After Married

After Married
KEMBALI



...Jika malam bisa menaburkan bintang untuk mempercantik kehadiran rembulan, maka aku pun bisa membuat dirimu lebih berharga dari segalanya....


...Jangan pernah sekalipun meragukan cintaku karena aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka akan cintaku....


...⚜⚜⚜...


.


.


.


Athafariz Radheya Fadhil, sebuah nama yang disematkan kedua orangtuanya padanya. Sedari kecil didikan yang diberikan kedua orangtuanya telah berhasil membuat dirinya selalu menomorsatukan keluarganya.


Sejak Nisa berhasil mencuri hatinya, sudah banyak rencana indah yang akan dilakukan jika ia berhasil mendapatkan cinta Nisa. Ia pun tak pernah menyangka jika ia bisa bersama kekasih hatinya. Tetapi ia sadar, akan datang banyak hal yang bersiap untuk menguji cinta mereka berdua ke depannya nanti.


Kini ia berdiri sendirian di balkon kamarnya. Udara malam yang berhembus semakin menusuk ke dalam dirinya. Membuat dirinya tersadar, selimut hatinya sedang terlelap ditemani mimpi-mimpi indahnya.


Beberapa saat tadi istri dan putranya telah tertidur lelap. Kini ia hanya memandang hambaran langit luas bertabur bintang di atas sana dengan hati yang gamang.


.


.


Tuhan, salahkah aku meragukan cintanya


Salahkah aku yang mulai cemburu


Cinta, jangan kau ajarkan kebencian padaku


Jangan buat ia pergi dari sisiku


Untuk saat ini ataupun jika waktunya tiba.


Aku hanya mencintaimu,


Untuk sekali ini saja, biarkan aku menjadi egois


Biarkan aku bersama dirinya


Sampai nafas kita benar-benar berhenti


Tolong jagalah dia hanya untukku


Terimakasih Tuhan kau sudah memberiku


Pendamping hidup yang luar biasa.


.


.


Kini dengan langkah berat, ia segera masuk ke dalam kamar. Berniat untuk tetap bisa terjaga agar ketika anak atau istrinya butuh bantuan ia bisa stay ON. Tetapi nyatanya Allah berkehendak lain.


Sesampainya di pembaringan, ia sudah terlelap dan masuk ke dalam mimpinya.


.


.


🍃🍃🍃🍃


Keesokan harinya.


Jika takdir telah tertulis sejak aku mulai dilahirkan, maka akan aku buat takdirku ke arah takdir Allah yang terbaik. Akan aku lakukan semuanya dengan cara-cara terbaikku, agar semuanya berjalan lancar.


Hari itu, kedua orangtua dan mertuanya akan meninggalkan rumah Fadhil. Sudah lebih dari satu minggu mereka tinggal, kini mereka harus kembali pada rutinitas harian mereka. Bergelut dengan pekerjaan harian yang tidak ada usainya.


"Nek, kakek, hati-hati di jalan ya, maafkan Zi yang tidak bisa mengantar kepergian kalian ke stasiun l," pamit seorang cucu pada kedua nenek kakeknya.


"Iya, gak apa-apa Cu, jaga kesehatan ibu dan adikmu selalu."


"InsyaAllah nek, kakek..."


Setelah beberapa saat berbincang dengan nenek dan kakeknya. Kini Zi adalah yang pertama diantar pergi ke sekolah dan meninggalkan rumah.


Setelah memastikan putranya pergi dengan selamat, maka kini Fadhil mengantar kedua orangtua dan mertuanya.


Tak ada kata yang terlintas ketika perjalanan menuju stasiun pagi itu.


Lalu lintas pagi itu berjalan dengan sangat lancar. Beberapa menit kemudian ahirnya mobil yang dikendarai Fadhil sudah sampai di stasiun. Setelah sampai, ia segera membantu membawakan beberapa barang mereka dan tentunya memastikan mereka satu tujuan.


"Fadhil, bapak dan ibu pergi dulu, jaga menantu bapak dengan baik ya."


Fadhil mengangguk, lalu kini tibalah giliran kedua mertuanya untuk berpamitan sekaligus berperilaku baik pada mereka.


"Jaga Nisa dan anak-anak ya, jangan sampai kamu membuat air matanya kembali jatuh."


"Iya Pak, siap."


Lalu mereka pergi dan tinggallah Fahdil yang menatap keberangkatan gerbong kereta api menuju kota tempat kelahirannya.