
........................
Dan terjadilah keheningan seperti tadi. Dari raut wajah Nisa sudah ditebak, bagaimana rasa hawatirnya pada suaminya tersebut. Fadhil yakin betul di kota ini mereka tak ada sanak family, dan mereka hanya berdua. Terbukti dari tadi tidak ada kerabat yang datang ke rumah sakit itu.
Karena merasa iba dengan kondisi Nisa, Fadhil pun mengajak Nisa untuk duduk, karena saat itu Nisa begitu kelihatan kecapekan dan terlihat menahan sesuatu. Wajahnya begitu pucat, tapi Fadhil tak bisa berbuat apa-apa selain menyuruhnya duduk.
"Kamu sakit Nis? Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Fadhil perlahan.
"Mm ... ga apa-apa mas, sekali lagi terimakasih sudah menolong suamiku." Ucapnya kembali.
"Sama-sama Nis, ayo duduk sebentar, maaf kamu kelihatan capek sekali soalnya, duduklah dahulu, atau mau aku panggilkan dokter?"
Nisa menggeleng, dan ahirnya menuruti permintaan Fadhil untuk duduk di kursi tunggu, tepat di depan ruang operasi.
Tiba-tiba Nisa memegangi perutnya yang sedari tadi kram, "Doakan ayah baik-baik di dalam sana ya sayang." Ucapnya sambil mengelus dengan lembut perutnya.
Fadhil terus memandanginya sedari tadi, ia menyadari ada sesuatu yang ditahan Nisa,
"Tapi apakah itu? Apakah dia mau melahirkan?" Gumamnya dalam hati. Lalu bagaimana ini?"
Sedangkan suaminya masih terbaring di ruang operasi.
"Nisa, beneran kamu 'ga papa? Aku panggilkan dokter ya? Wajah kamu pucat sekali." Ucapnya penuh rasa kegugupan, karena bagaimanapun Nisa pernah ada di dalam hatinya, bahkan sampai saat ini, sampai takdir mempertemukan kembali dengannya.
Tapi Nisa tetap saja menggelengkan kepalanya. Tapi entah kenapa calon anak di dalam perutnya tidak mau diajak kompromi. Semakin ia menahan, semakin ia rasakan tendangan yg kuat dari dalam sana.
"Aduh ..." keringat dingin mulai bercucuran, tangan Fadhil yang berada disisinya pun ikut ia cengkeram hebat. Fadhil ikut-ikutan panik. Bagaimanapun ia belum berpengalaman ketika melihat orang yang mau melahirkan.
"Mas, sakit ..." rintihnya kembali. Salah satu tangannya dia pakai untuk menyentuh lembut perutnya, salah satunya lagi masih ia gunakan untuk mencengkeram tangan Fadhil. Kedua orang itu sama-sama dilanda kepanikan luar biasa.
Tiba-tiba suster lewat mau menuju kamar operasi.
"Suster, maaf bisa minta tolong?" ucapnya sambil menahan sakit, akibat cengkeraman tangan Nisa semakin kuat.
"Iya pak" jawabnya sambil menghentikan langkahnya.
"Teman saya mau melahirkan?" ucapnya panik.
"Bapak ikut saya ya, maaf apa bisa minta tolong menggendong ibunya, karena disekitar sini tidak ada kursi roda."
Nisa yang samar-samar masih bisa mendengar percakapan keduanya, memandang Fadhil, "Kalau kamu keberatan, aku masih bisa berjalan kok." Ucapnya mencoba tenang sambil melepas cengkeraman tangannya.
Mereka pun ahirnya mengikuti arahan suster itu menuju ruang bersalin, tapi baru beberapa langkah, kontraksinya semakin terasa. Reflek tangan Nisa memegangi perutnya.
"Sakit ..." Ucapnya lirih, dan peluh semakin banyak mengucur dari keningnya. Fadhil pun panik dan tanpa menunggu persetujuan Nisa, ia pun menggendong Nisa dan mempercepat langkah kakinya menuju ruangan persalinan.
Sesampainya diruangan itu, ia pun segera memanggilkan dokter jaga. Fadhil dengan setia masih mendampinginya. Cengkeraman tangan Nisa tak dapat ia hindari. Ia pun sampai ngilu karenanya, apalagi melihat Nisa yang semakin kesakitan ia semakin panik.
Dokter Wenny pun datang ke ruangan persalinan, dan memeriksa kandungan Nisa. Perlahan ia pun menyuruh Nisa untuk mengangkat kedua kakinya untuk melihat sudah bukaan berapa.
Ada 2 suster yang menemaninya saat itu. Sebelumnya Fadhil meminta ijin keluar sebentar karena tak ingin mengganggu privasi Nisa. Lagipula ia bukan suaminya dan bukan siapa-siapanya.
Di dalam ruangan, dokter pun segera mengukur lingkar perut Nisa dan melakukan pengechekan detak jantung bayi. Ia juga menanyakan seberapa sering kontraksi palsu ia rasakan. Untung saja air ketubannya belum pecah.
"Maaf apa ibu sedang banyak pikiran?" tanya dokter tersebut pada Nisa.
Nisa mengangguk.
"Ini masih pembukaan 3 buk, masih ada 12 jam lagi menuju pembukaan penuh." Terang dokter tersebut.
"Tapi kenapa sakit sekali dok?" ucapnya sambil meringis dan ngilu, entah kenapa dari tadi perutnya tidak enak.
Dokter tersenyum, "Mungkin anaknya mau segera keluar menemui ayahnya? ibu yg sabar ya, saya panggilkan suami ibu diluar ya, biar bisa menemani ibu disini." Ucapnya sambil berpamitan.
Lalu dokter Wenny keluar ruangan dan menemui Fadhil yang sedang panik di luar ruangan, terlihat sekali kepanikannya karena sedari tadi ia mondar-mandir di depan ruangan tanpa menyadari dokter sudah keluar dari ruangan Nisa.
Fadhil tersentak dan menoleh ke arah dokter itu. "Bagaimana keadaannya dok?"
"Bapak tenang saja, istri anda masih mengalami pembukaan tiga, masih ada 12 jam lagi untuk mengalami pembukaan penuh, bapak bisa menemani ibu didalam agar ia bisa rileks menjalani prosesnya." Terang dokter itu panjang lebar.
"Istri?" gumamnya dalam hati. Tapi ia juga tak bisa menolak permintaan dokter itu, apalagi mengingat suami Nisa ada di ruang operasi.
"Oh shit ..." dia baru mengingat Zein masih berada di ruang operasi.
"Maaf apa boleh saya mengajak istri saya berjalan-jalan disekitar rumah sakit dok?"
"Oh tentu boleh pak, itu akan semakin bagus untuk mempercepat proses pembukaannya, tapi nanti satu jam sekali ia harus diperiksa suster untuk memastikan sudah sampai mana proses pembukaannya."
"Terimakasih dok."
"Sama-sama, oh ya disana ada kursi roda, bila ibu Nisa tidak kuat, jangan memaksanya untuk berjalan ya pak, didudukkan di kursi roda saja." Perintah dokter tersebut.
"Baik dok, terimakasih."
Lalu dokter tersebut berlalu dan tinggallah Fadhil disana, ia pun segera masuk ke ruangan Nisa.
"Bagaimana keadaanmu Nis?"
"Sakit mas, ma ... aaf aku malah merepotkanmu lagi." Ucapnya sambil tertunduk.
"Ga apa-apa Nis, kalau sudah enakan aku mau ke kamar Zein dulu ya."
"A ... aakuu ikut mas."
Fadhil menoleh, "Apa kamu kuat? apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu?"
"Aku sudah baikan mas, sakitnya sudah agak hilang kok, entah kenapa tadi sakit sekali, tapi sekarang sudah tidak terasa seperti tadi.
Tiba-tiba dari arah pintu, suster membawa kursi roda dan baju pasien.
"Maaf bu, ibu harus mengganti bajunya terlebih dahulu, agar saat nanti memudahkan saat melahirkan." Terang suster itu.
Nisa memandangi Fadhil. Fadhil pun mengiyakan, dan meminta ijin keluar ruangan agar memberi ruang untuk privasi Nisa.
Suster pun dibuat melongo, "Kenapa bukan suaminya yang membantu istrinya mengganti baju ya? apa mereka sedang marahan? jadi mengakibatkan ibu Nisa panik dan stress dan ahirnya mau melahirkan?"
Suster pun geleng-geleng sendiri. Nisa juga bingung melihat tingkah suster didepannya itu.
"Kenapa sus?"
"Eh ga apa-apa bu, suami ibu ganteng ya?" ucapnya asal, karena ketahuan sedang tidak konsentrasi sedari tadi.
.
.
.
...JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR DENGAN...
...LIKE...
...KOMEN ...
...FAVORIT...
...VOTE/GIFT...
...TERIMA KASIH 🙏...