi. Karena itu Zein dan Nisa pun sarapan terlebih dahulu di daerah dekat mall tersebut. Tentu saja motor mereka sudah terparkir di area mall tersebut.
Menuju tempat makannya saja mereka berjalan kaki dan sambil bergandengan tangan dan sesekali mereka bercanda, sungguh mesra bukan?
Ya saat-saat jalan berdua seperti ini sangat berkesan untuk mereka berdua apalagi ini kenangan manis sebelum ia meninggalkan kota ini.
Saat-saat seperti ini mungkin akan dirindukan Zein nanti setiba di kota J, begitu pula dengan Nisa yg merasa belum puas bertemu dengan Zein. Meskipun ia sudah melewati hari-hari bersama selama 3 hari ini, tapi semuanya masih kurang rasanya.
Ahirnya mall sudah dibuka, ia dan Zein melangkahkan kakinya memasuki area mall untuk berbelanja. Ia sudah mengatakan pada Nisa kalau hari ini Zein akan mentraktirnya belanja barang apapun yang Nisa suka.
Nisa memang tidak suka belanja, makanya ia sangat bingung kalo harus disuruh memilih. Tapi saat ia melewati toko boneka, ingin rasanya ia membeli boneka teddy bear yang bawa bentuk hati bertuliskan " I Love You."
Memang ukurannya sebesar ukuran manusia, tapi itu lucu sekali. Dan ia pun mengajak Zein untuk masuk ke toko tersebut. Dan ternyata didalam toko banyak sekali pilihan boneka didalam sana.
Ahirnya ada sepasang boneka yang mencuri perhatian mereka, yaitu sepasang boneka teddy yang saling berdekatan dan ada boneka teddy kecil di tengah seperti anak mereka.
"Kamu suka?" tanya Zein tiba-tiba berdiri di samping Nisa.
"I-iya, bolehkah aku meminta itu."
"Tentu saja ..." jawabnya pelan.
Ia pun segera menyuruh pelayan toko membungkus boneka itu dan segera membayar tagihannya.
Nisa pun sangat senang mendapatkan boneka tersebut. Karena biasanya kan cowok suka perhitungan kalo disuruh beliin ceweknya boneka. Tapi Zein berbeda, Nisa jadi tambah menyukainya.
~ Bersambung ~
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAKππ...